Ia mengenang betapa sulitnya perjalanan yang harus dilalui.
Advertisement
Asmujiono, warga Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, jadi salah satu warga Indonesia yang berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Everest. Ia menceritakan perjuangannya menaklukkan gunung setinggi 8.848 mdpl itu.
Advertisement
Tim Everest 1997
Saat bertugas sebagai anggota Kopassus, Asmujiono mendapat pengalaman berharga bergabung dalam tim Everest 1997. Tim ini dibentuk dengan misi mengibarkan bendera Merah Putih pada puncak tertinggi dunia. Sebelum terpilih sebagai anggota tim Everest 1997, Asmujiono harus bersaing dengan sejumlah personel Kopassus lain untuk membuktikan bahwa ia layak diberikan kesempatan menaklukan puncak tertinggi dunia itu.
Asmujiono menjadi salah satu anggota tim yang saat itu berjumlah 43 orang. Tim itu terdiri dari unsur Kopassus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan masyarakat sipil. Mereka diberangkatkan ke Nepal pada November 1996. Tim tersebut mendatangkan pelatih Anatoli Boukreev dan dokter dari Rusia, termasuk didampingi sherpa terbaik dari Nepal. Sebelum mendaki Everest, tim melakukan penyesuaian pada kondisi lingkungan untuk mengantisipasi hal-hal buruk terjadi saat pendakian.
Advertisement
Perjuangan
Tim besar yang terdiri dari 43 orang itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yakni Tim Utara dan Tim Selatan. Tim Utara beranggotakan enam orang, sementara Tim Selatan 10 orang. Pembentukan dua tim tersebut bertujuan untuk menaklukan Everest dari dua arah. Asmujiono yang saat itu berpangkat prajurit satu (pratu), bergabung dengan Tim Selatan bersama Sersan Satu (Sertu) Misirin dan Letnan Satu (Lettu) Iwan Setiawan. Dari 10 orang di Tim Selatan, hanya tiga orang tersebut yang dinyatakan siap mendaki puncak Everest.
Saat melakukan persiapan untuk pendakian Everest, Asmujiono bersama dua rekannya melakukan latihan perjalanan dari sejumlah titik kumpul (basecamp). Saat menjalani sesi persiapan tersebut, Asmujiono justru terkena gejala radang dingin atau frostbite. Cobaan itu tak membuatnya menyerah. Ia dan tim Everest 1997 menuju puncak tertinggi dunia dari basecamp 4 pada 26 April 1997 sekitar pukul 00.00 waktu setempat. Sebelum melakukan pendakian, Asmujiono sempat merasakan nyeri di punggung dan masalah pada tabung oksigen miliknya.
Advertisement
Peringatan
Asmujiono beberapa kali diperingatkan oleh pelatih dan sherpa untuk turun karena kondisi yang tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan. Namun, tekadnya bulat untuk mengibarkan Merah Putih di puncak Everest.
Saat itu, Asmujiono sempat berpikir jika ia turun dan tidak mampu mencapai puncak, hanya kegagalan yang ia terima. "Kalau meninggal, itu risiko melaksanakan tugas. Semboyan Kopassus, lebih baik pulang nama, daripada gagal tugas," ujar Asmujiono, dikutip dari Liputan6.com, Sabtu (18/8/2023). Ia bahkan sempat terpisah dengan Misirin dan Iwan Setiawan. Misirin awalnya berada di depan Asmujiono, namun kesulitan melanjutkan pendakian akibat kondisi yang berat. Sementara Lettu Iwan Setiawan terjatuh dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Advertisement
Capai Puncak
Asmujiono mengerahkan kemampuan terakhir untuk mencapai puncak. Ia sempat jatuh dan merasa kesakitan di kakinya. Asmujiono seperti hilang semangat pada saat terjatuh pada detik-detik akhir pendakian itu. Namun, pelatih dan sherpa di belakangnya, berteriak "Asmujiono, summit!" (puncak). Asmujiono berhasil mencapai Puncak Everest pada 26 April 1997, pukul 15.45 waktu Nepal.