Mengenal Ni Thowok, Permainan Boneka Bernuansa Magis Ala Putri Kraton Surakarta
Merdeka.com - Di dalam keputren, tempat tinggal para putri kraton, biasanya anak-anak berkumpul dan bermain bersama. Mereka tak hanya berasal dari kalangan putri, namun ada pula anak laki-laki putra raja yang belum akil balig.
Kebanyakan permainan mereka merupakan permainan orang-orang pedesaan yang berasal dari luar kraton. Permainan itu masuk ke dalam kraton berkat interaksi yang terbangun antara para putri raja dengan para abdi dalem yang berasal dari kalangan masyarakat biasa.
Tak heran apabila permainan mereka seperti dhakon, gobak sodor, cempa rowo, jaranan, serta cublak-cublak suweng juga dijumpai pada masyarakat desa. Namun, di antara itu semua ada satu permainan yang unik. Permainan itu bernama Ni Thowok.
Berbeda dari permainan desa kebanyakan, permainan ini bernuansa magis. Pada awalnya, permainan ini merupakan sebuah ritual dengan tujuan tertentu, seperti memanggil hujan dan untuk pengobatan. Lantas bagaimana ceritanya akhirnya Ni Thowok bisa menjadi permainan di kalangan putri kraton?
Ritual Magis

©Ullensentalu.com
Dilansir dari laman Ullensentalu.com, Ni Thowok, atau bisa disebut juga Ni Thowong, merupakan permainan anak yang bernuansa magis. Permainan itu dimainkan saat bulan purnama dengan boneka yang terbuat dari tempurung kelapa, berbadan anyaman bambu, dan diberi pakaian menyerupai pengantin perempuan.
Pada awalnya, permainan itu merupakan ritual bernilai magis untuk tujuan tertentu seperti pengobatan. Kultur masyarakat Jawa pada saat itu yang masih memuja roh leluhur membuat mereka percaya boneka Ni Thowok akan dirasuki roh halus. Di tengah permainan, boneka Ni Thowok akan bergerak mengikuti iringan mantra dan tembang yang dilantunkan para pemain.
Disukai Putri Kraton Surakarta
Dalam sejarahnya, Ratu Timur, yaitu putri Paku Buwono VI yang bertahta pada tahun 1823-1830 sangat gemar menyelenggarakan permainan Ni Thowok. Setelah Ratu Timur wafat, permainan ini sempat jarang dimainkan. Pada masa pemerintahan Paku Buwono X (1893-1939), sang putri Ratu Pembayun sangat menyukai permainan ini.
Berbeda dengan saat dimainkan anak-anak putri pedesaan, di Kraton, permainan ini diselenggarakan dengan lebih mewah. Contohnya, boneka Ni Thowok didandani dengan pakaian lengkap berupa kain batik tulis dengan riasnya. Lalu, iringan musik pada permainan tak menggunakan musik seadanya, melainkan diiringi gamelan milik kraton tersebut.
Bukan Permainan Lelembut

Liputan6.com
Walaupun bernuansa magis, sebenarnya permainan Ni Thowok bukan sebuah ritual pemujaan terhadap lelembut atau sejenisnya. Menurut peneliti budaya Jawa dari Yayasan Cahaya Nusantara Yogyakarta, Hangno Hartono, permainan ini justru mengajak para penghuni alam lain itu untuk bergembira bersama. Sebab menurutnya, dalam budaya Jawa tak ada yang namanya istilah menyakiti atau mengganggu sesama ciptaan Tuhan.
“Di Jawa, istilah musuh saja sebenarnya tidak ada. Kalaupun sekarang ada itu sebenarnya kata serapan. Itulah sebabnya manusia dan semua makhluk ciptaan Tuhan bisa hidup berdampingan, bergembira bersama,” terang Hangno dikutip dari Liputan6.com pada Kamis (7/1).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya