Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Malem Selikuran, Tradisi Kraton Jogja Sambut Kedatangan Malam Lailatul Qodar

Malem Selikuran, Tradisi Kraton Jogja Sambut Kedatangan Malam Lailatul Qodar Kraton Jogja dan Solo. ©2019 Merdeka.com/Shutterstock

Merdeka.com - Berbagai daerah di Indonesia punya caranya masing-masing dalam menyambut datangnya malam Lailatul Qodar. Salah satunya adalah Kraton Yogyakarta.

Pada saat datangnya malam seribu bulan itu, Kraton Jogja rutin mengadakan sebuah tradisi yang dinamakan Malam Selikuran. Dilansir dari Kratonjogja.id, Malam Selikuran diyakini telah ada sejak awal penyebaran Agama Islam di Jawa.

Tradisi ini diperkenalkan oleh Wali Songo sebagai metode dakwah Islam yang telah disesuaikan dengan budaya Jawa. Tradisi Malam Selikuran diharapkan menjadi sarana pengingat untuk memperbanyak sedekah, instropeksi diri, dan juga menggiatkan ibadah-ibadah lain dalam sepuluh hari di Bulan Ramadan.

Arti Kata Malem Selikuran

Malem Selikuran berasal dari Bahasa Jawa yaitu “Malem” yang artinya malam, dan “Selikur” yang artinya dua puluh satu.

Angka tersebut mengacu pada tanggal 21 pada Bulan Ramadan yang menjadi sepuluh hari terakhir di bulan tersebut. Di saat itulah masa awal penantian malam Lailatul Qodar tiba.

Pelaksanaan Malem Selikuran

abdi dalem di keraton surakarta

©2014 Merdeka.com

Pada zaman dulu, Malem Selikuran diselenggarakan secara meriah. Acara tersebut dihadiri oleh banyak abdi dalem dan bahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda juga ikut menghadirinya.

Acara itu dilaksanakan setiap tanggal 20 Bulan Ramadan dan diselenggarakan mulai pukul 17.00 di Bangsal Sri Manganti Kraton Jogja.

Acara Malem Selikuran selesai tak lama setelah adzan Maghrib penanda buka puasa berkumandang. Karena dalam penanggalan Tahun Hijriah atau Jawa pergantian hari dimulai saat matahari tenggelam, maka dapat dikatakan acara ini berakhir pada awal malam tanggal 21 Ramadan.

Hidangan Malem Selikuran

hidangan raja kraton jogja

©2020 Merdeka.com/Youtube Dona Roy

Acara Malem Selikuran dihadiri oleh para pengurus Kraton Jogja dan juga para abdi dalem yang bertanggung jawab dengan acara-acara keagamaan yang diadakan Kraton.

Pada pelaksanaan acara itu juga disajikan berbagai hidangan antara lain kotak anyaman bambu/besek yang di dalamnya terdapat nasi dan lauk pauknya.

Selain itu juga dihidangkan buah-buahan dan susunan kecil nasi bungkus. Makanan itu nantinya akan dibagikan untuk seluruh peserta yang hadir sebagai bentuk sedekah dari Sultan.

Rangkaian Acara Bertambah dari Tahun ke Tahun

ilustrasi buka puasa bersama

©Pixabay/AhmadArdity

Seiring berkembangnya waktu, rangkaian acara pada Malem Selikuran terus bertambah dari tahun ke tahun. Urutan rangkaian acara yang dalam tradisi itu yaitu pembacaan Al-Qur’an, tausiyah, zikir, istigfar, do’a, dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama.

Selain Malem Selikuran, di tiap tanggal 21 Ramadan atau malam-malam ganjil setelahnya abdi dalem menyalakan lilin-lilin saat matahari mulai terbenam. Lilin-lilin itu kemudian ditaruh di beberapa tempat di sekitar dan di bagian dalam Kraton.

Mengajarkan Nilai-Nilai Luhur Islam

001 debby restu utomo

©2017 wallpapersafari.com

Dari waktu ke waktu, Kraton Jogja terus menjaga semangat dakwah Islam melalui tradisi-tradisi yang ada.

Dilansir dari Kratonjogja.id, berbagai tradisi yang diadakan Kraton bukan dimaksudkan untuk membelokkan nilai-nilai Islam, namun mengajarkan pada masyarakat tentang hakikat nilai-nilai luhur Islam itu sendiri.

Sama seperti halnya tradisi Malem Selikuran yang diadakan untuk mengingatkan dan mengajak segenap masyarakat Jogja untuk menyambut Lailatul Qodar.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP