Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi 5 Februari 1933, Pemberontakan Pribumi kepada Belanda

Pemberontakan ini terjadi di atas kapal angkatan Laut HNMLS, yang merupakan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Akibat pemberontakan tersebut, pihak otoritas Belanda melakukan serangan balik yang akhirnya membuat beberapa ABK pribumi tewas.

Jevi Nugraha
Oleh Jevi Nugraha - Reporter
Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi 5 Februari 1933, Pemberontakan Pribumi kepada Belanda
Kapal Tujuh Provinsi. wikipedia.org

Sebuah pemberontakan yang dilakukan pribumi terhadap kolonial Belanda terjadi pada 5 Februari 1933 silam. Pemberontakan ini terjadi di atas kapal angkatan Laut HNMLS, yang merupakan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Akibat pemberontakan tersebut, pihak otoritas Belanda melakukan serangan balik yang akhirnya membuat beberapa ABK pribumi tewas.

Tepat hari ini, 5 Februari pada 1933 silam, menjadi peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Penyebab pemberontakan tersebut terjadi lantaran pemotongan gaji oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tak terima dengan keputusan ini, para ABK asal Indonesia melakukan pemberontakan.

Ada sejumlah latar belakang dan penyebab pemberontakan ini yang penting diketahui masyarakat Indonesia. Berikut kronologi dan penyebab peristiwa Kapal Tujuh Provinsi yang merdeka.com lansir dari Liputan6.com:

Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi pada 5 Februari 1933 adalah aksi pemberontakan yang dilakukan pribumi terhadap kolonial Belanda. Pemberontakan ini terjadi di atas kapal angkatan laut HNLMS atau Her Netherlands Majesty’s Ship, yang merupakan Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Pemberontakan Kapal Tujuh Provinsi terjadi karena dipicu oleh kasus pemotongan gaji secara tidak adil oleh Hindia Belanda terhadap pekerja pribumi. Karena tak terima, para pelaut Indonesia melakukan aksi mogok bekerja pada 27 Januari 1933 untuk menolak penurunan gaji yang diputuskan oleh De Jonge, Gubernur Hindia-Belanda saat itu.

Kabar tersebut terdengar hingga ke kapal Tujuh yang sedang berlabuh di Sabang, Aceh, melalui pemberitaan radio. Kemudian pada tanggal 30 Januari 1933, pemogokan kerja kembali di Surabaya. Di mana para pemimpin pelaut Kapal Tujuh di Aceh melakukan rapat dan mereka mengancam para ABK untuk tidak meniru kejadian tersebut.

Namun, hal itu justru membuat dua orang ABK yang berdarah Indonesia memimpin gerakan untuk memberontak di atas Kapal Tujuh. Mereka hendak membawa Kapal Tujuh ini ke Surabaya.

Pada 4 Februaei 1933, sekitar pukul 22.00 malam, peluit panjang berbunyi untuk menandai dimulainya pemberontakan. Kapal terus berlayar, pada 5 Februari 1933 sudah berada di Pulau Breueh, hingga akhirnya pada 10 Februari sampai di Selat Sunda. Begitu memasuki Selat Sunda, kapal perang Hr. Ms. Java, dikawal dua kapal terpedo.

Penyebab peristiwa Kapal Tujuh Provinsi terjadi karena kasus pemotongan gaji yang tidak adil. Saat itu, pemerintah Hindia Belanda memotong gaji sebesar 17 persen, yang diumumkan pada 1 Januari 1933.

Penurunan gaji pegawai tersebut merupakan upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengurangi defisit anggaran belanja akibat depresi ekonomi yang melanda dunia. Namun, keputusan tersebut mendapat perlawanan hebat dari semua pihak, baik pegawai berkebangsaan Eropa, Indonesia, maupun Eurasia.

Pemberontakan di atas kapal Zeven Provincien ini diatasi dengan cara pengeboman kapal tersebut oleh pesawat udara angkatan laut Belanda. Pada 10 Februari 1933, tepat pukul 09.18 pagi, bom pertama dijatuhkan, tetapi belum mengenai sasaran.

Bom kedua dijatuhkan dan tepat mengenai geladak kapal. Pemberontak pun memberikan perlawanan dan beberapa orang mengalami luka-luka. Sebab, kapal tersebut tidak dilengkapi dengan meriam penangkis serangan udara.

Melihat banyak korban yang bergelimpangan, Kawalirang yang mengganti posisi Paradja sebagai pemimpin, akhirnya menyatakan menyerah dan meminta bantuan medis segara. Total 545 orang awak pribumi dan 81 awak Belanda ditahan. Sementara, para pemberontak pribumi yang masih hidup dibawa dengan kapal Hr. Ms Java dan pemberontak Belanda dibawa dengan kapal Hr. Ms. Orion menuju Pulau Onrust.

Akibat serangan itu, 20 orang awak pribumi dan 3 awak Belanda dinyatakan tewas. Sementara itu, sebagian para pemberontak kapal De Zeven Provincien akhirnya ditahan di Pulau Onrust, di Kepulauan Seribu, lepas pantai Batavia. Sebagian besar pemberontak meninggal dan dimakamkan di pulau tersebut.

Rekomendasi