Pada Kamis (7/1), Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan bahwa Gunung Merapi telah memasuki fase erupsi. Hal ini ditandai dengan munculnya guguran lava pijar yang seiring waktu semakin sering terjadi.
Apabila langit sedang cerah dan puncak Merapi tak tertutup awan, guguran lava yang menyala merah terang ini dapat terpantau dari jauh. Bahkan, fenomena ini menjadi tontonan warga khususnya di wilayah DIY dan sekitarnya.
Namun pada masa pandemi ini, masyarakat tidak bisa sering keluar dan pemantauan itu bisa dilakukan secara virtual melalui kamera CCTV yang terpasang di beberapa tempat. Beberapa kanal YouTube pun menyediakan siaran live selama 24 jam yang membuat masyarakat bisa memantau aktivitas Merapi tiap saat.
Berikut 5 potret guguran lava pijar Gunung Merapi yang terpantau dari kamera CCTV.
Advertisement
Aktivitas Gunung Merapi dapat dipantau setiap saat, salah satunya melalui siaran live kanal YouTube Induk Frekom_86. Dalam foto itu tampak titik api diam di puncak Gunung Merapi yang bisa meluncur tiap saat.
Advertisement
Pada saat-saat tertentu, titik api diam yang bersinar terang itu bisa berubah menjadi luncuran lava pijar. Menurut moderator dalam video itu, lava pijar itu terjadi karena ada dorongan magma dari dalam kawah. Video guguran lava pijar itu diambil dalam radius 9 km dari puncak Merapi.
Advertisement
Sebelum guguran lava terjadi, peningkatan aktivitas Gunung Merapi juga dapat dipantau dari aktivitas kegempaannya. Pada siaran live itu juga tersedia grafik seismograf dari berbagai jenis gempa di sekitar Gunung Merapi seperti gempa tektonik, gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, gempa guguran, dan gempa-gempa lainnya.
Advertisement
Setelah sejak 1 Januari terus-menerus mengeluarkan guguran lava pijar, pada Kamis pagi (7/1) pukul 08.02 Gunung Merapi menyemburkan awan panas guguran pertamanya. Awan panas itu memiliki tinggi kolom sebesar 200 meter dan meluncur ke arah barat daya atau ke hulu Sungai Krasak. Walau begitu, status Gunung Merapi tetap berada pada level 3 atau siaga.
Advertisement
Walaupun status tidak dinaikkan, BPPTKG tetap mengimbau pada masyarakat di lereng Merapi atau yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk siap siaga apabila suatu saat Merapi erupsi. Selain itu, penambangan di sungai-sungai yang behulu di Gunung Merapi serta kegiatan wisata di KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.