Fakta Menarik Museum Batik Pekalongan, Dulu Bekas Gedung Wali Kota dan Mendapat Penghargaan UNESCO

Peresmian museum dilakukan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Fakta Menarik Museum Batik Pekalongan, Dulu Bekas Gedung Wali Kota dan Mendapat Penghargaan UNESCO
Fakta Menarik Museum Batik Pekalongan, Dulu Bekas Gedung Wali Kota dan Mendapat Penghargaan UNESCO (Merdeka.com)

Sebagai Kota Batik, Pekalongan memiliki beragam koleksi batik yang punya nilai filosofis dan sejarah. Koleksi itulah yang tersimpan di Museum Batik Pekalongan.

Dikutip dari Wikipedia, Museum Batik Pekalongan memiliki 1.149 koleksi batik, antara lain wayang beber dari kain yang sudah berusia ratusan tahun. Selain itu ada alat tenun tradisional atau alat tenun bukan mesin. 

Dulunya, Gedung Museum Batik merupakan bekas kantor Balai Kota Pekalongan. Pada era kolonial, gedung itu menjadi kantor keuangan pabrik gula se-Karesidenan Pekalongan.

Pada 12 Juli 2006, bangunan itu beralih fungsi menjadi Museum Batik. Peresmian museum dilakukan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dikutip dari Pekalongankota.go.id, embrio lahirnya Museum Batik Pekalongan berasal dari gagasan yang terdapat dalam seminar batik Internasional yang diselenggarakan pada 15-18 September 2005.

Saat seminar muncul inisiatif dari Paguyuban Berkah yang dimotori oleh Imam Sucipto Umar untuk membangun museum batik berskala nasional yang memenuhi syarat.

Inisiatif itu mendapat apresiasi dari berbagai kalangan tokoh pecinta batik, bahkan dari Pemerintah Kota Pekalongan itu sendiri.

Pada tanggal 1 September 2011, Museum Batik Pekalongan ditetapkan menjadi museum negeri yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Museum Batik Pekalongan di bawah Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan (Dishubparbud) Kota Pekalongan.

Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2012, Museum Batik Pekalongan berhasil mendapatkan penghargaan Citra Pesona Wisata Award dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Untuk pelestarian budaya batik, UNESCO secara khusus memberi sertifikat kepada Museum Batik Pekalongan dengan predikat Best Safeguarding Practices, yaitu sebagai institusi pelestari budaya batik dengan memberikan pelatihan membatik kepada masyarakat khususnya kalangan pelajar. Museum Batik Pekalongan adalah satu-satunya museum di Indonesia yang mendapatkan predikat ini.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sampai Bulan April 2016, Museum Batik Pekalongan memiliki 1.230 koleksi batik yang terdiri dari jenis Batik Pedalaman, Batik Pesisiran, Batik Nusantara, Batik Kontemporer, koleksi Nonbatik, dan Koleksi Mancanegara.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Selain itu, museum ini juga memiliki ruang perpustakaan, kedai batik, ruang workshop batik, ruang pertemuan, dan ruang konsultasi atau pelayanan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Pihak pengelola Museum Batik Pekalongan juga memberi fasilitas bagi para pengunjung yang ingin belajar membatik.

Di sana pengunjung bisa belajar mulai dari proses menggambar pola hingga proses nyanting. Dalam proses belajar itu, pengunjung akan dipandu oleh para pembatik yang berpengalaman.

Museum yang terletak di Jalan Jetayu No.1 Panjang Wetan, Pekalongan buka setiap hari, Senin-Minggu pukul 08.00-15.15 WIB.

Tiket masuk Museum Batik Pekalongan untuk umum seharga Rp7000, anak-anak Rp3000 dan untuk wisatawan mancanegara Rp20000. Harga tersebut sudah termasuk fasilitas pemandu dan lokakarya batik.

Rekomendasi