Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jelang Idul Adha, Begini Kondisi Peternak Sapi dari Kluster BRI di Gunungkidul

Jelang Idul Adha, Begini Kondisi Peternak Sapi dari Kluster BRI di Gunungkidul Peternak sapi kluster BRI di Gunungkidul. ©Istimewa

Merdeka.com - Hari Raya Idul Adha semakin dekat. Masyarakat di Indonesia khususnya umat muslim sibuk mencari sapi dan kambing terbaik untuk dikurbankan.

Begitu pula para peternak, mereka sibuk menyiapkan hewan ternak mereka agar kondisinya prima saat berganti kepemilikan ke tangan para “sohibul qurban”.

Painun Siyono (54), peternak sapi asal Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, juga tak mau kalah untuk menyiapkan sapi-sapinya agar dilirik sohibul qurban.

Namun dalam merawat sapi, Painun menghadapi berbagai kendala. Kendala pertama adalah soal penyakit. Ia mengatakan baru-baru ini ancaman penyakit lato-lato pada sapi. Bahkan ia mengaku peternak dari dusun sebelah ada yang sapinya sudah terkena penyakit tersebut. Sebelumnya ada penyakit kuku dan mulut (PMK) yang menularnya begitu cepat pada sapi-sapi ternak khususnya di Pulau Jawa.

Kendala kedua adalah soal pakan. Paino mengatakan, akhir-akhir ini, harga pakan semakin mahal. Belum lagi pada Bulan Juni ini wilayah Gunungkidul dilanda musim kemarau.

“Kalau musim kemarau makanan yang hijau-hijau harus beli. Belum lagi penggemuk sapi sekarang harganya tambah mahal,” ujar Painun.

Demi pakan ternak inilah sering kali para peternak harus meminjam uang pada bank. Painun sendiri pernah meminjam uang hingga Rp50 juta pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) demi mencukupi kebutuhan pakan sapinya.

BRI sendiri punya program skema musiman. Skema pinjaman ini diperuntukkan bagi para peternak maupun petani yang notabene memperoleh penghasilan secara musiman.

“Misalnya komoditas pertanian jagung dengan usia tanam hingga panen sekitar empat bulan. Selama dia belum panen dia belum bisa membayar kewajiban. Jadi mereka akan melakukan pelunasan saat panen. Sama juga halnya dengan sapi. Sapi kan paling lama penggemukan sembilan bulan. Setelah sembilan bulan baru mereka akan diwajibkan membayar pelunasan. Jadi tergantung komoditasnya,” kata Regional CEO Yogyakarta, Jon Sarjono.

Sebagai pengurus paguyuban peternak sapi di daerahnya, Painun mengetahui betul kondisi peternak sapi lain di wilayahnya, terutama saat menjelang Idul Adha. Di dalam klusternya, jumlah peternak sapi mencapai 25 orang. Saat Idul Adha, biasanya sapi para peternak anggota klusternya laku dijual dengan harga Rp21-22 juta. Namun tak jarang para peternak sapi merugi apalagi kalau ada sapi yang sakit atau bahkan mati sebelum sempat dijual. Oleh karena itu ia sangat berharap dari BRI memberikan keringanan pada peternak yang terkena musibah tersebut.

“Harapannya BRI bisa memberi perlakuan khusus terutama soal pinjaman bagi peternak yang hewannya terkena penyakit. Bahkan kalau bisa ada keringanan dalam pengembalian, seperti masa peminjaman bisa diperpanjang,” pungkas Painun. (mdk/shr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP