Mengenal Syam Terrajana, Pelukis Jogja yang Tak Berani Melukis Mata
Merdeka.com - Tiap pelukis memiliki ciri khas masing-masing dalam menghasilkan karya-karyanya. Salah satunya karya-karya yang dihasilkan oleh seorang pelukis bernama Syam Terrajana.
Bagi Syam, mata adalah jendela jiwa. Maka ia tak mau main-main dengan melukis mata dalam setiap lukisannya.
Tak heran, dalam 15 lukisan Syam yang dipajang pada sebuah pameran di RuangDalam Art House Yogyakarta pada 5-15 Maret 2021, tak ada satupun yang menampilkan sorot mata. Sosok-sosok dalam lukisannya matanya bolong dan pandangannya kosong.
“Takut dengan sorot mata. Jadi saya pilih untuk tidak membuat kesan lewat mata,” kata Syam dikutip dari Liputan6.com pada Minggu (21/3)
Lalu, bagaimana cara Syam dalam menyampaikan pesan lewat karya-karya lukisannya? Berikut selengkapnya:
Syam Belajar Melukis

©2021 Liputan6.com
Sebenarnya, Syam Terrajana merupakan seorang jurnalis. Kecintaannya terhadap dunia lukis bermula saat sedang jalan-jalan.
Ia melihat sebuah buku sketsa tebal lengkap dengan alat warnanya di sebuah toko buku. Entah kenapa saat itu ia merasa tertarik membeli buku sketsa itu. Setelah membelinya, ia mulai menggambar wajah teman-temannya.
Kemudian saat pindah ke Yogyakarta, ia bertemu dengan Gusmen Heriadi, seorang perupa Indonesia. Ia pun mulai belajar melukis dengan Gusmen dan mengikuti pameran bersama di berbagai kota seperti Amazing Things di Canggu, Bali pada tahun 2017, Maaledungga Gorontalo pada 2019, dan Art Jakarta 2020 Virtual Artfair.
Setelah tiga tahun belajar melukis, Gusmen memberikan ruang bagi Syam untuk mengadakan pameran tunggal di art space miliknya.
Cara Syam Menyampaikan Emosi

©2021 Liputan6.com
Meski seluruh lukisannya bermata bolong dan tatapannya kosong, namun Syam punya cara dalam menggambarkan emosi melalui sosok-sosok dalam lukisannya. Dalam setiap lukisan, ia selalu menambahkan sebuah coretan warna yang seolah tidak sinkron dengan lukisan.
Selain itu, menurut Syam, lukisan dengan mata bolong justru membuka ruang tafsir yang begitu beragam. Setiap pengunjung yang datang dan melihat lukisan pun bebas menafsirkan kondisi yang sedang terjadi di dalam lukisan.
Secara keseluruhan, pameran lukisan tunggal yang bertajuk Pada Ruang yang Bercerita menjadi cara Syam Terrajana merespon sejarah. Sejak kecil, dia memang sudah terbiasa membaca buku-buku yang berbau sejarah.
Lukisan-lukisan Sejarah

©2021 Liputan6.com
Dalam menyajikan karya-karyanya, Syam mengatakan bahwa kebanyakan lukisannya memiliki latar sejarah. Ia pun memanfaatkan kolase foto-foto orang yang hidup pada masa kolonial.
“Karya-karya dalam pameran ini semua berlatar sejarah. Jadi semacam merespon sejarah dalam sudut pandang saya,” kata Syam dikutip dari Liputan6.com.
Dalam mencari foto-foto jadul itu, ia memanfaatkan situs KITLV milik Universitas Leiden yang sebenarnya bisa diakses siapapun secara cuma-cuma. Tetapi ia tetap mengirim pemberitahuan resmi untuk mengambil sejumlah foto yang akan digunakannya dalam pameran lukisan.
Tonjolkan Identitas Indonesia Timur
Menurut kurator lukisan Sujud Dartanto, Syam Terrajana adalah seniman yang membicarakan sejarah. Dalam pameran itu, ia sengaja menggali sejarah Indonesia yang kemudian dituangkan dalam lukisan.
Namun Sujud menambahkan, bakan Syam tak hanya dilihat dari seni rupa, melainkan caranya menciptakan narasi yang puitis dan indah.
“Karya-karya Syam Terrajana ini kental sekali dengan identitas ketimuran, seperti yang diketahui dia besar dan tumbuh di Gorontalo,” kata Sujud.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya