Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Warga Banyumas Tolak Pemakaman Jenazah Pasien COVID-19, Ini 4 Faktanya

Warga Banyumas Tolak Pemakaman Jenazah Pasien COVID-19, Ini 4 Faktanya Pemakaman Pasien Positif Corona. Instagram/@evarahmisalama ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Semakin banyaknya warga yang terkena Virus Corona dan semakin banyaknya warga yang meninggal akibat wabah pandemi itu menciptakan sebuah histeria di tengah masyarakat. Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, warga beramai-ramai menolak pemakaman di wilayahnya dijadikan sebagai makam untuk jenazah pasien Virus Corona.

Dilansir dari Liputan6.com pada Kamis (2/4), sebelumnya Pemkab Banyumas telah menyiapkan tiga tempat yang akan dijadikan pemakaman pasien COVID-19. Namun hal ini segera diketahui warga dan kemudian mereka menolak rencana Pemkab. Mereka kemudian turun ke jalan-jalan dan berdemo agar tempat pemakaman itu segera dipindahkan. Akhirnya Pemkab mengalah dan menetapkan dua pemakaman lainnya.

“Pemkab Banyumas telah menyiapkan tiga tempat untuk jenazah pasien COVID-19. Tetapi ketiga-tiganya diketahui masyarakat dan kemudian mereka demo. Maka kami menyiapkan dua alternatif lain di tempat milik Pemkab,” terang Bupati Banyumas Achmad Husein dalam sebuah video. Berikut empat faktanya.

Bupati Banyumas Berharap Warga Mengerti

pemakaman pasien positif corona

Instagram/@evarahmisalama 2020 Merdeka.com

Atas peristiwa itu, Bupati Banyumas meminta maaf. Peristiwa itu menurutnya disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dan edukasi terkait Virus Corona. Namun dia berharap warganya khususnya para massa yang berdemo itu untuk mengerti.

"Saya memohon masyarakat untuk bisa mengerti, bahwa bahaya penularan itu, jauh lebih besar bersumber dari orang hidup. Bukan orang yang telah mati," ujar Achmad Husein dilansir Liputan6.com.

Orang Meninggal Tak Menularkan Virus

pemakaman pasien positif corona

Instagram/@evarahmisalama 2020 Merdeka.com

Menurut Achmad Husein, orang yang masih hidup lebih rentan menularkan virus dibandingkan orang yang sudah mati. Hal ini dikarenakan virus ikut mati seiring dengan meninggalnya seseorang. Waktu kematiannya itu berjarak sekitar tujuh sampai delapan jam.

"Orang hidup itu bisa bicara, bisa batuk dan bersin. Sedangkan orang mati tidak bisa. Padahal sumber penularannya itu," ujar Achmad Husein dilansir dari Liputan6.com.

Pemakaman Harus Dilakukan dengan SOP Ketat

pemakaman pasien positif corona

Instagram/@evarahmisalama 2020 Merdeka.com

Senada dengan Bupati Banyumas, Ketua IDI Banyumas, Noegroho Harbani mengatakan virus hanya bisa tumbuh dan berkembang pada sel hidup. Begitu selnya mati, virus pun akan ikut mati.

Selain itu, Noegroho juga mengimbau pada masyarakat agar tidak khawatir terhadap pemakaman jenazah karena prosesnya sudah dilakukan dengan SOP yang ketat, yakni dengan diberi disinfektan, dibungkus plastik, diberi disinfektan lagi, dikafani, diberi disinfektan lagi, baru dimasukkan ke peti khusus, dan setelahnya diberi disinfektan lagi.

"Jangan cemas dan takut, tidak akan tertular, kata pria yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur RSUD Banyumas itu, dilansir Liputan6.com.

Data Terbaru Perkembangan COVID-19 di Banyumas

achmad husein

2020 Merdeka.com

Sementara itu, per tanggal 1 April 2020 jumlah orang dalam pengawasan (ODP) di Banyumas bertambah enam orang menjadi 1.221. Tapi kabar baiknya, untuk pertama kalinya tidak ada kenaikan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) di Banyumas. PDP tetap berjumlah 41 orang sedangkan yang positif sebanyak 5 orang.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP