Pada zaman penjajahan, seluruh lapisan masyarakat ikut bertempur melawan penjajah. Tak peduli etnisnya, mereka berjuang bersama. Termasuk mereka yang berasal dari etnis Tionghoa.
Bukti perjuangan etnis Tionghoa melawan penjajah itu bisa dilihat di Museum Liem Heritage Rembang. Museum itu baru diresmikan pada hari Sabtu (11/11) lalu.
Di museum itu pengunjung disuguhkan dengan foto-foto tokoh etnis Tionghoa Jawa yang berjasa dalam perjuangan melawan VOC tahun 1740 hingga tahun 1753.
Liem Heritage Rembang beralamat di Jalan Erlangga Rembang dengan nuansa Tionghoa yang kental. Rumah tempat museum itu berada telah berusia ratusan tahun dan mulai dipugar sejak tahun 2018.
Rumah itupun menjadi saksi sejarah pertempuran etnis Tionghoa Jawa melawan VOC. Gambaran sengitnya pertempuran itu terpajang dalam berbagai foto yang terpajang di dinding rumah.
Advertisement
“Museum ini bisa membangkitkan budaya. Karena kalau tidak ada budaya, tidak ada DNA bangsa. Ini adalah DNA bangsa. DNA bangsa yang khas, khususnya peran peranakan dalam dunia Jawa,”
kata Peter Carey, sejarawan asal Inggris, bicara tentang pentingnya keberadaan museum tersebut seperti dikutip dari kanal YouTube Liputan6 pada Senin (19/11).
Liem Heritage Rembang pertama kali ditemukan oleh seorang pelestari budaya bernama Udaya Halim.
Saat itu ia menemukan rumah ini dalam kondisi kumuh dan tak terawat. Melihat kondisinya yang memprihatinkan, Udaya memutuskan untuk memugar bangunan itu.
Udaya bermimpi suatu saat rumah itu bisa menjadi museum bersejarah perjuangan etnis Tionghoa Jawa.
Advertisement
“Yang membuat bangunan ini sebetulnya orang Jawa. Jadi dari segi arsitekturnya dan segala macam, semuanya ada percampuran. Jadi tadi ada 8-9 guru besar dari arsiterktur, sejarah, dan semuanya untuk sama-sama menyatukan visi bahwa rumah ini bisa berfungsi untuk masyarakat luas,”
Kata udaya terkait visinya memugar bangunan tersebut.
Restorasi rumah Liem Heritage dilakukan secara mandiri oleh Udaya Halim. Ia berharap pemerintah bisa menyulap bangunan tersebut jadi museum bersejarah sehingga bisa menjadi destinasi wisata edukasi baru di Rembang.
Advertisement