Sejarah 5 Februari: Lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam, Ormawa Tertua di Indonesia
Merdeka.com - Hari ini 5 Februari, pada tahun 1947 silam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) secara resmi didirikan. Lahirnya organisasi ini diprakarsai oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI), yang saat ini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Salah satu tokoh sentral yang mencetuskan pendirian organisasi mahasiswa ini adalah Lafran Pane.
Melansir dari laman HMI, Lafran Pane menjadi sosok paling berpengaruh di balik pendirian HMI. Beliau mendirikan HMI karena menyadari keadaan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Oleh karena itu, perlu dibentuk sebuah organisasi untuk mengubah keadaan tersebut.
Dengan adanya organisasi mahasiswa ini, diharapkan mampu mengakomodasi para mahasiswa dalam memahami dan menghayati ajaran agama Islam. Selain itu, melalui wadah ini, Lafran juga menginginkan agar mahasiswa Islam aktif menyampaikan pandangan dan gagasan yang penuh inovasi.
Lantas, apa saja yang menjadi latar belakang atas berdirinya HMI? Simak ulasannya yang merdeka.com lansir dari laman HMI berikut:
Mengenal Lafran Pane, Tokoh Pendiri HMI

©wikipedia.com
Berbicara mengenai HMI tentu tidak lepas dari sosok Lafran Pane. Pendiri organisasi tertua di Indonesia ini dikenal sebagai orang yang tidak mengenal lelah dalam proses pencarian jati dirinya. Seperti mengutip dari HMI, sejak remaja Lafran sudah memiliki jiwa pemberontak dan kritis dalam mencari kebenaran sejati.
Pria kelahiran Padang Sidempuan, 5 Februari 1922 ini juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan memiliki kemauan yang tinggi. Lafran merupakan anak bungsu keluarga Sutan Pangurabaan Pane, yang terdiri dari enam bersaudara, yaitu Nyonya Tarib, Sanusi Pane, Armijn Pane, Nyonya Bahari Siregar, Nyonya Hanifah, Lafran Pane.
Sebagaimana kita tahu, Lafran Pane merupakan keluarga sastrawan dan seniman terkenal di Indonesia, seperti kedua kakak kandungnya yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane. Sedangkan, ayahnya adalah salah satu tokoh pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921.
Dalam riwayat pendidikannya, Lafran sempat berpindah-pindah sekolah. Dimulai dari Pesantren Muhammadiyah Sipriok (sekarang Pesantren KH Ahmad Dahlan), kemudian meneruskan di HIS Muhammadiyah, hingga berlanjut ke Sekolah Tinggi Islam (STI, sekarang UII). Pada waktu duduk di bangku kuliah inilah, Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Latar Belakang Berdirinya HMI

liputan6.com
Sebagai mahasiswa STI, Lafran Pane menganggap kebanyakan mahasiswa Islam pada waktu itu belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan tersebut akibat dari sistem pendidikan dan kondisi masyarakat yang belum mendukung pelaksanaan di dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, beliau meninginkan untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang mampu mengubah kondisi tersebut.
Di samping itu, organisasi yang dimaksud juga harus mampu mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi dalam segala bidang. Sebagaimana mengutip dari laman HMI, latar belakang lahirnya HMI dilandasi dengan beberapa faktor, di antaranya:
1. Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan.
2. Adanya kesenjangan dan kejumudan umat dalam pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman ajaran Islam.
3. Kebutuhan akan pemahaman dan penghayatan Keagamaan.
4. Munculnya polarisasi politik.
5. Berkembangnya paham dan ajaran komunis.
6. Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaaan yang strategis.
7. Kemajemukan bangsa Indonesia.
8. Tuntutan modernisasi dan tantangan masa yang akan datang.
5 Februari 1947: Lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Setiap 5 Februari, hampir seluruh kader HMI memperingati peristiwa bersejarah ini. Di mana pada waktu itu, Lafran Pane, yang merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) meminta izin kepada dosen pengajar Kuliah Tafsir, Husein Yahya, menggunakan jam pelajarannya untuk rapat mahasiswa.
Rapat yang menjadi tonggak sejarah lahirnya HMI itu dilaksanakan sekitar pukul 16.00 di Gedung STI, Jalan Pangeran Senopati, Kota Yogyakarta. Rapat yang yang dilakukan secara mendadak tersebut dihadiri sekitar 14 mahasiswa.
Beberapa tokoh yang hadir dalam rapat pembentukan HMI itu, di antaranya Lafran Pane, Dahlan Husein, Siti Zainah, Karnoto Zarkasyi, Maisaroh Hilal, Yusdi Ghozali, Mansyur Anwar, Hasan Basri, Soewali, Bidron Hadi, Tayeb Razak, Marwan, Zulkarnaen, dan Toha Mashudi. Melalui pertemuan tersebut, akhirnya mereka bersepakat untuk membentuk organisasi mahasiswa bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Dalam pertemuan pembentukan HMI, setidaknya ada dua tujuan yang hendak dicapai, yaitu menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam dan mempertahankan serta mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Melalui organisasi Islam ini juga diharapkan para mahasiswa memiliki kemauan keras untuk melakukan pembaharuan dan inovasi di berbagai bidang.
Seiring berjalannya waktu, HMI berhasil memberi sumbangsih yang besar bagi bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari peran para kader HMI dari masa ke masa, yang selalu aktif menyampaikan pemikiran, pandangan, dan gagasan. Tak terkecuali saat menjelang reformasi, di mana para mahasiswa HMI dengan lantang menyampaikan gagasan dan kritik terhadap pemerintahan.
(mdk/jen)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya