Ada sebuah tradisi menarik di Dukuh Tambak, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen.
Pada tiap malam Jumat Wage minggu pertama Bulan Suro, masyarakat di sana berbondong-bondong ke tanah lapang di pojokan desa.
Tanah lapang yang biasanya sepi pada hari itu berubah menjadi pasar yang ramai bahkan hingga malam hari.
Warga setempat menyebutnya Pasar Tambak. Dikutip dari Sragenkab.go.id, pasar ini terbilang unik karena hanya muncul setahun sekali. Tak hanya itu, Pasar Tambak juga punya tradisi di mana proses jual beli dilakukan dengan syarat pembeli tidak boleh menawar.
Sumber foto: YouTube OYO OYO Network
“Tidak boleh ditawar tersebut, diyakini oleh pembeli dan pedagang bisa mendapat berkah. Selain itu sebagian warga juga percaya jika membeli tanpa ditawar bisa membuat masakan lebih enak dan sedap,”
Advertisement
terang Tatik, salah seorang pedagang Pasar Tambak.
Barang-barang yang diperdagangkan di pasar ini antara lain peralatan dapur, peternakan, dan pertanian. Sekitar 20 pedagang yang mayoritas merupakan Dukuh Tambak turut menjual dagangannya di pasar ini.
Sumber foto: YouTube OYO OYO Network
Menurut warga, tradisi Pasar Tambak ini sudah dilakukan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Dilansir dari Sragenkab.go.id, asal usul Pasar Tambak tidak bisa lepas dari aliran Sungai Bengawan Solo.
Warga percaya Sungai Bengawan Solo pernah mengalir di sebelah desa mereka. Suatu hari, ada seorang pangeran yang singgah di Dukuh Tambak karena kehabisan persediaan saat mengarungi Sungai Bengawan Solo.
Advertisement
Pada Agustus 2023 lalu, Bupati Sragen ikut meramaikan tradisi tahunan itu. Ia mengucapkan banyak terima kasih pada warga yang telah berpartisipasi pada acara tersebut.
“Jadi kalau beli di Pasar Tambak ini tidak boleh menawar. Misal tadi saya beli caping harga Rp25 ribu ya bayar segitu. Kenapa tidak menawar? Karena ingin mendapat berkah,” kata Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.
Dalam kesempatan itu pula, Bupati beserta jajarannya juga turut belanja beraneka ragam peralatan rumah tangga dari bambu hingga sabit, caping, pecut, dan celengan.
Di akhir acara, ia menebar ratusan jenis ikan mulai dari lele, mujair, nila dan patin. Ratusan ikan itu kemudian ditangkap oleh ratusan warga setempat.