Kisah Joglo Berusia 200 Tahun di Yogyakarta, Pernah Jadi Kantor Kelurahan hingga Rumah Sakit Gerilyawan Kini Masih Berdiri Megah

Rumah Joglo ini jadi ikon Desa Wisata Tanjung di Kabupaten Sleman DIY.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kisah Joglo Berusia 200 Tahun di Yogyakarta, Pernah Jadi Kantor Kelurahan hingga Rumah Sakit Gerilyawan Kini Masih Berdiri Megah
Joglo Prawiro Wihardjo di Sleman DIY (© 2024 merdeka.com/Pemprov DIY)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Rumah joglo di Dusun Tanjung, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman ini didirikan sekitar tahun 1800-1900 yakni masa kolonial Belanda. Kini usianya sudah lebih dari 200 tahun dan tetap berdiri kokoh.

Fungsi

Pada masa kolonial Belanda, rumah joglo ini berfungsi sebagai kantor kelurahan Tanjung. Selanjutnya, saat terjadi agresi militer II, bangunan ini beralih fungsi menjadi rumah sakit untuk para gerilyawan.  Adapun saat ini, Rumah Joglo Tanjung yang juga dikenal dengan sebutan Rumah Joglo Prawiro Wihardjo tinggal keluarga keturunan alm. Prawiro Wihardjo. Selain itu, bangunan ini juga sering jadi tempat pertemuan warga dan tempat kegiatan sosial.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip situs Cagar Budaya Pemprov DIY, pada tahun 2001, Tanjung tetapkan sebagai desa wisata. Hal ini membuat Joglo Tanjung sering digunakan untuk kepentingan umum.

Masih Berdiri Megah

Masih Berdiri Megah
Dok. Istimewa

Rumah joglo ini memiliki corak arsitektur tradisional Jawa. Ada empat saka guru yang kokoh menopang atapnya. Meskipun usianya sudah lebih dari dua abad, namun keanggunan dan keindahannya tak berkurang sama sekali.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Bentuk tumpangsari joglo masih terawat. Struktur usuk yang berbentuk paniyung, mengerucut ke satu titik, memberikan karakteristik khas pada rumah joglo ini.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pintu penutup ruangan menggunakan kayu jati dan pintu masuk bergaya krepyak menggambarkan kekayaan detail arsitektur Jawa. Sementara itu, lantai bangunan sudah diganti dengan tegel.

Apresiasi

Pada tahun 2004, pemilik/pengelola bangunan ini menerima penghargaan Pelestari Warisan Budaya/Cagar Budaya dari Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daya Tarik

Daya Tarik
Dok. Istimewa

Desa wisata ini memiliki daya tarik di bidang kebudayaan dan pendidikan. Selain keberadaan Rumah Joglo Tanjung yang punya peran penting di masa lalu, ada sejumlah kebudayaan lokal yang menarik dipelajari. Seperti kesenian Pekbung, kenduri, among-among, dan lain sebagainya.

Para wisatawan juga bisa merasakan langsung sensasi kekayaan alam pertanian di desa wisata ini. Wisatawan bisa susur sungai, menangkap bebek, memancing, dan mencoba berbagai permainan tradisional. Jangan lupakan berbagai jajanan tradisional seperti onde-onde, nagasari, dan masih banyak lagi.

Rekomendasi