Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Hidup Pak Teddy, Rela Tinggalkan Hiruk Pikuk Kota Demi Jadi Petani

Kisah Hidup Pak Teddy, Rela Tinggalkan Hiruk Pikuk Kota Demi Jadi Petani Pak Teddy petani kentang. ©YouTube/Cap Capung

Merdeka.com - Sebelum memutuskan menjadi petani, Teddy Irawan telah 20 tahun lebih berkecimpung di dunia pendidikan. Bahkan dia pernah menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah internasional yang berada di Tangerang Selatan.

Dia pun pernah juga menjadi dosen part time pada salah satu universitas di Salatiga. Namun dalam lubuk hatinya, Pak Teddy ingin suatu saat nanti hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

“Waktu itu cita-cita saya simpel. Jadi pengennya itu bangun tidur, buka jendela, terus lihat gunung gitu,” kata Pak Teddy, mengutip dari akun YouTube Cap Capung.

Setelah dibicarakan dengan istrinya, ternyata ada kecocokan agar bisa berpindah dari kehidupan sebelumnya. Mereka pun memilih profesi sebagai petani di Dusun Sranti, Kabupaten Semarang.

Lantas bagaimana keseharian yang harus dijalani Teddy saat hidup menjadi petani? Berikut selengkapnya:

Keseharian Hidup Menjadi Petani

pak teddy petani kentang

©YouTube/Cap Capung

Teddy mengatakan bahwa ia memperoleh kenikmatan saat menjalani profesi sebagai petani karena ia bisa mengatur ritme kerjanya. Selain itu Teddy mengaku dengan menjadi petani, dia bisa mengatur ritme kerja sendiri, menyusun ritme kerja, dan membuat sistem sendiri.

“Jadi saya sempat sharing dengan istri. Jadi enak, berangkat kerja tidak usah mandi. Nggak usah ganti pakaian. Biasa saja, langsung ke lahan. Nanti sore saja mandinya,” ungkap Teddy, mengutip dari kanal YouTube Cap Capung.

Menambah Nilai Kehidupan

pak teddy petani kentang

©YouTube/Cap Capung

Teddy mengakui, hidup di pedesaan waktu terasa berjalan lambat. Tapi ia justru bisa merasakan hidup yang lebih bersahaja dan sederhana. Apalagi Teddy kagum akan prinsip gotong royong yang dimiliki orang desa. Selain itu, dengan hidup di desa ia memiliki waktu berdua bersama istri.

“Ketika waktu kerja di kota besar gitu, kita pernah ketemu di rumah itu hanya sebentar, habis itu terbang lagi ke mana. Sering begitu setiap hari. Itu sangat kontras saat saya kerja di desa ini dan mengambil pilihan sebagai petani. Saya bisa bekerja sama dengan istri. Kerja bareng di lahan berdua, mengatasi masalah sama-sama, kebahagiaan kita dapatkan sama-sama,” ungkap Teddy.

Jadi Petani Kentang

pak teddy petani kentang

©YouTube/Cap Capung

Dalam bertani, Teddy dan istrinya memilih kentang sebagai komoditas. Pada awalnya, mereka gampang panik saat melihat ada tanaman kentang yang memiliki penyakit.

Oleh karena itu, pada awal-awal bertani dia selalu berkonsultasi dengan mentor. Dari mentor itu mereka belajar banyak hal mengenai cara bertani kentang, termasuk bagaimana mengatasi penyakit pada tanaman.

“Selain itu kita juga jadi belajar membaca cuaca. Kalau misal ada kabut, kalau ada hujan gerimis, apa yang kita antisipasi setelah itu, kemudian kelembapan tanah, tingkat keasaman, sehingga bisa panen. Alhamdulillah, kalau menurut mentor kami, nilai kita itu dari 8-10, sudah di angka 8,5 menuju ke 9. Padahal kita baru pemula. Jadi kuncinya harus ada mentor,” jelas Teddy.

Stay Foolish

pak teddy petani kentang

©YouTube/Cap Capung

Dalam belajar ilmu pertanian di desa, Teddy berpegangan prinsip pada kata-kata Steve Jobs, yaitu “stay foolish”. Jadi dengan prinsip itu ia merasa akan lebih mudah menyerap ilmu-ilmu baru tentang pertanian dan juga banyak berkumpul dan diskusi dengan petani lain.

“Kalau prinsip hidup saya dalam bertani, jangan berharap langsung besar, fokus, dan jangan main-main. Selain itu saat bertani raga saya semakin sehat. Berat badan ideal jadinya,” kata Teddy.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP