Sujiwo Tejo Akui Kini Makin Sulit Cari Sinden, Ini Alasannya

Sekarang, Sujiwo Tejo mengaku sulit untuk cari sinden pengiring karena suatu alasan.

Denny Marhendri
Oleh Denny Marhendri - Reporter
Sujiwo Tejo Akui Kini Makin Sulit Cari Sinden, Ini Alasannya
Sujiwo Tejo Akui Kini Makin Sulit Cari Sinden, Ini Alasannya. You Tube - Sujiwo Tejo

Agus Hadi Sudjiwo atau populer dengan nama Sujiwo Tejo lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962. Sujiwo Tejo menjadi tokoh yang disegani di Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang menerbitkan berbagai buku yang laris di pasaran.

Tidak hanya menjadi seorang penulis dan penyair saja, ia juga dikenal sebagai seorang dalang. Berbagai tokoh terkenal dan institusi besar di Tanah Air pernah menganggapnya.

Saat ia membawakan cerita pewayangan pun selalu menarik dengan iringan musik tradisional dan para sinden. Namun sekarang, Sujiwo Tejo mengaku sulit untuk cari sinden pengiring karena suatu alasan.

Umur ke-35

Baru-baru ini, Sujiwo Tejo menceritakan kesulitanya itu. Hal itu diungkapkan dalam video perbincangannya bersama Soimah yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada beberapa hari lalu.

Menjadi dalang selama puluhan tahun, tentunya ia mengerti betul tentang karakteristik sinden yang baik. Ia mengatakan bahwa sinden yang sudah mempunyai suara matang itu ketika sudah menginjak umur 35.

"Biasanya sinden itu baru jadi suaranya di umur ke 35," jelas Sujiwo Tejo.

"Problem sekarang, sinden sebelum umur 35 banyak yang 'godaan' untuk main di organ tunggal," imbuhnya.

Organ Tunggal

Penulis buku Rahvayana ini mengatakan banyak sinden yang kemudian tergoda dengan pekerjaan sebagai penyanyi di organ tunggal. Diketahui tangga nada yang digunakan sinden untuk musik tradisional (pentatonis) berbeda dengan tangga nada yang digunakan untuk organ tunggal (diatonis).

"Artinya nadanya sudah pakai do re mi fa sol. Karena organ tunggal itu bisa setiap hari (dapat pekerjaan) bahkan ada sehari yang tiga kali," kata Sujiwo Tejo.

"Nah sebagai dalang aku agak susah nyari sinden. Karena suaranya udah do re mi fa sol," lanjutnya.

Sekolah Karawitan

Ternyata hal itu juga dirasakan oleh Soimah yang juga pandai dalam menyanyikan lagu-lagu tradisional Jawa. Sebelum ia bisa menyanyi lagu campur sari, ia terlebih dahulu belajar menjadi sinden di sekolah karawitan.

"Itu yang saya maksud, Mbah. Kebetulan saya merasakan semua yang Mbah Tejo ceritakan," ucap Soimah.

"Sebelum saya mengenal organ tunggal atau campur sari, itu kan sekolahnya emang di karawitan," pungkasnya.

Rekomendasi