Gelar Pameran, Begini Cara Keraton Jogja Kisahkan Kembali Geger Sepehi

Geger Sepehi pada tahun 1812 merupakan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah perjalanan Keraton Yogyakarta. Peristiwa Geger Sepehi itu diceritakan kembali oleh Keraton Yogyakarta pada 28 Oktober 2022 nanti dalam sebuah pameran bertajuk “Sumakala: Dasawarsa Temaram Yogyakarta”. Seperti apa keunikannya?

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Gelar Pameran, Begini Cara Keraton Jogja Kisahkan Kembali Geger Sepehi
Keraton Yogyakarta. ©2020 liputan6.com

Geger Sepehi pada tahun 1812 merupakan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah perjalanan Keraton Yogyakarta. Dalam peristiwa ini, Keraton Yogyakarta dijarah habis-habisan oleh tentara Inggris.

Penyerangan ini menyebabkan banyak anggota keluarga keraton yang tewas. Namun sesungguhnya, jumlah korban tewas pasti dari pihak keraton angkanya tidak diketahui.

Peristiwa Geger Sepehi itu diceritakan kembali oleh Keraton Yogyakarta pada 28 Oktober 2022 nanti dalam sebuah pameran bertajuk “Sumakala: Dasawarsa Temaram Yogyakarta”.

“Momentum ini merupakan upaya Keraton Yogyakarta untuk merekonstruksi ulang kisah-kisah Sultan terdahulu,” kata Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta GKR Bendara dikutip dari ANTARA pada Senin (17/10).

Lantas seperti apa nantinya pameran itu bakal ditampilkan? Berikut selengkapnya:

Peristiwa Kelam

GKR Bendara mengatakan, setelah peristiwa Geger Sepehi, Keraton Yogyakarta mengalami masa yang kelam. Menurutnya, berbagai desakan politik dari Pemerintahan Inggris terhadap Sultan Hamengku Buwono III saat itu berdampak pada ketidakstabilan ekonomi sebab seluruh biaya perang yang ditimbulkan akibat gempuran Inggris ke Yogyakarta harus ditanggung oleh Keraton Yogyakarta. Sedangkan kondisi karut-marut tersebut harus disaksikan oleh GRM Ibnu Djarot, putra mahkota yang masih belia.

Titik klimaksnya, pangeran harus menyaksikan sendiri saat ayahnya meninggal setelah dua tahun bertahta sehingga putra mahkota yang kala itu masih berusia 10 tahun harus menggantikan kedudukan Sultan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono IV.

“Meskipun kedua Sultan, yakni Sultan ketiga dan Sultan keempat mengalami kondisi yang sulit, tetapi berbagai prestasi dalam pemerintahan maupun pembangunan kebudayaan di keraton turut disumbangkan,” kata GKR Bendara.

Tantangan Tersendiri

GKR Bendara mengatakan, pameran “Sumakala” tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Keraton Yogyakarta dan tim pameran sebab setelah peristiwa itu, kondisi keraton benar-benar porak poranda. Sementara itu, benda budaya, kekayaan material, hingga pusaka yang dimiliki keraton kala itu dijarah habis-habisan oleh prajurit Sepoy.

“Sumber-sumber mengenai pemerintahan keraton pada awal abad ke-19 praktis tidak banyak ditemukan. Di sinilah keraton mencoba membaca ulang sejarah semasa 1812-1822 dan mewujudkannya dalam bentuk visual,” kata GKR Bendara.

Karya yang Dipamerkan

Beberapa karya pada masa kedua Sultan yang akan dipamerkan antara lain tari Bedhaya Durmakina, Babad Ngayogyakarta, dan kereta kebesaran dari masing-masing sultan. Selain itu, kegiatan pendukung juga akan digelar pada pameran itu antara lain napak tilas kediaman putra mahkota, menjelajahi ruas penyerangan Geger Sepehi, hingga berbagai diskusi dan lokakarya berkaitan dengan tema pameran.

“Sebagai institusi budaya sekaligus museum yang inklusif, Keraton Yogyakarta juga menggandeng komunitas untuk bekerja sama dalam penyelenggaraan pameran,” kata Bendara.

Rekomendasi