Kisah Pria Asal Indonesia Bersepeda Keliling Dunia Demi Bertemu Paus Tahun 1950-an, Jadi Tamu Spesial di Vatikan
Pada tahun 1950-an, seorang pria asal Makassar, Indonesia bernama Petrus Jericho Lumakeki rela menempuh sepeda berkeliling dunia demi misi sucinya bertemu Paus.
Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia disambut meriah masyarakat terutama umat Katolik di Indonesia. Dalam kunjungannya, pemimpin tertinggi umat Katolik itu membahas berbagai hal dalam pidatonya, terutama soal keragaman dan kerukunan di Indonesia.
Sosok Paus begitu berharga dan dihormati oleh umat Katolik di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan pada tahun 1950-an, seorang pria asal Makassar, Indonesia bernama Petrus Jericho Lumakeki rela menempuh sepeda berkeliling dunia demi misi sucinya bertemu Paus di Vatikan.
Lalu seperti apa kisahnya berkeliling dunia? Berikut selengkapnya
Perjuangan Mendapatkan Visa
Sebelum pergi berkeliling dunia, Petrus harus terlebih dahulu mendapatkan visa agar ia bisa ke luar negeri. Ia mengawali perjalanannya dengan sepeda Humber pemberian Panglima Kodam Makassar, Andi Mattalatta pada pertengahan tahun 1958. Dari Makassar ia terbang ke Surabaya, dilanjutkan dengan bersepeda sampai Jakarta. Di Jakarta ia ingin mendapatkan visa singgah agar tidak terkendala saat masuk Vatikan nanti.
Namun pada saat itu pemerintah Indonesia sedang bersikap ketat pada warganya yang hendak berkeliling dunia. Apalagi sudah ada sejumlah pengeliling dunia seperti Rudolf Lawalata dan Abdullah Balbed yang tak kunjung pulang ke Tanah Air.
Karena pemerintah Indonesia tidak bisa membantu, Petrus akhirnya menghadap langsung ke Kedutaan Vatikan. Sayangnya kedutaan Vatikan tidak memberi izin visa karena hal semacam itu hanya dikhususkan untuk diplomat saja. Ia kemudian mencoba mencari peruntungan ke kedutaan Italia.
Mempunyai nama “Petrus” membawa keberuntungan bagi dia. Kepada Kedutaan Italia, Petrus mengaku ingin menyaksikan tempat kelahiran Rasul Petrus dari dekat. Pejabat kedutaan menyambut baik keinginan itu. Tanpa menunggu lama mereka memberi visa pada Petrus.
Perjalanan Menemui Paus
Mengutip situs website Goodnewsfromindonesia, setelah mendapatkan visa Petrus langsung memulai perjalanan. Ia menyeberang dari Jakarta ke Singapura dengan pesawat. Ia kemudian bersepeda melewati sejumlah negara seperti Myanmar, India, Turki, Yunani, dan sampai di Italia sekitar Oktober 1958. Saat sampai di Italia, Vatikan sedang mendapat sorotan karena Paus Pius meninggal dunia. tahka kemudian diduduki Paus Yohanes XXIIII yang upacara penobatannya dilakukan pada 4 November 1958.
Petrus berada di Vatikan tiga hari setelah penobatan. Demi bertemu Paus, Petrus meminta bantuan Duta Besar Indonesia di Vatikan, Mayor Bambang Sugeng. Demi membantu Petrus, Kedubes Indonesia mengajukan surat permohonan ke Istana Vatikan. Jawaban segera datang, pihak istana menyetujui Petrus untuk bertemu Paus. Petrus pun mendahului sejumlah kalangan diplomat dan pemimpin luar negeri untuk bertemu Paus Yohanes.
“Suatu kehormatan bagi Lumakeki bertemu dengan Paus. Ini merupakan audiensi yang pertama antara Bapak Suci dengan pihak luar. Kalangan diplomat luar negeri belum seorang pun yang datang menemuinya,” tulis jurnalis Sjaifoel Nawas, seperti dikutip dari website Goodnewsfromindonesia.
Pulang ke Indonesia
Setelah 18 bulan meninggalkan Tanah Air, Petrus Jericho Lumakeki akhirnya tiba kembali di Indonesia. Kedatangannya disambut oleh tangisan dan pelukan haru dari istri dan anak-anaknya.
Tak hanya itu, ia disambut dengan arak-arakan khusus. Jenggot telah tumbuh panjang dari dagunya. Ia memakai jaket merah tua dan celana jengki biru dan memakai baret hitam yang dihiasi lencana dari berbagai negara yang dikunjunginya. Banyak orang yang menjulukinya Fiedel Castro dari Indonesia. Anak-anak di pinggir jalan ada yang menamakan Lumakeki “Zwarte Piet”.
Saat itu, ia telah mengunjungi 32 negara dunia dengan 9 kali mengganti ban sepeda dan baru lima kali terkena sakit.