Kisah Kiai Madyani Ishak Tuban Lawan Belut Raksasa, Dapat Hadiah Ini dari Belanda
Merdeka.com - Pada tahun 1800-an, pemerintah kolonial Belanda berencana menjadikan Sendang Beron di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur sebagai waduk. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Namun, usaha pihak kolonial Belanda selalu gagal karena tanggul yang dibangun jebol terus-menerus. Rupanya penyebab jebolnya tanggul tersebut adalah seekor uling putih, sejenis belut raksasa berwarna putih.
Tak tinggal diam, pihak kolonial Belanda melakukan berbagai cara membinasakan uling putih tersebut. Namun, segala usaha yang dicoba selalu gagal, seperti mengutip dari buku Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony (2013).
Sayembara
Akhirnya, pemerintah kolonial Belanda mengadakan sayembara untuk membinasakan uling putih yang ada di Sendang Beron. Kiai Madyani Ishak terpanggil untuk mengikuti sayembara tersebut. Pertimbangannya, keberadaan waduk bakal bermanfaat bagi kebutuhan pertanian masyarakat sekitar Sendang Beron.
Kiai Madyani Ishak kemudian menyiapkan satu rakit yang ditarik oleh dua ekor kerbau untuk menarik uling putih dari dasar Sendang Beron. Kiai Madyani Ishak bertarung sekuat tenaga melawan uling putih hingga belut raksasa itu berhasil dibinasakan.
Setelah dipastikan tak bernyawa, uling putih tersebut diangkat dari dasar sendang. Jasadnya kemudian dikuburu di sebelah barat Sendang Beron.
Sementara itu, keberhasilan Kiai Madyani Ishak mengalahkan uling putih di Sendang Beron membuat ia mendapatkan hadiah dari pemerintah kolonial Belanda. Ia diberi sebidang tanah di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Punya Keistimewaan
Kemampuan Kiai Madyani Ishak mengalahkan uling putih di Sendang Beron ada kaitannya dengan keistimewaan yang ia miliki sebagai ulama. Konon, keistimewaan Kiai Madyani Ishak ini sudah disadari gurunya sejak dia masih santri.
Saat itu, orang tua memerintahkan Kiai Madyani Ishak untuk berguru ilmu agama kepada Kiai Harun alias Kiai Sholeh Awwal bin Kiai Qomaruddin di wilayah Sampurnan, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kiai Harun yang sadar akan tanda-tanda keistimewaan yang dimiliki Kiai Madyani Ishak akhirnya menjodohkannya dengan salah satu putrinya, Rosiyah.
Kitab Peninggalan

©livejournal.com
Kisah hidup dan perjuangan Kiai Madyani Ishak dapat dirunut dari kitab-kitab tulisan tangan berhuruf Arab yang ia wariskan kepada keturunannya. Saat ini, M. Asyaddul Ghufron Zamroni yang masih keturunan Kiai Madyani Ishak menyimpan enam kitab peninggalan beliau.
Kitab bersampul kulit yang berisi tentang tasawuf, fikih, dan tauhid itu diprediksi merupakan ilmu hasil mengaji di Sampurnan, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Ia diperkirakan menulis pelajaran di Sampurnan selama bertahun-tahun sampai kemudian membukukan tulisan-tulisan tangan tersebut.
Pada Kitab Al-Mukharror yang membahas fiqih, di salah satu halamannya ditemukan angka tahun 1241 Hijriah atau tahun Jim Akhir. Kitab tersebut ditulis di Sampurnan, Bungah, Gresik.
Selanjutnya, pada Kitab Ushul terdapat keterangan bahwa kitab tersebut ditulis pada hari Senin Wage, setelah Subuh di bulan Dzulkoqdah, tepatnya 20 tahun Alip 1249. Saat itu, usia Kiai Madyani Ishak 23 tahun.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya