Peristiwa 14 Juli: Penjara Bastille Diserang, Begini Sejarah Awal Revolusi Prancis
Merdeka.com - Feodalisme merupakan salah satu paham politik yang populer dan banyak diterapkan di berbagai negara pada zaman dahulu. Negara yang menganut paham feodalisme biasanya menerapkan sistem sosial dan politik berdasarkan hierarki kekuasaan. Pelaku utama dari sistem ini tidak lain adalah golongan bangsawan yang berusaha menguasai wilayah-wilayah dan mengendalikan masyarakat kelas bawah.
Tingkatan sosial yang jauh berbeda pada sistem feodal menimbulkan kesenjangan masyarakat yang meresahkan. Di mana masyarakat kelas bawah dibebani dengan aturan sistem pajak yang berat, sementara kaum bangsawan yang menjadi penguasa mendapatkan keuntungan lebih. Kondisi ini juga dialami oleh masyarakat Prancis pada kepemimpinan Raja Louis XVI.
Beban masyarakat Prancis yang begitu berat pada masa pemerintahan Raja Lois XVI, menimbulkan banyak kesengsaraan, terutama dari segi finansial. Hal inilah yang mendorong semangat masyarakat menyerang Penjara Bastille untuk menciptakan revolusi guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Penyerangan yang terjadi di Penjara Bastille terjadi pada 14 Juli 1789.
Peristiwa 14 Juli 1789 ini menjadi sejarah penting yang terus diingat oleh masyarakat karena menjadi awal mula terwujudnya Revolusi Prancis. Bukan hanya berdampak pada sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat Prancis, terdapat berbagai pengaruh lainnya yang dirasakan oleh dunia.
Dilansir dari beberapa sumber, berikut kami merangkum sejarah peristiwa 14 Juli 1789 sebagai awal mula Revolusi Prancis dan berbagai pengaruh yang ditimbulkan.
Peristiwa 14 Juli 1789: Penyerangan Penjara Bastille

©2021 Merdeka.com/liputan6.com
Memahami peristiwa 14 Juli 1789 sebagai awal mula terjadinya Revolusi Prancis tidak lepas dari sejarah penyerangan Penjara Bastille. Sebelumnya, masyarakat Prancis mengalami kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi yang semakin buruk selama pemerintahan Raja Loius XVI selama satu dekade. Hal ini ditandai dengan beban finansial besar yang ditanggung masyarakat atas kebijakan pajak yang diterapkan oleh penguasa.Hal inilah yang mendorong semangat masyarakat untuk bersatu dan membuat perubahan.
Upaya ini dimulai pada 14 Juli 1789 di mana masyarakat datang menyerbu Penjara Bastille untuk mengamankan persenjataan. Ini dilakukan karena masyarakat curiga pemerintah ingin membungkam dan menghalangi upaya revolusi yang sedang dilakukan rakyat Prancis. Peristiwa 14 Juli ini ternyata menimbulkan pertumpahan darah, di mana pemimpin Penjara Bastille, Bernard-René Jourdan de Launay, tewas akibat amukan massa.
Eksekusi Mati Raja Louis XVI dan Ratunya
Situasi yang semakin genting setelah terjadinya peristiwa 14 Juli atau penyerbuan di Penjara Bastille, membuat Raja Louis XVI kaget dan berusaha untuk mengambil simpati masyarakat untuk menghimpun dukungan. Sayangnya, sebulan setelah itu rakyat berhasil menghentikan sistem feodalisme di Prancis. Bukan hanya itu, Raja Louis XVI dan Ratunya dieksekusi mati karena ketidakadilan yang dilakukan selama memimpin negara Prancis.
Hukuman eksekusi mati tersebut ternyata masih berlanjut beberapa tahun setelahnya. Bahkan hukuman ini masih diterapkan pada Raja terakhir Prancis yang dipenggal di tengah gejolak politik selama Revolusi. Bukan hanya itu, 16 ribu orang lainnya juga mendapatkan hukuman penggal yang sama. Sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa Prancis, kini setiap tanggal 14 Juli dirayakan sebagai hari libur nasional untuk mengenang sejarah yang ada.
Monarki Dihapuskan
Setelah mengetahui sejarah peristiwa 14 Juli 1789 sebagai awal mula Revolusi Prancis, terdapat beberapa efek atau pengaruh yang ditimbulkan setelahnya. Pengaruh Revolusi Prancis yang pertama tentu saja ditandai dengan dihapusnya sistem pemerintahan Monarki atau Kerajaan. Penghapusan sistem Monarki dilakukan pada tahun 1792 dan diganti dengan bentuk Pemerintahan Republik.
Meskipun monarki Bourbon dipulihkan setelah kejatuhan Napoleon Bonaparte pada tahun 1815, monarki itu hanya bertahan hingga tahun 1830 ketika akhirnya digulingkan dalam Revolusi Juli . Selama Revolusi, penjaga kerajaan monarki Bourbon digantikan oleh Garda Nasional, tentara revolusioner yang berperan untuk melindungi pencapaian revolusi Prancis Pada akhir tahun 1793, Garda Nasional terdiri dari 700.000 tentara terlatih yang melindungi orang dan harta benda mereka.
Perubahan Kepemilikan Tanah di Perancis

