Mengundurkan Diri dari Grup Band Seventeen, Ifan Ungkap Alasannya
Merdeka.com - Seventeen merupakan grup band yang terbentuk di Yogyakarta pada tahun 1999. Puluhan tahun berkarya, para personel Seventeen mengalami nasib nahas saat mengisi acara di Pantai Tanjung Lesung pada akhir 2018 lalu.
Sang vokalis, Ifan, menjadi satu-satunya personel Seventeen yang selamat. Formasi Seventeen yang kini tinggal menyisakan Ifan seorang membuat banyak orang beranggapan jika band ini telah bubar.
Belum lama ini, Ia mengabarkan akan segera merilis single baru. Namun, sejak Rabu (18/11) pria yang bernama lengkap Riefian Fajarsyah ini malah justru mengundurkan diri.
Lewati Salat Istikharah

Instagram - Ifan Seventeen
Hal itu diungkapkan oleh Ifan dalam unggahan Instagram pribadinya. Ifan mengungkapkan bahwa Ia tidak lagi menjadi vokalis Seventeen karena beberapa alasan.
Salah satunya adalah adanya pihak yang dirugikan dengan digunakannya nama Seventeen.
"TIDAK LAGI JADI VOKALIS SEVENTEEN. Alhamdulillah setelah melewati beberapa shalat istikharah dan juga dikarenakan ada pihak yang merasa dirugikan dengan dipakainnya nama band Seventeen, aku dengan ini menyatakan untuk melepaskan diri dari vokalis Seventeen sebagai sebuah band," tulis Ifan.
Tak Ambil Keuntungan
Ifan mengaku bahwa setelah Seventeen kehilangan tiga personel, dirinya tak pernah sepeserpun mengambil keuntungan dari bencana Tsunami Selat Sunda yang menimpa mereka saat sedang tampil di Tanjung Lesung, Banten, pada 2018 lalu.
Selain mengumumkan pengunduran dirinya dari band Seventeen, Ifan pun berpesan kepada pihak-pihak yang ingin menggunakan nama tersebut. Agar tidak mengeksploitasi traged Tsunami Selat Sunda yang menewaskan rekan-rekannya di Seventeen, Herman, Bani, dan Andi.
"Hampir 2 tahun setelah musibah menimpa kami, tidak ada satupun hal yang aku lakukan untuk mengambil keuntungan atas itu, karna itu sama sekali bukan keuntungan. Bukan kehebohan dan euphoria yang patut digembor2kan," jelas Ifan.
Proses Selanjutnya
Lebih lanjut, Ifan menjelaskan apa langkah selanjutnya yang akan dipilihnya. Ia mengaku akan berpikir dan kemudian berproses lagi.
Ia juga menilai bahwa hal yang pantas dibanggakan sosok legenda adalah sebuah karya. Bukan sesuatu yang berdasarkan kejadian.
"Aku memilih berdiam dan berusaha untuk membentuk proses selanjutnya, mencoba berdamai dengan kesakitan untuk membangun karya lainnya. Karna kata legend menurutku dinilai dari sebuah karya, bukan dari sebuah kejadian. Dan aku tau begitupun menurut saudara-saudaraku," lanjutnya.
Selalu di Hati

©2019 Merdeka.com
Ifan juga berjanji akan selalu mengenang kebersamaannya dengan ketiga personel Seventeen yang sudah tiada.
"Apapun nama ataupun panggilannya, mereka akan selalu hidup dihati, bukan atas embel-embel atau panggilan apapun. Home is not where you at, but with who you stay," tulis Ifan.
(mdk/dem)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya