Ahmad Syihab Udin, warga Kediri, Jawa Timur tak menyangka jika ikan nila yang harganya murah di Indonesia, justru mendatangkan peluang bisnis ekspor menjanjikan.
Advertisement
Jauh sebelum membudidayakan ikan nila, Ahmad bekerja di bagian penjualan dan pemasaran unggas pada sebuah perusahaan. Tak mau terus-terusan bekerja pada orang lain, pada tahun 2010 ia memutuskan mencoba peruntungan bisnis ayam petelur.
Lima tahun kemudian, Ahmad berinovasi mengintegrasikan kandang ayam petelur dengan kolam lele. Kandang ayam dibuat bangunan panggung, di bawahnya dijadikan kolam ikan lele. Bisnis ayam petelurnya berkembang pesat. Hingga sebelum pandemi Covid-19, bisnis ayam petelur milik Ahmad punya 250 rekanan. Kesuksesan ini diuji ketika badai pandemi datang. Banyak rekanan bisnis Ahmad yang gulung tikar. Hal ini berdampak besar bagi bisnis Ahmad.
Advertisement
Pandemi melimbungkan usaha ayam petelur milik Ahmad. Ia kemudian berinisiatif mencoba budi daya ikan nila di kolam bundar. Alasannya, karena budi daya nila jauh lebih murah dibandingkan dengan ayam petelur.
Analisis Ahmad tak meleset. Meskipun ikan nila harganya murah dan banyak pesaing membudidayakan ikan yang sama, Ahmad yakin bisnisnya kali ini akan berhasil.
(Foto: YouTube PecahTelur)
Dari awalnya empat kolam bundar, kini Ahmad sudah punya 36 kolam ikan. Bahkan, ia bercita-cita punya 1.000 kolam ikan.
(Foto: YouTube PecahTelur)
Advertisement
Advertisement
Ahmad menuturkan, budi daya ikan adalah bisnis akhir zaman.
"Bisnis ikan ini halalnya 100%. Jangankan disembelih, dibanting, hidup langsung kita goreng kan halal," terangnya.
Advertisement
Melihat sudah banyak pembudi daya ikan nila yang menjual hasil panennya di pasar lokal, Ahmad mencari kemungkinan lain. Hasilnya, ia tahu bahwa ikan nila punya nilai ekspor yang menjanjikan.
Ahmad berinovasi demi membuat ikan nila hasil panennya punya nilai jual tinggi. Ia menjual ikan nila dalam kondisi bersih dari sisik dan jeroan, bahkan ada juga yang dimarinasi siap masak.
Advertisement