Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Punya Hubungan Mistis, Ini Makna Filosofis Perayaan Satu Suro di Yogyakarta

Punya Hubungan Mistis, Ini Makna Filosofis Perayaan Satu Suro di Yogyakarta Nyi Roro Kidul. news.kitook.co.id

Merdeka.com - Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro yang bertepatan juga dengan tanggal 1 Muharram disebut sebagai malam keramat. Pada malam itu, masyarakat Jawa akan mendatangi tempat-tempat yang dianggap sakral untuk melakukan ritual laku batin.

Sementara itu di Kraton Yogyakarta, perayaan malam 1 Suro dilakukan dengan mengadakan tradisi “mubeng beteng” oleh para abdi dalem. Dalam tradisi itu, para abdi dalem mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta pada tengah malam hingga dini hari tanpa berbicara maupun mengenakan alas kaki.

Lalu ada pula prosesi perayaan 1 Suro di Pantai Parangkusumo, Bantul. Dalam prosesi itu, sekelompok kecil massa yang dipimpin seorang dukun melepas barang-barang berharga dan sesajen ke laut untuk dipersembahkan kepada penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul.Lalu seperti apa makna filosofis perayaan malam 1 Suro di Yogyakarta? Berikut selengkapnya:

Peringatan Malam 1 Suro di Pantai Selatan

kidul

news.kitook.co.id

Di Pantai Parangkusumo, Bantul, saat malam 1 Suro, banyak orang datang ke sana untuk mengadakan ritual. Ritual mereka bermacam-macam. Ada yang menggelar prosesi labuhan larung dengan melepas sesajen ke laut, ada yang membakar sesajen, atau ada pula yang sekedar begadang di pantai.

Dilansir dari Liputan6.com, mereka memilih lokasi di Pantai Parangkusumo karena tempat itu dianggap keramat. Berdasarkan kosmologi masyarakat Jawa, pantai itu dianggap sebagai daratan terdekat dengan kerajaan gaib yang menguasai Laut Selatan Pulau Jawa.

Tak hanya itu, menurut Juru Kunci Cepuri Parangkusumo, Surakso Priyono, lokasi itu juga dijadikan sebagai tempat Panembahan Senopati bersemedi sebelum membabat Alas Mentaok untuk kemudian mendirikan Kerajaan Mataram Islam. Dalam semedi itulah, Panembahan Senopati bertemu dengan Nyai Roro Kidul dan mengadakan sejumlah kesepakatan terkait pendirian kerajaan itu.

Makna Tradisi Mubeng Beteng

abdi dalem keraton yogyakarta

©ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Sementara itu di Kraton Yogyakarta, peringatan malam 1 Suro diperingati dengan tradisi mubeng beteng yang dilakukan para abdi dalem. Dulunya, tradisi ini dilakukan para prajurit-prajurit Kraton karena belum ada benteng yang mengelilingi kompleks istana itu. Dalam prosesi Mubeng Beteng, para abdi dalem berjalan mengelilingi kraton sambil memanjatkan doa untuk kedamaian dan keselamatan. Biasanya, tradisi ini akan dimulai dari sisi kiri atau barat kraton.

Makna dari tempat permulaan tradisi itu adalah untuk “ngiwake” (mengkirikan) atau membuang hal-hal buruk. Namun pada tahun 2021, tradisi mubeng beteng ditiadakan karena sedang dalam masa PPKM darurat akibat pandemi Virus Corona.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP