Sejarah Munculnya Air Zam-Zam, Hikmah Pengasingan Istri dan Anak Nabi Ibrahim
Merdeka.com - Air zam-zam merupakan air mineral yang diambil dari sumur zam-zam yang terletak di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Sering kali air ini diminum para jemaah haji dan umrah saat menunaikan ibadah di Baitullah. Tak jarang pula, air zam-zam menjadi buah tangan para jemaah haji dan umrah untuk dibawa pulang ke negeri halaman.
Selama ini, air zam-zam dikenal sebagai air yang penuh keberkahan. Bahkan, dianjurkan bagi umat muslim untuk selalu membaca doa sebelum minum dan diperkenankan untuk memohon sebuah hajat kepada Allah. Air yang penuh berkah ini dipercaya dapat memberikan kebaikan hingga keajaiban atas izin Allah.
Di balik keberkahan air zam-zam, terdapat sejarah panjang penuh hikmah yang perlu diketahui oleh umat muslim. Di mana sejarah munculnya air zam-zam merupakan hikmah dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk mengasingkan istri dan anaknya Ismail.
Bukan hanya itu, setelah kemunculannya ternyata sumber mata air zam-zam pernah kering, menyusut, dan hilang. Tentu, ini menjadi peristiwa sejarah yang menarik untuk disimak. Terutama bagi umat muslim, agar lebih memahami makna dan hikmah dari setiap kisah-kisah nabi.
Dilansir dari NU Online, berikut kami merangkum sejarah munculnya air zam-zam zaman Nabi Ibrahim, bisa Anda simak.
Sejarah Munculnya Air Zam-Zam
Sejarah munculnya air zam-zam bermula ketika Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah SWT. Saat itu, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk mengasingkan istri dan anaknya yang masih bayi, Ismail. Dengan tekad ketaatan yang kuat, Nabi Ibrahim kemudian mengajak istri dan anaknya dari Palestina menuju Ka’bah.
Sejak keberangkatan, Nabi Ibrahim tidak memberi tahu istrinya, Hajar, tujuan mereka bertiga. Hajar pun juga tidak bertanya kepada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim hanya memberi tahu bahwa dia harus melaksanakan perintah Allah, dan Hajar pun memahami bahwa perintah dari Allah harus ditaati.
Sesampainya di Makkah, tepat di dekat pohon besar yang kemudian menjadi titik lokasi sumur zam-zam, Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan putranya. Di lokasi itu sangat sepi bahkan tak ada seorang pun. Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya hanya dengan bekal beberapa biji kurma dan air secukupnya.
Kemudian Hajar mulai panik, ketika Nabi Ibrahim pergi. Dia kemudian memastikan kembali, apakah tindakan ini yang diperintahkan Allah, dan Nabi Ibrahim hanya menjawabnya dengan singkat, “Betul”. Maka Hajar, yakin bahwa jika itu yang diperintahkan Allah, maka Allah tidak akan membuatnya sengsara. Kemudian Nabi Ibrahim pergi tanpa menengok sekalipun ke arah istri dan anaknya.
Beberapa waktu kemudian, Hajar lapar hingga bekal kurma dan air yang diberi suaminya sudah habis. Kondisi membuatnya semakin panik, ketika air susunya mulai kering sehingga Ismail menangis karena haus dan lapar. Lalu, dia meninggalkan Ismail sementara waktu untuk naik ke bukit Shafa untuk melihat apakah ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Hasilnya nihil. Kemudian Hajar lari ke bukit Marwah untuk melihat peluang lainnya, namun tetap saja tidak ada orang.
Setelah beberapa waktu, kemudian Hajar mendengar suara gemericik air. Awalnya dia berpikir bahwa itu hanya halusinasinya saja yang sedang haus dan kelaparan. Namun setelah mendekat ke sumber suara, Hajar melihat sosok malaikat dengan sayapnya yang membentang di samping Ismail, mengorek tanah hingga keluar air.
Hajar pun menghampiri sumber mata air tersebut dan mengumpulkannya “Zammi Zammi” artinya “Berkumpullah, berkumpullah”. Kemudian titik sumber mata air ini menjadi sumur zam-zam yang hingga kini masih ada.
Sumur Zam-Zam Sempat Mengering dan Hilang
Setelah mengetahui sejarah munculnya air zam-zam, berikutnya peristiwa yang tak kalah penting adalah mengering dan hilangnya sumur zam-zam. Beberapa waktu setelah kemunculan sumur zam-zam, Makkah kedatangan dua suku besar dari Yaman yaitu Suku Kabilah Jurhum dan Suku Kabilah Qathura.
Sesampainya di Makkah, dua suku tersebut melihat sekawanan burung terbang ke suatu tempat. Ini biasanya menjadi pertanda umum adanya sumber mata air. Kemudian dua suku tersebut mengutus dua orang untuk melihatnya, ternyata benar keberadaannya.
Lalu, Suku Jurhum dan Qathura berpindah ke lokasi sumber air tersebut dan meminta izin Siti Hajar untuk tinggal. Siti Hajar pun dengan senang hati mengizinkan mereka. Singkat cerita, kehidupan masyarakat di daerah itu berjalan dengan baik.
Hingga Ismail anak Nabi Ibrahim dewasa dan menikah dengan perempuan dari Suku Jurhum. Kemudian berpisah dengan istri pertama lalu menikah kedua kalinya dengan perempuan suku yang sama. Dari dua pernikahannya Ismail dikaruniai 12 anak.
Setelah Ismail wafat dalam usia 137 tahun, kepengurusan zam-zam yang dipegangnya kemudian diwariskan pada Nabit salah satu putranya. Usai Nabit meninggal, kepengurusan zam-zam dipegang oleh Qaidar putra Ismail yang lain. Lalu Qaidar wafat, zam-zam diurus oleh Mudhadh bin Amr, pemimpin Jurhum.
Singkat cerita, kepemimpinan Suku Jurhm di Makkah ternyata tidak dipercaya. Banyak kezamilan yang terjadi di Tanah suci, seperti menjarah harta kekayaan, konflik antar suku, hingga peperangan. Kezamilan mereka inilah yang menyebabkan sumur zam-zam berhenti mengalir dan kering. Kemudian suku-suku lain yang mendengar perbuatan orang Jurhum bersatu untuk mengusirnya dari Makkah. Masyarakat Makkah tidak rela jika Ka’bah dihuni oleh kaum yang zalim dan berbuat kerusakan.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya