Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sekelumit Kisah Kampung Hindu di Lereng Gunung Lawu, Peninggalan Brawijaya V

Sekelumit Kisah Kampung Hindu di Lereng Gunung Lawu, Peninggalan Brawijaya V Kampung Hindu di lereng Gunung Lawu. ©YouTube/Embara Lensa

Merdeka.com - Berada di lereng Gunung Lawu, Dusun Cetho merupakan salah satu kampung unik dan bersejarah. Kampung yang terletak di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, itu juga dikenal sebagai kampung Hindu karena hampir semua penduduknya beragama Hindu.

Meski hanya kecil, keberadaan kampung Hindu di Dusun Cetho sudah ada sejak berabad-abad silam. Masyarakat di sana meyakini, keberadaan kampung Hindu tersebut tak lepas dari jejak pelarian raja Majapahit terakhir, yaitu Prabu Brawijaya V.

Seperti diketahui, Prabu Brawijaya V harus melarikan diri dan meninggalkan tahtanya di Majapahit karena adanya konflik keluarga. Dalam pelarian itu, dia bersama para pengikutnya singgah di sebuah tempat yang kini disebut Dusun Cetho.

Di sinilah kemudian Brawijaya V mendirikan sebuah candi yang kemudian dinamakan Candi Cetho. Di candi itu dia bertapa dan meruwat diri. Saat Brawijaya melanjutkan perjalanan dalam pelariannya, beberapa pengikutnya tetap tinggal menetap di Dusun Cetho.

Hingga kini, masyarakat Dusun Cetho percaya bahwa mereka merupakan keturunan pengikut Brawijaya V dan masih terus melestarikan ajaran Hindu hingga sekarang. Berikut selengkapnya:

Kampung Hindu di Lereng Gunung Lawu

kampung hindu di lereng gunung lawu

©YouTube/Embara Lensa

Mengutip dari kanal YouTube Embara Lensa, Dusun Cetho dihuni sekitar 200 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 500 orang. Sebanyak 90 persen warganya memeluk agama Hindu yang sudah diwariskan secara turun-temurun sejak pengikut Brawijaya V tinggal di sana.

Diantara mereka, ada satu leluhur paling dihormati masyarakat yang tinggal di Dusun Cetho. Dia adalah Ki Ageng Krincing Wesi. Makamnya berada di shaft (urutan tangga undakan) kedua di Candi Cetho.

Selama Prabu Brawijaya V masih tinggal di sana, Ki Ageng Krincing Wesi merupakan juru kunci candi. Ia pun sering mendampingi sang raja Majapahit itu bertapa di candi.

Menjunjung Tinggi Ajaran Hindu

kampung hindu di lereng gunung lawu

©YouTube/Embara Lensa

Kadi Wiryo, selaku pemangku adat Dusun Cetho mengatakan, masyarakat di kampungnya selalu menjalankan tradisi ajaran Hindu. Dia menceritakan, pada awalnya semua penduduk di Dusun Cetho beragama Hindu.

Namun seiring waktu mulai ada warganya yang beragama Kristen maupun Islam. Tapi apabila tradisi Hindu dijalankan di kampung itu, semua warga dilibatkan, tak terkecuali dari agama lain.

“Jadi kalau misalnya ada acara bersih dusun untuk menyambut peringatan Galungan atau Saraswati, itu semua agama dilibatkan. Setiap tahun ada beberapa upacara ibadah seperti Galungan, Kuningan, Pagar Wesi, Saraswati, terus Nyepi,” kata Kadi Wiryo, mengutip dari kanal YouTube Embara Lensa.

Hubungan dengan Umat Hindu di Bali

kampung hindu di lereng gunung lawu

©YouTube/Embara Lensa

Berasal dari agama yang sama, umat Hindu di Dusun Cetho mengaku masih satu akar dengan agama Hindu di Bali, yaitu sama-sama berasal dari Majapahit. Maka tak heran, warga Bali juga sering beribadah di Candi Cetho. Bahkan pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar, Bali pada tahun 2007 menyumbangkan Puri Saraswati yang letaknya sekitar 300 meter dari Candi Cetho.

“Tapi antara sini sama Bali tetap ada bedanya. Misal kalau Bali itu sesajinya macam-macam. Kalau untuk orang sini, tidak kuat. Terlalu mahal. Kalau warga di sini kan keadaannya memang begitu,” ungkap Kardi Wiryo.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP