Advertisement
Rencananya pada Jumat (28/7), Basarnas Cilacap akan melakukan opsi ketiga proses evakuasi dengan menerjunkan tiga orang tim SAR untuk masuk ke dalam lubang. Sebelumnya proses evakuasi pemompaan air serta pemasangan kamera di bawah tanah kurang efektif karena air yang cukup keruh serta debitnya yang besar.
Advertisement
Basarnas Cilacap menyebutkan bahwa proses evakuasi tersebut terkendala oleh lubang yang sangat sempit dan dalam. Bahkan diameter lubang itu bisa dikatakan hanya selebar bahu orang dewasa. Hal ini membuat evakuasi menggunakan pelampung dan gas oksigen sangat sulit dilakukan.
Lalu evakuasi berikutnya menggunakan kamera di bawah tanah. Namun opsi ini juga sulit karena air tanah sangat keruh dan diduga sudah tercampur senyawa berbahaya.
Advertisement
Sebelumnya, proses evakuasi dilakukan menggunakan kamera hole dari Dinas ESDM Jateng. Meski kamera telah diturunkan, namun keberadaan para pekerja tambang belum terlihat. Hingga Kamis (27/7) petang penggalian belum membuahkan hasil. Kondisi mereka belum diketahui secara pasti.
Advertisement
Dari Bogor, Jawa Barat, pihak keluarga berharap delapan korban pekerja yang terjebak di dalam lubang galian bisa ditemukan dalam keadaan selamat. “Rencana saya mau ke sana, ingin tahu. Tapi karena jaraknya jauh, jadi tidak bisa ke sana,” kata Arbani, ayah dari Marmumin (32), salah satu pekerja yang terjebak di lubang itu.
Seperti diketahui, seluruh korban yang terjebak di lokasi tambang berasal dari Bogor. Empat di antaranya merupakan warga Desa Kiarasari. “Kami dari pihak pemerintah desa akan siap untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan keluarga korban yang akan ke lokasi di Banyumas,” kata Kepala Desa Kiarasari Ahyar Suryadi, dikutip dari kanal YouTube Liputan6.