Manfaatkan Tren di Eropa, Jateng Kembangkan Produk UMKM Ini

Di tengah masyarakat Eropa, muncul sebuah tren baru yang muncul karena adanya pandemi COVID-19. Tren inilah yang coba dimanfaatkan pelaku UMKM di Jateng. Namun proses ekspor barang dari Jateng ke Eropa

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Manfaatkan Tren di Eropa, Jateng Kembangkan Produk UMKM Ini
Benua Eropa. ©2014 Merdeka.com/John Upton/grist.org

Masa pandemi yang berlangsung lama telah mengubah tatanan dunia. Cara hidup sehari-hari banyak yang mengalami penyesuaian, terutama dengan diberlakukannya work from home (WFH).

Pada kehidupan penduduk Eropa, rutinitas WFH telah mengubah gaya hidup mereka. Dampaknya tren baru bermunculan. Salah satu tren baru itu adalah demam mengganti dekorasi rumah yang dilakukan oleh warga Belgia. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jateng yang bergerak di bidang furnitur.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mengaku telah melepas 393 unit furnitur dengan nilai Rp113,19 juta ke Belgia. Pelepasan ratusan furnitur ke Belgia itu dilakukan setelah menempuh perjuangan berat dan berdarah-darah.

Lantas bagaimana ceritanya hingga pada akhirnya produk UMKM tersebut mampu dikirim ke Eropa? Berikut selengkapnya:

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati, mengatakan bahwa rencana ekspor produk kayu ke Belgia telah dibahas pada awal tahun 2021. Pada tahapannya, sebelum diberangkatkan ratusan produk furnitur telah dikurasi untuk menyesuaikan dengan selera pasar setempat.

Selain itu, pihak pengrajin juga mengalami kendala bahan baku. Mulanya, produk yang hendak dikirim memiliki volume 42 feet kontainer, namun kini hanya bisa mengekspor 20 feet kontainer.

“Contohnya untuk meja dari bahan kayu fosil. Mulanya dipesan 100 unit. Namun tidak bisa dipenuhi karena bahan meja dari besi dan waktu itu terkendala pemenuhan oksigen untuk proses lasnya. Kan waktu itu oksigen untuk kebutuhan rumah sakit,” kata Ema dikutip dari Jatengprov.go.id pada Jumat (29/10).

Sementara itu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan bahwa proses ekspor produk furnitur dari Jateng ke Belgia membutuhkan perjuangan yang berat. Ia mengatakan tiga kesulitan utama dalam pengiriman itu adalah faktor UMKM, pengiriman melalui kontainer, dan yang terakhir adalah biaya promosi di Belgia.

Namun setelah melalui perjalanan panjang, produk-produk UMKM tersebut pada akhirnya dapat terkirim. Ia berharap keberhasilan ini dapat membuka jalan bagi para pelaku UMKM di Jateng untuk melakukan hal serupa.

“Ini sulit, rumit berdarah-darah. Namun hasil kerja dari kawan-kawan akhirnya berhasil. Ini akan kita replikasi. Mudah-mudahan untuk yang kedua, ketiga, dan keempat jauh lebih baik. Insya Allah lebih gampang karena sudah ada pengalaman,” ungkap Ganjar.

Selain ke Belgia, ada beberapa produk lain dari Jateng yang berhasil menembus pasar internasional di tiga negara yaitu Jepang, Australia, dan India. Untuk pasar Jepang ada kerajinan kain lukis dan eceng gondok.

Sementara untuk pasar Australia ada food and beverage, aksesoris, handicraft, fesyen batik tulis, tenun, briket, plastik, jas hujan, dan sebagainya.

Adapun untuk pasar India produk yang dijual antara lain bumbu eksotis seperti kayu manis, jahe, kunyit, teh, kopi vanila, dan merica.

Rekomendasi