Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Hidup Tino Sidin, Guru Gambar Legendaris Asal Jogja

Kisah Hidup Tino Sidin, Guru Gambar Legendaris Asal Jogja Tino Sidin. ©Tamantinosidin.com

Merdeka.com - Yogyakarta disebut sebagai kota seni dan budaya. Di kota ini, lahir para seniman dan budayawan hebat dengan karya-karyanya. Sebutlah nama-nama seperti Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Affandi, Djoko Pekik, dan masih banyak lagi merupakan para seniman yang dibesarkan di kota ini.

Namun di balik nama-nama hebat itu, ada seorang guru menggambar yang namanya termasyhur di kalangan para seniman, khususnya seniman seni rupa. Dia adalah Tino Sidin, guru menggambar legendaris asal Jogja.

Tino Sidin lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 25 November 1925. Pada usia 20 tahun, ia memulai kariernya di dunia kesenian dengan menjadi guru gambar di Yogyakarta. Seiring waktu, karier Tino semakin menanjak saat pada era 1980-an dia mengisi program acara TVRI berjudul “Gemar Menggambar”.

Dalam acara ini, dia mengajarkan pada anak-anak bahwa menggambar itu mudah. Di akhir acara, dia biasanya menunjukkan gambar-gambar kiriman pemirsa dan memberikan satu patah kata komentar yang sangat terkenal, ”Bagus!”.

Tak hanya menjadi guru, Tino Sidin juga melahirkan banyak karya lukis. Karya-karyanya dapat dinikmati di bekas rumahnya yang kini diubah menjadi museum bernama Taman Tino Sidin. Lalu bagaimana kisah hidup Tino Sidin? Dan apa kesan-kesan para murid terhadap sosoknya? Berikut selengkapnya:

Cara Mengajar Ala Tino Sidin

tino sidin

©Tamantinosidin.com

Di kalangan para muridnya, Tino Sidin merupakan sosok guru legendaris. (Alm) Djaduk Ferianto, seorang seniman yang pernah berguru dengan Tino Sidin mengatakan, cara mengajar gurunya itu persis seperti gaya mengajar ala Perguruan Taman Siswa. Djaduk mengungkapkan, dengan melakukan pendampingan pada anak, Tino mendorong mereka untuk menemukan kebebasan dalam berimajinasi dan berekspresi.

Sementara itu, Mikke Susanto, dosen Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengatakan bahwa Tino Sidin mengajar anak menggambar dengan menekankan pada garis, bukan warna atau tekstur. Setidaknya, ada dua jenis garis yang dikenalkan Tino Sidin saat mengajar, yaitu garis lurus dan garis lengkung.

“Pada intinya dia mengajarkan anak-anak untuk mengubah sesuatu menjadi bentuk. Karena itu dipilahkan secara sederhana “garis lengkung” dan “garis lurus” untuk mengubahnya menjadi bentuk yang diinginkan. Saya kira itu merupakan metode Pak Tino untuk memudahkan imajinasi sekaligus keterampilan anak,” kata Purwadmadi, seorang wartawan seni, dikutip dari kanal YouTube LIPI.

Guru Gambar Legendaris

tino sidin

©Kratonpedia.com

Menurut asistennya, Sudarwoto, Tino Sidin mengajar gambar untuk anak-anak bukan bertujuan agar mereka menjadi seniman, melainkan dididik untuk mencintai kesenian. Hal ini pulalah yang diungkapkan oleh Andi Noer Arief, CEO Dagadu yang pernah menjadi murid Tino Sidin. Baginya, Tino Sidin memacu anak-anak untuk memiliki keberanian dan menghilangkan keragu-raguan dalam menggambar.

Inilah yang kemudian membuat Tino kemudian mengeluarkan kata-kata komentar yang sangat terkenal saat mengisi program acara di TVRI yaitu, ”Bagus!”. Bagi Andi, kata-kata itu diucapkan Tino Sidin dengan sepenuh hati guna mendorong anak untuk terus menggambar. Hal ini pulalah yang diyakini oleh Djaduk Ferianto.

“Kata ‘bagus’ yang diucapkan oleh Pak Tino itu punya multi intepretasi yang luar biasa. Beliau mengatakan itu tidak sekedar ingin menyenangkan orang, tapi di dalam kesenian itu kan tidak ada yang benar dan salah. Yang ada adalah keberanian untuk berkarya,” kata Djaduk dikutip dari kanal YouTube LIPI.

Cita-Cita Tino Sidin

tino sidin

©Pramborsfm.com

Tino Sidin meninggal dunia pada tanggal 29 Desember 1995. Namun sebelum meninggal dunia, ada satu cita-citanya yang belum terwujud, yaitu membangun sebuah sanggar seni yang akan dinamakan “Taman Tino Sidin”.

Setelah 20 tahun lebih berlalu,akhirnya anak-anak Tino Sidin berinisiatif untuk mewujudkan cita-cita ayah mereka. Dilandaskan rasa sayang pada orang tua, mereka mengumpulkan arsip-arsip dan karya-karya Tino Sidin dan menyusunnya dalam sebuah museum.

“Saat kami mengumpulkannya, ternyata semua arsip sudah disiapkan bapak. Kita baru tahu ternyata bapak telah menyusun rapi file-file nya. Jadi, dengan berdirinya museum ini harapan kami sangat sederhana. Pertama, kita ingin mengingatkan kembali atas apa yang pernah dikerjakan Pak Tino. Kedua, semoga itu menjadi inspirasi terutama bagi generasi muda agar semangat Pak Tino Sidin di dunia pendidikan terlahir kembali,” ujar Panca Takaryati, anak bungsu Tino Sidin.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP