Hubungan Indonesia dan Suriname sebenarnya begitu erat. Hal ini tak lepas dari banyaknya imigran Jawa yang tinggal di sana.
Hal inilah yang membuat Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia, RM Bibid Kuslandinu, menulis buku berjudul “Suriname, Selayang Pandang Negeri Nun Jauh Di Seberang”.
Dalam bukunya, Bibid banyak membahas tentang kehidupan masyarakat di Suriname, khususnya keturunan Indonesia di sana.
Selain itu, dalam buku ini pula ia ingin meluruskan berbagai stereotipe dari orang Indonesia terhadap salah satu negara yang terletak di Benua Amerika Selatan itu.
“Banyak dari orang Indonesia yang pemahamannya kurang tepat soal Suriname. Ada yang mengira Suriname itu di Afrika, ada yang mengira semua penduduk Suriname orang Jawa, presidennya juga orang Jawa. Dengan buku ini, semoga makin banyak orang Indonesia yang mengenal Suriname secara lebih dalam,” kata Bibid dalam bincang buku bersama Penerbit Raja Grafindo, Palu Gama, dan Fakultas Hukum UGM yang diadakan pada Sabtu (28/8).
Buku inipun mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Lalu bagaimana pendapat mereka soal buku yang membahas Suriname secara lebih dalam ini?
Advertisement
Pembahasan Soal Buku
Dengan menyinggung buku yang ditulis Bibid, banyak hal-hal menarik soal kehidupan masyarakat Suriname yang dibahas dalam bincang buku tersebut.
Dari mulai sejarah kedatangan orang Jawa di sana, kondisi politik, sosial dan ekonomi Suriname, kehidupan masyarakat Jawa di sana, perjuangan mereka dalam mempertahankan tradisi, sampai kolaborasi kerja sama yang telah dilakukan antara Pemerintah, pebisnis dan masyarakat Indonesia dengan Suriname.
“Kita punya hubungan Bilateral di mana kita sudah punya kedubes di sana dan Suriname juga punya kedubes di Indonesia, kita juga punya hubungan politik cukup baik, seperti kunjungan presiden dan menteri. Sementara dari ekonomi kita punya pameran Indofair yang selalu ramai dikunjungi orang Suriname. Dari Sosial Budaya, kita punya kerja sama beasiswa seperti Universitas Diponegoro dengan Universitas Anton De Kom, ada sister city juga, dan lain-lain,” kata Bibid dalam bincang-bincang tersebut.
Advertisement
Tanggapan Dosen Suriname
Dr. Marciano Dasai, Dosen Universitas Anton De Kom Suriname, mengaku kenal baik dengan Bibid Kuslandinu sewaktu bertugas di KBRI Suriname.
Sebagai warga Suriname di mana dia punya keturunan Jawa dari garis ibu, Marciano menganggap Indonesia sebagai saudara. Oleh karena itu, berbagai bentuk kerja sama perdagangan dan investasi sangat potensial dibangun antar kedua negara.
“Buku Pak Bibid menjelaskan tentang kondisi Suriname terkini. Di dalamnya disebutkan soal kondisi ekonomi di mana penduduk Suriname yang bekerja untuk pemerintah biasanya cukup berpenghasilan. Mereka bisa membeli mobil dari gaji mereka. Bahkan mereka biasa mengendarai mobil ke pasar. Untuk sekarang ini cukup mudah untuk mendapatkan gaji yang bagus di Suriname. Selain itu di sini juga cukup mudah mencari uang dengan berjualan, apalagi kalau produk yang dijual bagus,” jelas Dr. Marciano dalam acara bincang-bincang itu.
Advertisement
Tanggapan Dosen UGM
Sebagai Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Heribertus Jaka Triyana mengaku bangga mantan mahasiswanya dulu menjadi seorang Diplomat sekaligus penulis buku soal Suriname. Padahal sewaktu jadi mahasiswa dulu, Jaka mengungkapkan kalau Bibid adalah orang yang suka memancing keributan di kelas.
Namun terlepas tentang hubungannya dengan mantan mahasiswanya, Jaka mengaku bahwa buku yang ditulis Bibid cocok untuk dibaca oleh berbagai kalangan termasuk orang awam, mahasiswa, akademisi, maupun orang-orang yang ingin merintis karier menjadi seorang diplomat.
“Isi deskripsi dalam buku ini sangat mudah dipahami. Saya yakin hal ini karena Mas Bibid berada di sana, mengalami sendiri, sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dibaca. Ketika membaca buku ini, kita itu kayak seperti ada di Suriname,” terang Jaka.