Sejarah Masjid Tertua di Kabupaten Blora, Usianya Mencapai 2,5 Abad

Masjid tertua itu merupakan tonggak awal perkembangan Islam di daerah tersebut

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Sejarah Masjid Tertua di Kabupaten Blora, Usianya Mencapai 2,5 Abad
Sejarah Masjid Tertua di Kabupaten Blora, Usianya Mencapai 2,5 Abad (Merdeka.com)

Peradaban Islam telah menyebar ke seluruh penjuru Pulau Jawa sejak ratusan tahun silam. Tiap daerah punya bangunan masjid tertua sebagai tonggak awal perkembangan Islam di daerah masing-masing.

Begitu pula di Blora, ada dua masjid yang menurut sejarahnya menjadi masjid tertua di wilayah itu. Masjid tertua adalah Masjid Baitunnur. Masjid ini terletak di jantung kota, tepatnya di barat Alun-Alun Kota Blora. Masjid ini dulunya dibangun oleh Bupati Raden Tumenggung Djajeng Tirtonoto. 

Dilansir dari Liputan6.com, Masjid Baitunnur didirikan pertama kali oleh R.T Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774 yang saat itu memerintah Kabupaten Blora di bawah Kasunanan Surakarta dari tahun 1762 hingga tahun 1782. 

Karena wilayah kekuasaannya semakin luas, R.T Djadjeng Tirtonoto kemudian membangun rumah kabupaten beserta alun-alunnya. Setelah selesai membangun rumah kabupaten, ia kemudian membangun masjid.  

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di masa pemerintahan R.T Djajeng Tirtonoto, masjid tersebut telah memiliki bedug yang terbuat dari pohon jati utuh yang berlubang di tengahnya.

Masjid kedua adalah Masjid Baiturrahman. Masjid ini terletak di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora Kota. Masjid ini merupakan masjid tertua kedua di Blora setelah masjid agung Baitunnur.

Menurut catatan sejarahnya, Masjid Baiturrahman berdiri hampir bersamaan dengan Masjid Agung Baitunnur. Pada tahun 1774, kedua masjid itu sama-sama didirikan oleh R.T Djadjeng Tirtonoto. Bedanya pada saat pertama dibangun, Masjid Baiturrahman masih berupa sebuah sanggar. 

Dilansir dari Liputan6.com, R.T Djajeng Tirtonoto pada awalnya membuat surau di Ngadipurwo setelah memiliki sebidang tanah di desa itu.

Tirtonoto sengaja memilih tempat yang jauh dari alun-alun, yaitu sejauh 7 kilometer, untuk dijadikan tempat tinggalnya saat kelak ia sudah tak menjabat lagi sebagai Bupati Blora. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Setelah 32 tahun berdiri, bangunan itu mengalami kerusakan. Hingga pada tahun 1814, surau itu direhab kembali dengan ‘Sengkalan Sucining Panembah Salira Tunggal’.

Pada tanggal 19 Agustus 1894, surau itu diubah menjadi Masjid Baiturrahman oleh Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Tjokronegoro III.

Meskipun telah diubah menjadi masjid, keaslian kayunya masih terjaga. Selain itu ada juga mimbar khotib dan mustaka (kepala) masjid jawa yang bentuknya mirip mahkota raja jawa.

Rekomendasi