ArtJog 2022 Akan Jadi Pameran Seni Terbesar di Indonesia, Ini 3 Faktanya

Berbagai kelompok masyarakat berhasil dirangkul oleh ArtJog melalui konsep inklusif tersebut. Tahun ini, pameran seni itu juga mengajak komunitas disabilitas dan anak-anak untuk memamerkan karyanya.

Denny Marhendri
Oleh Denny Marhendri - Reporter
ArtJog 2022 Akan Jadi Pameran Seni Terbesar di Indonesia, Ini 3 Faktanya
Instagram - ARTJOG

Tema akhir trilogi ArtJog Arts In Common telah diselenggarakan pada 7 Juli sampai dengan 4 September 2022. Sub-tema ketiga yang bertajuk Expanding Awareness itu dilaksanakan secara offline di Jogja National Museum atau JNM.

Berbagai kelompok masyarakat berhasil dirangkul oleh ArtJog melalui konsep inklusif tersebut. Tahun ini, pameran seni itu juga mengajak komunitas disabilitas dan anak-anak untuk memamerkan karyanya. Berikut fakta menarik mengenai ArtJog 2022 kali ini:

Menanti Pesaing ArtJog

Pada tahun 2008, ArtJog memulai pameran pertamanya yang pada saat itu masih bernama Jogja Art Fair. Sampai saat ini, ArtJog mengklaim pamerannya menjadi festival seni kontemporer terbesar di Indonesia.

Melihat itu, Heri Pemad mengaku menunggu adanya pameran-pameran seni lain yang bisa menampung segala macam seni. Agar nantinya, banyak seniman dari berbagai media, konsep, dan tema bisa memamerkan karyanya.

"Saya menunggu (saingan)," jawab Heri Pemad.

"Tapi ini berbeda ya, bukan untuk disamakan atau ditandingkan, tidak perlu. Karena di Jogja itu banyak festival yang kaya dengan karakter sesama seni rupa, jadi tidak bisa ditandingkan," jelasnya.

"Tapi dampaknya (jika ada pameran seni lain) akan sama-sama mempunyai dampak yang signifikan untuk sosial dan masyarakat sekitarnya. Jadi festival musik, film, seni itu berbeda tapi tujuannya sama," tambahnya.

Jadi Pengingat Pemangku Kebijakan

Melihat konsep inklusif yang menjadi utama dalam pameran ini, maka berbagai macam kelompok masyarakat diajak oleh ArtJog. Merangkul komunitas disabilitas dan anak-anak menjadi salah satu contoh nyata.

Tentunya, segala aspek termasuk fasilitas di dalam ruang pameran seni seharusnya bisa memenuhi kebutuhan seluruh pihak yang berkolaborasi.

Heri Pemad selaku Direktur ArtJog mengatakan bahwa tema ini seharusnya bisa menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan agar lebih memperhatikan aktivitas kesenian seperti ini.

"Kita tidak henti untuk mendesak tetapi tidak cara yang frontal untuk meminta (fasilitas). Lebih lagi kita tidak bisa membangun sendiri," kata Heri Pemad.

"Tetapi dengan cara-cara seperti ini (pameran seni), mereka (pemangku kebijakan) akan memberikan (fasilitas) secara ikhlas," imbuhnya.

Seniman Cilik

Sebanyak 8 seniman cilik berkesempatan memamerkan karyanya di pameran seni yang mengusung konsep inklusif ini. Salah satu senimannya adalah I Made Ananda Krisna Putra.

Seniman cilik yang lahir di Gianyar, 5 Oktober 2006 itu memamerkan 5 karya lukisnya di ArtJog 2022. Tak sendiri, ia bersama beberapa rekannya dari Bali memamerkan lukisan di acara yang mendapat sebutan 'Lebaran Seni' ini.

Ketika melukis, Made Ananda mengaku terinspirasi dari banyak tokoh superhero yang sering dilihatnya di televisi. Tak hanya itu saja, ia juga kerap mendapat referensi dari tokoh wayang yang mengajarkan arti kehidupan.

"Saya mendapat banyak inspirasi dari tokoh-tokoh superhero yang sering saya tonton di TV. Tapi saya juga terinspirasi tokoh- tokoh wayang yang banyak mengandung filosofi kehidupan," tutur Made Ananda.

Rekomendasi