Selama pandemi ini, telah banyak warga yang terpapar COVID-19. Biasanya, mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Namun bagi yang gejalanya tidak parah, mereka biasanya melakukan isolasi mandiri di rumah.
Walau begitu, kini banyak rumah sakit yang penuh. Karena itu ada warga dengan gejala COVID-19 yang parah harus isolasi di rumah karena kapasitas rumah sakit yang tak dapat menampung.
Hal inilah membuat beberapa daerah melengkapi diri dengan shelter isolasi. Di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, shelter isolasi COVID-19 sudah dibangun sejak April 2020. Keberadaannya pun menjadi yang pertama di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu bagaimana kisah desa itu hingga memiliki shelter isolasi sendiri? berikut selengkapnya:
Advertisement
Tidak Mudah
Ani Widayati, Lurah Desa Sumbermulyo, mengatakan bahwa untuk membangun shelter COVID-19 itu memang tidak mudah. Namun saat realisasi pembangunannya, ternyata banyak bantuan mengalir.
Dia pun turut mengapresiasi seluruh elemen desa yang ikut berperan dalam pembangunan shelter itu seperti camat, dukuh, babinsa, bhabinkamtibmas, serta masyarakat yang saling menjaga antara satu dengan yang lain.
“Kita di sini kerja dengan memegang tiga hal, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas. Dan jangan ada dusta di antara kita. Semuanya dapat bekerja, gotong royong, sesuai porsi masing-masing,” kata Ani dikutip dari Instagram Humas Pemprov DIY pada Selasa (10/8).
Advertisement
Positif COVID-19 Harus Masuk Shelter
Ani mengatakan, dengan adanya shelter itu, semua pasien COVID-19 harus bersedia masuk shelter agar mudah dipantau. Selain itu untuk memudahkan koordinasi, dibuatlah WhatsApp grup yang beranggotakan pejabat pemerintah desa, tenaga kesehatan, hingga pasien yang bersangkutan.
“Kami juga mandiri melakukan pengadaan oksigen, sebagai perantara dari shelter ke rumah sakit yang membutuhkan,” kata Ani.
Advertisement
Fasilitas Shelter Sumbermulyo
Sebagai shelter COVID-19 pertama di DIY, tempat itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti oksigen, alat cek kesehatan, relawan yang berjaga selama 24 jam, serta kebutuhan logistik berupa makan 3 kali sehari.