Saat ini GKI Purbalingga melayani 560 orang. Dalam setahun, ada 10-15 orang yang dibaptis di sana.
Jejak kolonial Belanda hampir merata dapat dijumpai di seluruh Indonesia, tak terkecuali di sebuah kota kecil bernama Purbalingga.
Di pusat Kota Purbalingga, ada sebuah gereja yang sudah berusia 1,5 abad, namanya Gereja Kristen Indonesia (GKI) Purbalingga. Dahulu, gereja itu menjadi tempat penyebaran agama Kristen di kota kecil tersebut.
(Foto: YouTube Jejak Siborik)
Gereja itu pertama kali didirikan oleh seorang penginjil Belanda bernama A. Vermeer. Banyak warga sekitar yang dibaptis di gereja tersebut.
Advertisement
Melalui video yang diunggah pada Sabtu (1/5), kanal YouTube Jejak Siborik berkesempatan mengunjungi gereja tersebut. Di sana Jejak Siborik bertemu dengan Pendeta Karsten Andya Putri Kasih.
“Baru Januari kemarin saya ditasbihkan di sini,” kata Pendeta Andya.
Pendeta Andya mengatakan, pada 5 Mei 2024 kemarin, gereja itu sudah berusia 81 tahun. Namun sesungguhnya, aktivitas penyebaran Kristen di sana sudah berlangsung sekitar 162 tahun lamanya.
Kisah ini berawal dari seorang pedagang hasil bumi asal Tionghoa bernama Koh Tek San. Pada suatu hari, dia bertemu seorang penginjil bernama Gan Kwee.
Di dalam perjalanannya, Gan Kwee semakin dekat dengan Koh Tek San. Karena kedekatan inilah Koh Tek San semakin ingin mengenal lebih dalam ajaran Kristen.
Advertisement
“Sekilas, pertumbuhan gereja ini berawal dari satu orang yang punya kegelisahan, kemudian dia mengajak teman-teman di sekitarnya untuk bisa bersekutu bersama. Hingga terkumpul 11 orang yang dilayani Pendeta Vermeer dan hingga sekarang tumbuhlah GKI Purbalingga,”
kata Pendeta Andya, mengutip dari kanal YouTube Jejak Siborik.
Pendeta Andya mengatakan, saat ini GKI Purbalingga melayani 560 orang. Dalam setahun, ada 10-15 orang yang dibaptis di sana.
Tepat di belakang gereja, terdapat sebuah sekolah tua yang telah berdiri tahun 1926. Dulu sekolah itu bernama Holland-Chinese Zending School.
Sekolah itu dulunya diperuntukkan bagi warga Tionghoa.
Advertisement
Pada saat pendudukan Jepang, tepatnya tahun 1943, sekolah itu sempat ditutup. Saat Jepang meninggalkan Indonesia sekolah itu menjadi markas Badan Keamanan Rakyat. Pada saat itu komandan Purbalingga dipimpin oleh Brotosiswoyo.
Setelah masa Agresi Militer selesai, sekolah itu mengalami beberapa kali perubahan nama mulai dari Sekolah Rakyat, SD Kristen, dan sekarang menjadi Sekolah Bina Harapan Purbalingga.
Yang paling menarik dari sekolah ini adalah bangku siswa yang digunakan masih menggunakan bangku lama.