Semangat Kartini dalam Segelas Rempah, Ini Perjalanan Santi Wijaya Membangun Yoga Djaya Bersama BRI
Perjuangan Santi, UMKM binaan BRI, menghadirkan minuman rempah warisan keluarga sebagai ajakan hidup sehat dan bentuk cinta pada tradisi Nusantara.
Di bulan ketika nama Kartini kembali digaungkan, kita diingatkan bahwa perjuangan perempuan tak selalu lahir dalam bentuk orasi besar atau gerakan massal. Sering kali, ia tumbuh dari hal yang kecil namun bermakna, di balik kesibukan harian, di dapur rumah, di meja kerja sederhana, atau dari hati seorang ibu yang ingin memberi yang terbaik untuk keluarganya.
Seperti Kartini yang dulu memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, kini perjuangan itu menjelma dalam wujud yang lebih beragam namun tak kalah bermakna.Salah satunya hadir lewat sosok Santi Wijaya (45), pendiri UMKM Yoga Djaya, yang memperjuangkan warisan budaya Indonesia melalui racikan rempah-rempah tradisional.
Rasa cintanya pada rempah, membuat wanita yang akrab disapa Santi ini menyulap resep turun-temurun menjadi produk minuman berkhasiat seperti wedang uwuh, bir mataram, hingga rempah instan yang dikemas premium. Di tengah kesibukan sebagai ibu, ia meracik impian lewat uap jahe, sereh, dan kayu secang, menghidupkan kembali kekayaan lokal yang nyaris terlupakan.
Sejak 2019, dari rumahnya yang sederhana, Santi memulai perjalanannya. Dengan satu karyawan dan dukungan dari sang suami, ia membangun merek lokal Yoga Djaya yang kini dikenal hingga mancanegara. Didampingi Rumah BUMN BRI, ia bukan hanya menjual minuman, tapi juga menyuarakan kembali gaya hidup sehat berbasis kearifan lokal.
Perjalanan Santi adalah wujud nyata semangat Kartini di era ini, seorang perempuan yang mandiri, penuh makna, dan tetap berpijak pada akar budaya. Ia membuktikan bahwa tangan seorang perempuan bisa membawa perubahan, menjaga warisan budaya, dan ikut membangun masa depan bangsa. Berikut kisah selengkapnya.
Berawal dari Keresahan
Minat Santi Wijaya terhadap rempah tidak datang secara tiba-tiba. Sejak kecil, ia telah akrab dengan ramuan tradisional karena tumbuh dalam keluarga yang mengandalkan pengobatan alami. Ibunya, seorang guru yang membesarkan delapan anak, terbiasa meracik obat dari bahan dapur ketika biaya berobat terasa berat.
“Dulu kalau belum sakit parah, cukup minum rempah racikan ibu saja. Itu warisan yang menginspirasi saya,” kenang Santi saat ditemui merdeka.com pada Kamis (18/4/2025).
Namun, seiring waktu, muncul kegelisahan di hati Santi. Ia menyadari bahwa di balik kekayaan rempah Indonesia, justru minim apresiasi terhadapnya. Ia teringat bagaimana temulawak dan kunyit dipatenkan oleh negara asing.
Padahal, secara historis, tanaman ini sangat mudah tumbuh, mudah ditemui, dan tersebar luas di seluruh penjuru nusantara. Rempah begitu lekat dalam keseharian masyarakat Indonesia, bahkan menjadi bagian penting dari sejarah yang dulu mengundang kedatangan penjajah. Ironisnya, kini banyak anak muda yang bahkan tak bisa lagi membedakan antara kunyit dan temulawak.
“Temulawak sempat dipatenkan negara asing. Saya pikir, kok kita malah cuek?” katanya, penuh keprihatinan.