©2018 Merdeka.com
Pengaruh dari peristiwa 14 Juli sebagai awal mula Revolusi Prancis berikutnya yaitu adanya perubahan pada sistem kepemilikan tanah di Prancis. Manorialisme adalah bagian integral dari feodalisme di mana petani menjadi tergantung pada tanah mereka dan pada tuan mereka.
Persepuluhan adalah sepersepuluh dari produksi tahunan atau penghasilan diambil sebagai pajak untuk mendukung gereja. Kedua pajak ini dihapuskan selama Revolusi Prancis. Penghapusan pajak ini membawa banyak kelonggaran bagi para petani.
Selain itu, pecahnya perkebunan besar yang dikendalikan oleh Gereja dan kaum bangsawan selama Revolusi, juga mengurangi beban masyarakat.
Bangkitnya Nasionalisme Modern
Pengaruh dari peristiwa 14 Juli setelah terjadinya Revolusi Prancis selanjutnya yaitu bangkitnya nasionalisme modern. Nasionalisme adalah ideologi yang menekankan kesetiaan, pengabdian atau kesetiaan kepada suatu bangsa dan menempatkan kewajiban-kewajiban tersebut di atas kepentingan individu atau kelompok lain. Revolusi Prancis memprakarsai gerakan menuju negara-bangsa modern dan memainkan peran kunci dalam kelahiran nasionalisme di seluruh Eropa.
Ketika tentara Prancis di bawah Napoleon Bonaparte merebut wilayah, ideologi Nasionalisme menyebar ke seluruh Eropa. Revolusi tidak hanya berdampak pada Nasionalisme Prancis tetapi memiliki dampak yang mendalam dan bertahan lama pada intelektual Eropa.
Karena itu, perjuangan untuk pembebasan nasional menjadi salah satu tema terpenting dari politik Eropa dan dunia abad ke-19 dan ke-20.
Penyebaran Liberalisme
Penyebaran paham liberalisme juga menjadi salah satu pengaruh besar yang ditimbulkan setelah peristiwa 14 Juli atau gerakan Revolusi di Prancis. Liberalisme adalah filsafat politik dan moral yang didasarkan pada kebebasan dan kesetaraan. Selama Revolusi Prancis, aristokrasi turun-temurun digulingkan dengan slogan "kebebasan, kesetaraan, persaudaraan" dan Prancis menjadi negara bagian pertama dalam sejarah yang memberikan hak pilih universal bagi pria.
Ada dua peristiwa penting yang menandai kemenangan liberalisme selama Revolusi. Yang pertama adalah penghapusan feodalisme di Prancis pada malam 4 Agustus 1789. Ini menandai runtuhnya hak-hak dan hak-hak istimewa feodal dan tradisional lama.
Kedua adalah pengesahan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara pada Agustus 1789. Deklarasi ini dianggap sebagai dokumen dasar dari liberalisme dan hak asasi manusia
Penghancuran Oligarki dan Pertumbuhan Ekonomi di Eropa

www.usatoday.com
Penghancuran oligarki dan pertumbuhan ekonomi di Eropa juga menambah daftar pengaruh setelah terjadinya peristiwa 14 Juli di Prancis. Revolusi Prancis memiliki dampak yang mendalam pada negara-negara tetangga. Tentara Prancis di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte melakukan invasi ke negara sekitar seperti Belanda, Italia, Swiss, dan sebagian Jerman.
Invasi Prancis ke wilayah-wilayah ini berhasil menghilangkan hambatan hukum dan ekonomi yang telah melindungi kaum bangsawan, pendeta, serikat pekerja, dan oligarki perkotaan. Sebaliknya prinsip persamaan di depan hukum ditegakkan. Revolusi dengan demikian menghancurkan kekuatan oligarki dan elit yang menentang perubahan ekonomi.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya