Semasa hidupnya, kiai bernama lengkap Kholilurrohman ini dikenal tidak menyukai hal-hal duniawi. Sejak kecil Ra Lilur sering melakukan hal-hal yang tak dapat dicerna pikiran manusia biasa.
Advertisement
Ra Lilur merupakan putra dari Kiai Ahmad Tamyiz dan Nyai Romlah. Ibunya merupakan cucu Mbah Kholil Bin Abdul Lathif Bangkalan. Mengutip situs NU Online, meskipun lahir dalam keluarga yang kental dengan pesantren, Ra Lilur tidak pernah secara khusus nyantri di pondok pesantren.
Konon, ia pernah tinggal di sebuah pondok pesantren selama tiga bulan, namun selama itu ia mengisi hari-harinya dengan memancing, bukan mengaji.
Dikisahkan, Kiai Munstashor mengangkat Ra Lilur sebagai anak untuk pancingan agar bisa punya keturunan sendiri. Setelah mengangkat Ra Lilur, istri Kiai Munstashor hamil, kemudialan lahirlah Kiai Zubair.
Advertisement
Ra Lilur dikenal sebagai kiai nyentrik yang hidup penuh kesederhanaan. Mengutip Liputan6.com, ia lebih suka mengenakan kaus singlet daripada baju koko. Selain itu, ia memilih meninggalkan kediamannya demi hidup berpindah-pindah menumpang di rumah para santrinya.
Saat menghadiri undangan atau ada orang bertamu ke kediamannya, Ra Lilur sangat jarang menerima amplop yang disalamkan padanya. Padahal banyak orang sengaja menemui ke Ra Lilur dengan berbagai urusan. Ada yang ingin usahanya lancar, kehilangan sapi, hingga ingin sukses di dunia politik.
Mengutip situs syaichona.net, pernah ada seseorang yang ingin memberikan hadiah mobil kepada Ra Lilur, ia pun menolak halus dengan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mengemudikan mobil.
Ra Lilur meninggalkan kediamannya di kompleks pesantren Demangan. Ia memilih hidup berpindah-pindah dengan cara menumpang di rumah para santrinya.
Advertisement
Advertisement
Puluhan tahun lalu, Ra Lilur sengaja membakar Pesantren Syaikhona Kholil Demangan yang diasuh oleh kakaknya, Kiai Abdullah Schall. Konon itu adalah isyarat bahwa kelak pesantren akan maju pesat dan memiliki bangunan megah setinggi asap api waktu itu.
Benar saja, pesantren warisan Kiai Kholil itu berkembang pesat dan punya bangunan megah sebagaimana isyarat yang dikatakan Ra Lilur.
Sosoknya juga dikenal sebagai pengamal tirakat tingkat tinggi. Ia sering berdiam diri di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Bahkan, tak jarang ia bertapa di tengah lautan. Suatu hari, seorang nelayan merasa jaringnya menangkap mangsa besar. Nelayan itu telanjur senang, namun ia kaget bukan main saat mengetahui yang tertangkap jaringnya adalah sosok Ra Lilur.
Advertisement
Dikisahkan, Ra Lilur pernah dua kali tiba-tiba hadir dan naik panggung dalam acara di mana para kiai berkumpul. Di hadapan para kiai, ia menyampaikan keresahannya bahwa saat ini banyak kiai yang mulai terlena dengan kehidupan duniawi. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa manusia hidup di dunia hanya sementara dan tidak kekal abadi.