Masa Sulit hingga Titik yang Membawa Berkah
Kegelisahan yang awalnya menghantui Santi akhirnya berubah menjadi semangat juang yang tak kenal lelah. Pada 2019, dengan modal awal satu juta rupiah dari suaminya, Santi mulai meracik dan menjual produk rempah dalam bentuk minuman. Namun, perjalanan awalnya tidak semulus yang dibayangkan. Produk yang ia tawarkan nyaris tidak laku, dianggap kuno, dan ia merasa hampir tidak ada yang mendukung.
“Dulu, orang lihat wedang uwuh itu kayak nggak keren. Tapi saya terus belajar dan cari informasi ke mana-mana,” kenangnya.
Meski banyak yang meremehkan dan menganggap remeh usahanya, Santi tak pernah patah semangat. Ia terus berinovasi, memperbaiki produk, dan meyakini bahwa yang ia lakukan bukan hanya untuk bisnis semata, tetapi juga untuk kesehatan dan melestarikan budaya lokal.
“Dulu orang-orang belum percaya dengan kekuatan rempah-rempah. Ditawarin aja, mereka malah nggak tertarik, malas-malasan,” ujar Santi, mengenang masa-masa sulit tersebut.
Namun, titik balik besar datang saat pandemi melanda. Ketika banyak orang mencari cara alami untuk menjaga daya tahan tubuh dan memperkuat sistem imun, Santi melihat ini sebagai kesempatan emas untuk memperkenalkan produknya. Penjualannya pun meningkat pesat.
“Pandemi datang, di balik itu jadi berkah tersendiri. Orang mulai percaya bahwa rempah-rempah memang bisa mendukung kesehatan. Bahkan saya ingat, ada profesor dari Surabaya yang menyarankan untuk pencegahan COVID-19 dengan rempah-rempah. Dari situ, orang-orang jadi cari cara alami buat menjaga tubuh tetap fit, dan mereka mulai membeli produk saya,” kata Santi dengan senyuman.
Mengenalkan Minuman Rempah Lebih Luas
Awalnya, Santi hanya menjual wedang uwuh, sebuah minuman tradisional yang kaya akan rempah. Namun, di balik kesederhanaan itu, Santi merasa ada lebih banyak yang bisa ditawarkan.
"Dulu, kita hanya jualan wedang uwuh saja. Tapi saya ingin lebih dari itu, saya ingin mengenalkan lebih banyak minuman rempah yang bisa dinikmati oleh orang-orang."ujar Santi.
Dari keinginan tersebut, ia mulai mengembangkan varian produk baru. Tidak hanya terbatas pada wedang uwuh, ia menghadirkan berbagai jenis minuman rempah yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan
Kini Yoga Djaya punya 12 varian minuman rempah. 12 variannya ialah Wedang Uwuh, Wedang Secang, Bir Mataram, Bir Plethok, Wedang Wengi, Seruni, Kunir Asem, Seger Waras, Empon-empon, Minuman Rempah, Ganir dan Rosela. Dalam proses pembuatannya, Santi kerap membaca jurnal dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memformulasikan resep.
Yang paling unik, Yoga Djaya juga pernah melayani racikan custom sesuai keluhan pelanggan. Salah satunya untuk seorang profesor dari Universitas Cenderawasih yang menderita kolesterol dan asam uratnya tinggi.
“Setelah minum seminggu, kadar kolesterolnya turun drastis. Sampai dicek ulang empat kali karena beliau nggak percaya,” kisah Santi dengan bangga.
Taktik Santi Mengenalkan Rempah pada Anak Muda
Santi tahu betul, jika ingin rempah dikenal generasi muda, ia harus mendekat dengan cara yang lebih akrab. Setiap kali mengikuti pameran atau bazar, ia membawa minuman rempah dalam kemasan botol, praktis, siap minum, dan menggoda untuk dicicip.
“Biar mereka kenal dulu sama rempah. Harapannya nanti jatuh cinta,” katanya, tertawa ringan.
Tak berhenti di situ, Santi juga kerap berkolaborasi dengan berbagai acara anak muda. Ia bahkan membuka kelas rempah, mengajarkan dasar-dasar tentang tanaman berkhasiat ini kepada anak-anak sekolah hingga mahasiswa.
Rumah produksinya di Suryoputran pb3/68, Lapangan, Kemandungan, Kota Yogyakarta ini juga terbuka untuk kunjungan, mulai dari sekolah lokal, kampus, hingga tamu-tamu dari mancanegara yang penasaran dengan kekayaan rempah Nusantara.
Untuk mahasiswa, ia sengaja menyiapkan varian ekonomis, lebih terjangkau namun tetap mempertahankan rasa dan khasiat. Sementara di bazar, produk botolan menjadi andalannya, menarik perhatian mereka yang ingin mencoba tanpa banyak repot.
Kini, Yoga Djaya menghadirkan produk-produknya dalam berbagai bentuk untuk menjangkau pasar lebih luas, termasuk kemasan rebus isi lima, sachet isi tiga, kemasan premium dan versi celup untuk konsumen yang sibuk.
Produk-produk ini dijual dengan harga berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 35.000. Khusus untuk kemasan premium seharga Rp 35.000, tersedia pilihan seperti Bir Plethok, Bir Mataram, dan Wedang Uwuh.
Kemasan premium Yoga Djaya dilengkapi dengan sejarah minuman rempah dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, serta menekankan tanpa pengawet dan pewarna tambahan. Produk-produk yang paling diminati termasuk Wedang Uwuh, Jahe Merah, dan Bir Mataram.
Bertumbuh Bersama BRI
Langkah Santi berkembang makin nyata sejak bergabung dengan Rumah BUMN BRI tahun 2020. Ia mengaku awalnya seperti “anak hilang” yang haus informasi
“Dulu itu waktu awal merintis, saya bingung mau tanya ke siapa. Saya datangi dinas-dinas, lalu tahu soal Rumah BUMN dari teman,” ceritanya.
Lewat pelatihan dan pendampingan, ia belajar banyak soal pemasaran, pengemasan, hingga membangun jejaring. Ia juga dua kali terpilih mengikuti Brilianprenur, ajang pameran dan kurasi produk UMKM dari BRI.
BRI, menurutnya, bukan sekadar bank. Tapi mitra perjuangan. Lewat Rumah BUMN, ia juga bisa bertukar pikiran dengan sesama pelaku UMKM, berbagi strategi, dan saling dukung.
“Saya tuh nggak pelit info, karena saya pernah ngerasain gimana susahnya cari arah. Dan itu nyakitin banget,” tambahnya.
Sebagai UMKM binaan BRI, Yoga Djaya mendapatkan kesempatan untuk memajang produk-produknya di BRI x Couvée, sebuah ruang display strategis yang terletak di Jl. Sagan Timur No.123, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta.
Kesempatan ini sejalan dengan tujuan Yoga Djaya untuk memperkenalkan minuman rempah kepada khalayak yang lebih luas .Di ruang pamer ini, Yoga Djaya menampilkan produk dalam kemasan premium, lengkap dengan informasi sejarah rempah dalam dua bahasa.
Tak hanya itu, Galeri RuBy yang berada tepat di sebelah Couvée juga menjadi jembatan penting dalam proses promosi ini. Lokasinya yang strategis dan ramai dikunjungi anak muda membuat produk-produk Yoga Djaya semakin mudah menarik perhatian pasar potensial yang lebih luas.
Rumah BUMN BRI Yogyakarta, Wadah Tumbuh UMKM untuk Naik Kelas
Sejak berdiri pada 2017, Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBy) telah menjadi ruang bertumbuh bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Melalui pelatihan, inkubasi bisnis, hingga fasilitas seperti co-working space dan pameran produk, RuBy mendorong UMKM untuk berkembang dan naik kelas. RuBy menjadi salah satu dari 54 Rumah BUMN yang paling aktif menyelenggarakan program pemberdayaan di Indonesia.
“Kalau di Yogyakarta, kita buka tiga keanggotaan: umum, utama, dan prioritas. Umum itu untuk orang yang hanya ingin belajar, belum punya usaha, kita masukkan ke umum. Utama adalah mereka yang sudah punya usaha, tapi belum terlalu fokus pada pengembangannya. Prioritas, mereka yang aktif dan berkembang, ikut pelatihan, konsultasi, dan sebagainya. Prioritas ini ada bazar, ada program-program yang kita utamakan,” jelas Bagas Priambodo selaku Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta saat ditemui merdeka.com.
Salah satu inisiatif unggulan RuBy Yogyakarta adalah store UMKM di lantai bawah yang menjadi etalase bagi produk-produk lokal terpilih. Menariknya, store ini tidak mengambil keuntungan apa pun dari UMKM.
“Store yang di bawah sebagai salah satu wadah sih. Kita non-profit ya. Kita sama sekali enggak ambil untung dari sana. Jadinya harganya murni dari mereka, kita enggak ada mark up harga. Bener-bener full mereka yang nentuin,” ujar Bagas,
Namun, produk yang ditampilkan tetap harus melalui proses kurasi internal untuk menjaga kualitas dan keberagaman. Setiap tiga bulan, produk akan diganti agar memberi ruang bergilir bagi UMKM lainnya. Selain itu store ini juga diminati tamu internasional maupun pelanggan lokal seperti nasabah BRI dan pengunjung Couvee
Tak hanya menyediakan ruang untuk memamerkan produk, tim Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBy) juga aktif membantu proses pemasaran. Salah satu caranya adalah dengan membuat video promosi untuk UMKM binaan, yang kemudian diunggah melalui akun Instagram resmi mereka di @rumahbumn.yogyakarta.
Peran BRI untuk UMKM Perempuan
Perempuan memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga hingga masyarakat luas. Peran strategis ini merupakan hasil dari perjuangan panjang menuju kesetaraan, dengan R.A. Kartini sebagai simbol yang menginspirasi. Semangat inilah yang terus dihidupi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dalam upayanya memberdayakan perempuan, khususnya pelaku UMKM.
Melalui Holding Ultra Mikro, yang terdiri dari BRI, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), BRI menunjukkan komitmen kuat terhadap inklusi keuangan dan kesetaraan gender.Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menegaskan bahwa perempuan berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor mikro dan ultra mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian rakyat.
“Peringatan Hari Kartini menjadi momentum penting bagi BRI untuk menegaskan kembali komitmen terhadap pemberdayaan perempuan. BRI Group melalui Holding Ultra Mikro terus mendorong akses pembiayaan dan pemberdayaan agar para pengusaha perempuan dapat terus berkembang, naik kelas, dan semakin berdaya,” jelas Hendy dikutip dari bri.co.id pada Senin (21/4/2025).
Ia juga menambahkan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga upaya membangun ekonomi yang inklusif dan tangguh.
“BRI percaya bahwa mendukung pengusaha perempuan bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga tentang menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan tangguh. Melalui semangat Kartini, BRI Group akan terus melanjutkan peran strategisnya dalam membuka akses keuangan seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat, utamanya perempuan, demi mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera dan setara,” pungkasnya.
Perjuangan Seorang Ibu di Balik Yoga Djaya
Sebelum dikenal sebagai pelaku UMKM yang memperjuangkan gaya hidup sehat melalui minuman rempah, Santi mengawali kariernya di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Ia aktif bekerja di luar rumah hingga sebuah peristiwa yang mengguncang hidupnya terjadi, anaknya menjadi korban kekerasan oleh asisten rumah tangga. Kejadian tersebut menjadi momen refleksi yang mengubah arah hidupnya.
“Saya mikir, saya kerja buat siapa kalau bukan buat anak? Itu titik balik saya,” tutur Santi lirih, mengenang masa sulit itu.
Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memilih fokus mengurus keluarga di rumah. Keputusan tersebut menjadi awal mula perjalanan baru yang membawa Santi merintis usaha minuman rempah.
Usaha yang diberi nama Yoga Djaya ini lahir bukan semata-mata karena ingin mendapatkan keuntungan finansial. Bagi Santi, membangun usaha juga tentang membangun kekuatan bersama dan memberi dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.
Ia ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar produk—yakni nilai-nilai hidup sehat dan cinta terhadap warisan rempah Nusantara.Lebih dari itu, minuman rempah yang ia racik menyimpan cerita masa kecil. Resep-resep yang digunakan merupakan warisan dari ibunya, yang dahulu selalu membuatkan racikan rempah saat Santi kecil.
Aroma dan rasa dari minuman itu tak hanya menyehatkan, tapi juga menyimpan kehangatan kenangan keluarga. Kini, warisan itu ia lanjutkan dan perkenalkan kepada lebih banyak orang.
Yoga Djaya pun menjadi simbol perlawanan kecil Santi terhadap pola hidup modern yang serba instan dan dipenuhi makanan olahan. Ia menyadari bahwa tubuh manusia membutuhkan perhatian dan pemeliharaan yang lebih alami.
“Kita sudah lama kena racun. Sekarang waktunya kita jaga tubuh kita sendiri,” ujarnya penuh keyakinan. Baginya, setiap minuman herbal rempah yang terjual bukan hanya produk, tetapi bagian dari perjuangan, cinta, dan warisan.
Rempah, Rasa, dan Harapan di Setiap Seduhan
Kini Yoga Djaya memproduksi hingga 100 kemasan setiap hari, dengan omzet yang terus tumbuh. Hanya dibantu satu karyawan, Santi tetap semangat memproduksi secara konsisten. Bagi Santi, kesuksesan tak diukur dari omzet semata. Ada rasa bangga yang jauh lebih dalam ketika melihat produk rempahnya dikenal dan dicintai banyak orang.
“Bagi saya, itu artinya perjuangan rempah nggak sia-sia. Kalau ada yang mulai minum rempah, itu udah luar biasa,” ucapnya dengan mata berbinar, menyimpan haru di balik senyumnya.
Ia tahu perjuangannya masih panjang. Tapi seperti filosofi nama Yoga Djaya, Yoga berarti anak, Djaya berarti besar. Ia yakin usaha kecil ini akan tumbuh jadi besar jika terus dirawat dengan cinta dan semangat.
"Yoga Djaya itu dari nama suami saya, Yoga, dan Djaya dari Wijaya, nama saya sendiri. Tapi ada filosofinya juga. Yoga itu artinya anak, sesuatu yang masih kecil, sedangkan Djaya atau Dyaja itu sesuatu yang besar. Harapannya, usaha ini yang dimulai dari kecil seperti embrio, lama-lama bisa tumbuh menjadi besar," jelas Santi.
Dengan dukungan BRI, khususnya melalui Rumah BUMN, langkah Santi Wijaya semakin mantap menapaki jalan perjuangannya. Di dapur kecil yang dipenuhi aroma rempah, ia meracik lebih dari sekadar minuman. Ia juga meracik harapan, kesehatan, dan kebanggaan akan warisan bangsa.
Di momen peringatan bulan Hari Kartini, kisah Santi menjadi pengingat bahwa semangat juang perempuan Indonesia tak pernah padam. Perubahan besar tak selalu dimulai dari panggung megah; kadang, ia lahir dari sudut rumah, dari tangan-tangan perempuan yang bekerja dengan hati dan keyakinan.
Santi membuktikan bahwa dengan tekad, kearifan lokal, dan dukungan yang tepat, perempuan bisa menjadi agen perubahan, bukan hanya untuk keluarganya, tapi juga untuk budaya dan kesehatan bangsanya.