Menyelami Sejarah Semar Mendem, Lemper Khas Keraton Solo

Sejarah menyebutkan bahwa penggunaan nama Semar awalnya dikarenakan kuliner ini menyerupai bentuk tubuhnya yang gemuk dan berisi.

Merdeka Jogja
Oleh Merdeka Jogja - Reporter
Menyelami Sejarah Semar Mendem, Lemper Khas Keraton Solo
Sejarah menyebutkan bahwa penggunaan nama Semar awalnya dikarenakan kuliner ini menyerupai bentuk tubuhnya yang gemuk dan berisi. (merdeka.com)

Menyelami Sejarah Semar Mendem, Lemper Khas Keraton Solo

Semar Mendem merupakan salah satu kuliner tradisional khas Keraton Solo yang selalu disajikan setiap hari. Termasuk saat kegiatan perayaan seperti Sekaten, Suro, dan lainnya. 


Tak hanya di Keraton, kuliner ini juga diperjualbelikan secara bebas bersama dengan jajanan lainnya.

Bahan utama yang digunakan untuk membuat semar mendem adalah beras ketan dan bagian tengahnya diisi dengan ayam suwir. 

Secara kasat mata, tampilan semar mendem terlihat mirip dengan makanan lemper. 


Namun, jika dilihat lebih detail, kedua makanan ini memiliki sedikit perbedaan. 

Semar mendem dibalut dengan kulit tipis yang berisi campuran telur, tepung terigu, dan air sehingga memiliki tampilan berwarna kuning. Sementara kudapan lemper dibalut dengan daun pisang. 
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dengan balutan telur dadar tipis ini membuat semar mendem memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan lemper.

Sejarah Semar Mendem

Kata Semar diambil dari nama salah satu tokoh di pewayangan Jawa yang cukup tersohor, yaitu Semar. Ia merupakan tokoh utama dalam Punakawan dan digambarkan sebagai penasihat para kesatria dan pemimpin pada saat itu. 


Dalam pewayangan Jawa, Semar dikisahkan sebagai titisan dewa yang memiliki kekuasaan, kerap mengajarkan berbagai hal dan membawa pencerahan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia pun dilambangkan sebagai seseorang arif lagi bijaksana yang dijadikan panutan. 

Sementara, kata ‘mendem’ dalam bahasa Jawa berarti mabuk. Dengan demikian, semar mendem berarti Semar yang sedang mabuk.
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sejarah menyebutkan bahwa penggunaan nama Semar awalnya dikarenakan kuliner ini menyerupai bentuk tubuhnya yang gemuk dan berisi.


Ketika ia mengonsumsi makanan, Semar tidak berhenti mengunyah dan tampak seperti orang ketagihan atau mabuk.
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Selanjutnya, semar mendem digunakan untuk mengingatkan para raja agar tidak mabuk, terbuai, ataupun tergiur dengan kekuasaan dan harta yang diiming-imingi. Sebagai seseorang yang memiliki kuasa, pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan rakyat untuk membangun masyarakat sejahtera.

Rekomendasi