Di tengah maraknya tren minum kopi kekinian, Kopi Muria bisa menjadi pilihan bagi para pecinta kopi. Dengan cita rasa autentik, sajian Kopi Muria menawarkan keunikan rasa yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Bisnis kopi dari perkebunan lereng Gunung Muria pun makin diminati. Mengutip dari laman diskominfo.kuduskab.go.id, Kopi Muria menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Kudus.
Puluhan produk Kopi Muria dengan berbagai merek telah beredar di masyarakat dan banyak diminati para penggemar minuman berkafein itu. Kopi Muria Zayna yang diproduksi M Abdul Hamid Ridlo menjadi salah satunya.
Advertisement
Cerita Ridlo Memulai Bisnis Kopi Muria Zayna
Sebelum memulai bisnis kopi, Ridlo sapaan akrabnya, dulu adalah seorang tukang ojek di area makam Sunan Muria. Namun saat Covid-19 melanda, Ia beralih peran untuk memulai usaha.
"Dulu saya itu ngojek di Muria, tapi pas corona mulai sepi, ngontraknya juga udah mau habis jadi saya berpikir mau usaha sendiri aja." jelasnya saat ditemui Merdeka.com, Rabu (26/3) di kediamannya Dukuh Pandak, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus.
Saat itu, Ridlo mengaku belum memiliki minat untuk berbisnis kopi. Namun karena lahir dari keluarga yang dekat dengan kopi dan melihat tren konsumsi kopi yang meningkat, Ia akhirnya mencoba untuk belajar soal kopi.
"Saya ikut berbagai pelatihan soal perkopian, dari situ mulai tertarik dan kebetulan ayah itu petani kopi, sering juga lihat ibu bikin kopi secara tradisional, dari situ mulai lah tertarik (bisnis kopi) apalagi sekarang banyak yang suka ngopi ngopi kekinian itu." ungkap Ridlo menjelaskan alasannya mulai bisnis Kopi Muria Zayna.
Alasan tersebut kemudian membuat Ridlo ingin mengenalkan Kopi Muria lebih luas lagi, tidak terbatas di wilayah Kudus saja. Ia ingin menunjukkan jika kopi yang berasal dari Gunung Muria bisa diolah secara modern sehingga banyak dikenal masyarakat dari berbagai daerah.
Cita-cita Ridlo untuk mengembangkan bisnis Kopi Muria pun terwujud pada 2019. Produk kopi yang diproduksi dijual dengan merek dagang Zayna yang terinspirasi dari nama sang ibu, Siti Zainab.
"Zayna itu dari nama ibu saya, Siti Zainab. Karena dulu ibu bikin kopi yaudah saya kasih label itu." jelas Ridlo.
Saat awal memulai bisnis kopi, Ridlo hanya menjual produk kopi jenis robusta natural. Namun seiring berjalannya waktu, Ia mengembangkan produk dengan menjual varian lain seperti robusta honey, wine, full wash, kopi lanang, hingga kopi luwak.
Tingginya permintaan juga membuat Ridlo membuat produk kopi lain dengan kualitas di bawah Kopi Zayna. Ia menawarkan Kopi Aliza, yang mana mereknya diambil dari nama sang ayah, Nur Ali.
Berbeda dengan Kopi Zayna yang dibanderol mulai Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per 150 gram, Kopi Aliza dijual dengan harga lebih murah hanya sekitar Rp20 ribu untuk ukuran yang sama. Menurut Ridlo, kedua merek tersebut memiliki pasarnya masing-masing.
"Perbedaan utamanya itu kalo Zayna untuk menengah atas, kalo Aliza untuk kalangan menengah ke bawah dengan harga yang beda. Dan peminatnya juga beda-beda." jelas Ridlo.
Meski kualitas kopi dari dua produk tersebut berbeda, Ridlo menjamin jika biji kopi yang digunakan tetap pilihan terbaik. Dalam proses produksi Ia hanya menggunakan biji kopi merah yang telah disortir secara ketat sehingga menghasilkan kopi berkualitas dalam bentuk roast bean atau bubuk.
Advertisement
Advertisement
Dukungan BRI untuk Kopi Muria Zayna
Saat ini kopi yang diproduksi Ridlo telah dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Kopi Muria Zayna bahkan berhasil menembus pasar luar negeri hingga Hongkong.
Dalam pemasaran produk, Ridlo mengandalkan promosi melalui media sosial seperti Instagram, Tiktok dan WhatsApp. Selain itu dukungan BRI melalui kegiatan expo atau pameran juga membuat produk Kopi Muria Zayna makin dikenal luas.
"Diajak pameran BRI itu juga menguntungkan, ramai banyak peminat jadi bisa promosiin produk kopi Zayna biar makin dikenal, mau bawa produk berapapun biasanya kalo pameran pasti laku" ungkap Ridlo terkait ajakan expo yang ditawarkan BRI.
Hal tersebut juga dibenarkan Kepala BRI Unit Colo Kudus, Vicky Didik Jatmiko, Kopi Muria Zayna memang kerap diajak untuk berpartisipasi di setiap acara yang diselenggarakan BRI. Hal itu bertujuan untuk mengenalkan produk kopi khas Muria agar semakin banyak dikenal dan meningkatkan penjualan.
"Kalau ada event BRI khususnya di Kudus itu setiap unit biasanya diminta untuk mengirim UMKM unggulan, salah satunya Kopi Zayna itu kemarin diajak pameran. Dari situ ya mendatangkan pembeli" jelas Vicky mengungkapkan bentuk dukungan BRI untuk UMKM di unit tempatnya bertugas.
Lebih lanjut Vicky menjelaskan bentuk lain dukungan BRI untuk UMKM adalah kemudahan akses permodalan hingga pendampingan untuk mengembangkan usaha. “Selain ngajak pameran, peran kita (BRI) itu membantu untuk pembiayaan modal, ada pelatihan hingga pendampingan untuk sertifikasi produk.” ungkap Vicky.
Sejak awal mengembangkan bisnis, Ridlo memang mendapat dukungan penuh dari BRI melalui Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat itu, Ia mendapat pinjaman KUR sebesar Rp10 juta yang digunakan untuk tambahan modal awal.
"Pas mulai usaha itu dapat KUR 10 juta buat tambahan modal, uangnya buat beli bahan baku sama alat-alat seperti selep bubuk, mesin penggiling, huller, dan pulper." ungkap Ridlo terkait pinjaman KUR yang diterimanya.
Proses pengajuan KUR BRI yang cepat membuat Ridlo merasa sangat terbantu. Seiring berjalannya waktu dan angsuran terbayar, Ia kembali memanfaatkan fasilitas KUR untuk mengembangkan usahanya.
Dukungan berupa ajakan untuk menjadi partisipan expo hingga kemudahan akses KUR menjadi bukti nyata jika BRI hadir untuk mendorong UMKM naik kelas. Bank terbesar di Indonesia itu berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sesuai dengan yang disampaikan Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto dalam rilis yang dikutip dari laman bri.co.id.
"Sebagai perusahaan yang memiliki fokus utama pada UMKM, BRI terus berupaya memperluas akses pembiayaan yang inklusif serta menghadirkan program pendampingan yang berkelanjutan. Komitmen ini tidak hanya mendorong pertumbuhan UMKM, tetapi juga memperkuat fundamental ekonomi nasional secara keseluruhan," ungkap Catur Budi Harto.
Advertisement