Tertua di Indonesia, Ini 5 Fakta Sejarah Museum Radya Pustaka Solo
Merdeka.com - Museum Radya Pustaka merupakan museum tertua di Indonesia. Museum itu beralamat di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Solo. Di sana dipajang beragam koleksi yang berasal dari zaman kerajaan Mataram, Majapahit, Demak, dan pula Pajang.
Melansir dari sejarahlengkap.com, Museum Radya Pustaka berasal dari kata “Radya” yang berarti kraton atau negara, dan “Pustaka” yang berarti perpustakaan. Jika digabungkan, Radya Pustaka dapat diartikan Perpustakaan Kraton atau Perpustakaan Negara.
Dibangun di atas tanah dengan luas 523,24 meter persegi, museum itu dibuka untuk umum setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. Berikut 5 fakta sejarah museum tertua di Indonesia itu.
Pendirian Museum

©2017 Merdeka.com
Museum Radya Pustaka didirikan pada 28 Oktober 1890 pada masa pemerintahan Pakubuwono IX. Pada awalnya, museum itu dibangun di Dalem Kepatihan Kraton Surakarta. Pada awalnya, tempat itu digunakan untuk penyimpanan surat-surat kerajaan. Tak hanya itu, dulunya pula tempat ini digunakan sebagai tempat berkumpulnya para sastrawan dan pujangga kraton.
Seiring waktu, tempat itu kemudian digunakan untuk menyimpan benda-benda lain milik kerajaan. Karena semakin banyak saja barang yang disimpan di sana, tempat itupun kemudian diubah fungsinya menjadi museum.
Pindah Tempat

©2015 merdeka.com/aryo putranto
Pada 1 Januari 1913, lokasi museum itu dipindah ke Jalan Slamet Riyadi Solo. Sebelum menjadi museum, bangunan baru itu merupakan kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar yang juga dikenal dengan nama Loji Kadipolo.
Dilansir dari sejarahlengkap.com, karena dulunya berfungsi sebagai hunian, tata ruangan museum tampak tidak seperti museum pada umumnya. Di bangunan inilah museum bertambah luas dan dapat menyimpan koleksi dengan lebih banyak.
Kumpulan Koleksi Penting

©©2012 Merdeka.com
Museum Radya Pustaka menyimpan beragam koleksi penting. Koleksi-koleksi itu terdiri atas buku-buku kuno, manuskrip atau naskah kuno, pusaka adat, arca-arca, dan benda atau perkakas kuno.
Ikon utama dari museum ini adalah patung Raden Ronggowarsito yang merupakan seorang Pujangga Kraton Surakarta dari abad ke-19. Melansir dari indonesia.go.id, bisa jadi pengumpulan benda-benda yang ada di museum ini dulunya dilakukan oleh Ronggowarsito mengingat predikatnya sebagai orang pintar di zamannya.
Selain itu, koleksi yang paling terkenal adalah sebuah kotak musik buatan Perancis yang berhiaskan bunga-bunga yang di atasnya menancap burung kecil. Konon benda itu merupakan hadiah dari Raja Perancis Napoleon Bonaparte kepada Raja Pakubuwono ke-4.
Skandal Koleksi Ditukar Replika

©2013 Merdeka.com
Pada 2006, museum ini sempat menjadi pemberitaan karena sebagian koleksinya hilang. Koleksi asli yang hilang itu ternyata telah ditukar dengan replika.
Beberapa koleksi yang hilang itu di antaranya arca batu yang dibuat pada abad ke-4 dan ke-9 Masehi yang dijual kepada pihak lain dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah per buahnya. Setelah melalui proses pencarian panjang, sebagian dari koleksi yang hilang itu dapat ditemukan. Di akhir kasus itu, kepala museum Radya Pustaka ditetapkan sebagai tersangka.
Tertimpa Masalah Keuangan
Pada April 2016, Museum Radya Pustaka sempat ditutup selama berhari-hari oleh karyawannya sendiri. Penyebabnya, sebanyak 12 karyawannya yang bekerja di sana belum mendapatkan gaji.
Mengutip dari merdeka.com, Anggota Komite Museum Radya Pustaka pada waktu itu, Wiyono, mengatakan, walaupun museum itu sebenarnya mendapatkan pemasukan dari hasil penjualan tiket, namun jumlah pemasukan dari sektor itu tidak mencukupi. Bahkan, untuk membayar listrik saja masih kurang.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya