Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

131 Tahun Berlalu, Begini Kehidupan Keturunan Jawa di Suriname Kini

131 Tahun Berlalu, Begini Kehidupan Keturunan Jawa di Suriname Kini Kehidupan orang Jawa di Suriname. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada tanggal 9 Agustus 1890, Kapal SS Prins Williem II tiba di Pelabuhan Paramaribo, Suriname. Diberangkatkan dari Pelabuhan Batavia, Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan dua bulan lamanya, kapal itu mengangkut 94 orang Jawa yang merantau ke Suriname untuk bekerja.

Momen itu kemudian diperingati sebagai Dag der Javaanse Immigratie atau gelombang pertama kedatangan orang-orang Jawa di Suriname.

Selama menetap di Suriname, orang-orang Jawa itu banyak bekerja di sektor perkebunan seperti tebu, cokelat, kopi, dan juga pertambangan bauksit. Total antara tahun 1890 sampai 1939, ada hampir 33 ribu orang Jawa yang diberangkatkan ke Suriname.

Sebagian dari mereka ada yang pulang kembali ke tanah Jawa. Namun banyak pula di antara mereka yang memilih menetap di negeri rantau dan kemudian beranak pinak di sana. Lalu setelah 131 tahun berlalu, bagaimana kehidupan para keturunan Jawa di Suriname di masa sekarang?

Perjuangan Orang Jawa di Suriname

kehidupan orang jawa di suriname

©2021 Merdeka.com

Selain para perantau dari Jawa, saat itu di sana juga ada perantau yang didatangkan dari India serta orang kulit hitam dari etnis Creole dan Maroon. Oleh karena itu, butuh 30 tahun lamanya bagi orang Jawa untuk menduduki posisi yang agak terpandang di Suriname. Para keturunan Jawa mulai ada yang bekerja sebagai kepala desa, perawat, penerjemah, dan guru.

Bahkan pada tahun 1970, beberapa orang keturunan Jawa menempuh pendidikan di Belanda dan menyandang gelar sarjana. Hingga akhirnya, ada pula yang mendirikan partai politik. Hingga kini, di Suriname ada beberapa partai politik yang didirikan para keturunan Jawa seperti Pertjajah Luhur, D21, NSK, dan sebagainya.

Berperan di Berbagai Sektor

kehidupan orang jawa di suriname

©2021 Merdeka.com

Di Suriname, para keturunan Jawa ini telah banyak yang terjun ke berbagai sektor. Di sektor politik, ada Raymond Sapoen yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden. Lalu di bidang ekonomi, ada pengusaha keturunan Jawa yang mendirikan Trust Bank Amanah, yang menjadi bank syariah pertama di Amerika Selatan.

Lalu di sektor kesehatan, ada keturunan Jawa yang mendirikan jaringan klinik kesehatan bernama Intermed. Lalu ada Diapura yang khusus memberi perawatan pada pasien dengan penyakit ginjal.

Tak hanya itu, ada pula yang bergerak di bidang media komunikasi seperti RTV Garuda dan RTV Mustika. Selain itu masih banyak lagi yang bergerak di sektor-sektor lain seperti konstruksi, pariwisata, tekstil, kebutuhan pokok.

Alami Tantangan Berat

kehidupan orang jawa di suriname

©2021 Merdeka.com

Menurut RM Bibid Kuslandinu, pegawai Kementerian Luar Negeri yang pernah bertugas di Suriname, saat ini para keturunan Jawa di Suriname mengalami tantangan berat terutama sejak akhir krisis ekonomi di negara itu pada 2015 serta pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir.

Dari bidang pendidikan, tantangan itu terlihat dengan derasnya arus globalisasi yang membuat bahasa dan tradisi Jawa di Suriname semakin memudar.

“Perlu ditingkatkan pengiriman ahli-ahli kebudayaan Indonesia ke Suriname, serta materi ajar kebudayaan baik buku dan peralatan. Dengan membantu pelestarian kebudayaan Jawa di sana, akan terbangun lem perekat yang kuat dalam hubungan antara Indonesia dan Suriname,” tulis Bibid dalam essay-nya yang berjudul “131 Tahun Masyarakat Keturunan Jawa di Suriname, Bagaimana Kiprahnya”.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP