Melihat Inovasi Ibu-Ibu di Bantul Cegah Stunting, Buat Produk Abon Lele Tinggi Nilai Gizi

Ketersediaan bahan baku lele yang melimpah serta kandungan gizi yang baik membuat usaha tersebut terus berkembang.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Melihat Inovasi Ibu-Ibu di Bantul Cegah Stunting, Buat Produk Abon Lele Tinggi Nilai Gizi
Melihat Inovasi Ibu-Ibu di Bantul Cegah Stunting, Buat Produk Abon Lele Tinggi Nilai Gizi (Merdeka.com)

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Pedukuhan Wonotingal, Kelurahan Poncosari, Bantul, punya cara sendiri dalam mengatasi stunting.

Mereka mengembangkan usaha pengolahan abon dari daging ikan lele yang dapat bermanfaat untuk mencegah stunting.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pengelola UMKM Minarasaku Abon Lele Wonotingal, Guritna Candra Dewi, mengatakan bahwa usaha itu berawal dari ibu-ibu di desa tersebut yang ingin agar anak-anaknya gemar mengonsumsi ikan. Di sini lele dipilih karena pedukuhan tersebut dekat dengan sentra budidaya lele.

“Ibu-ibu ingin agar anak-anak di sini bisa makan dengan enak. Akhirnya kami membuat abon, kalau abon itu kan butuh lele yang besar-besar. Di sekitar sini bahannya ada, dan lele itu gizinya juga baik mengandung fosfor, omega 3, dan lemaknya sedikit,”

kata Guritna dikutip dari ANTARA pada Jumat (8/3).

Guritna mengatakan bahwa olahan lele yang belum begitu ramai di pasaran adalah abon lele. Padahal abon lele berpeluang menjadi sebuah usaha.

Oleh karena itu peluang tersebut ditangkap ibu-bu di Dusun Wonotingal, Poncosari, Bantul, yang tergabung ke dalam kelompok UMKM Minarasaku.

Menurut Guritna, ketersediaan bahan baku lele yang melimpah serta kandungan gizi yang baik membuat usaha tersebut terus berkembang.

Walaupun baru dimulai pada Juli 2023, namun usaha pengolahan abon lele dapat meraih omzet jutaan rupiah dalam sebulan.

Guritna mengatakan, untuk satu kali produksi olahan abon lele, butuh waktu sekitar lima jam. Daging ikan lele yang digunakan dalam olahan abon lele merupakan lele berukuran besar dengan berat sekitar satu setengah kilogram.

“Untuk memudahkan pengolahannya, kami butuh lele yang besar. Satu lele paling tidak beratnya satu setengah kilogram,” kata Guritna. 

Dalam memproduksi Lele, Guritna dibantu oleh 11 tenaga perempuan yang berasal dari warga sekitar.

Abon lele yang telah berhasil produksi dijual dengan harga Rp25 ribu untuk kemasan 100 gram, dan Rp13 ribu untuk kemasan 50 gram. Sementara abon lele curah tanpa kemasan dijual dengan harga Rp195 ribu per kilogram.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Untuk sementara ini kami produksi hanya seminggu dua kali. Sekali produksi kami biasanya mengolah bahan baku lele sekitar 70 kilogram. Kemudian untuk pemasaran kami offline dan online. Untuk online masih di sekitaran Jawa,” pungkas Guritna dikutip dari ANTARA.

Rekomendasi