Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gambaran Global Warming pada Bumi, Ketahui Berbagai Dampaknya

Gambaran Global Warming pada Bumi, Ketahui Berbagai Dampaknya Ilustrasi Global Warming. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat berbagai macam bencana alam hebat yang terjadi di beragam belahan bumi. Mulai dari kebakaran hutan yang menyebabkan kepulan asap tebal hingga menjangkau antar negara, tanah longsor akibat penebangan liar, hingga banjir akibat hujan lebat, penyerapan air yang baik karena banyaknya sampah yang menyumbat.

Sebagian bencana tersebut pun terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Contohnya saja banjir Jakarta dan beberapa wilayah secara bersamaan pada 2020 dan kebakaran hutan di Riau pada dua tahun lalu. Meskipun dikatakan sebagai suatu bencana, namun hal ini tidak luput tentu banyak mendapat pengaruh dari berbagai aktivitas manusia yang berkontribusi pada global warming atau pemanasan global.

Tentu Anda sudah tidak asing dengan isu yang telah ada sejak jauh bertahun-tahun lalu ini. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat mengenai isu lingkungan masih terbilang minim. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang abai dan belum dapat mengelola sampah dengan baik, sebagian oknum masyarakat yang melakukan pelanggaran lingkungan dalam lingkup besar, hingga peraturan pemerintah yang belum berpihak secara penuh pada kesehatan dan keselamatan lingkungan.

Dengan begitu, penting bagi masyarakat untuk mulai membuka mata, mencari berbagai informasi tentang apa yang terjadi pada lingkungan saat ini. Mencari tahu seperti apa gambaran global warming yang terjadi, apa saja dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global.

Dilansir dari Livescience, berikut kami merangkum berbagai informasi mengenai gambaran global warming yang perlu dipahami.

Mengenal Global Warming

udara

©istimewa

Gambaran global warming yang perlu diketahui dapat dilihat dari pengertiannya. Global warming atau pemanasan global merupakan suatu kondisi di mana bumi mengalami kenaikan suhu. Baik dataran maupun lautan mengalami kenaikan suhu yang telah tercatat dari tahun 1880 lalu. Suhu ini terus meningkat hingga saat ini. Kenaikan panas atau suhu bumi yang terjadi secara menyeluruh inilah yang kemudian disebut dengan pemanasan global.

Gambaran tahun 1880 dan 1980, suhu tahunan global meningkat rata-rata 0,13 derajat Fahrenheit (0,07 derajat Celcius) per dekade. Sejak 1981, peningkatan suhu ini terus naik menjadi 0,32 derajat F (0,18 derajat C) per dekade. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global 3,6 derajat F (2 derajat C) pada saat ini dibandingkan dengan era praindustri. Kemudian tahun 2019, tercatat suhu rata-rata global di atas daratan dan lautan adalah 1,75 derajat F (0,95 derajat C), yaitu melebihi angka rata-rata abad ke-20. Tidak heran jika tahun 2019 disebut sebagai tahun terpanas kedua setelah 2016.

Kenaikan panas ini tidak lain disebabkan oleh aktivitas manusia. Seperti aktivitas pembakaran bahan bakar fosil telah melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer, yang memerangkap kehangatan dari matahari dan menaikkan suhu permukaan dan udara. Selain itu, juga dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia lainnya, seperti penggunaan kendaraan pribadi yang menimbulkan polusi hingga pengelolaan sampah yang tidak baik.

Peran Efek Rumah Kaca

Gambaran global warming selanjutnya juga tidak lepas dari peran efek rumah kaca. Dalam hal ini, hasil aktivitas pembakaran karbon yang dilakukan manusia menyebabkan bumi yang semakin panas melalui efek rumah kaca. Pada kondisi ini terjadi interaksi antara atmosfer bumi dan radiasi yang masuk dari matahari.

Dalam prosesnya, radiasi matahari mengenai permukaan bumi kemudian memantul kembali ke atmosfer sebagai panas. Gas di atmosfer bekerja menahan panas untuk mencegahnya keluar ke ruang hampa dan melindungi bumi dari panasnya matahari.

Namun sayangnya, gas rumah kaca seperti karbon dioksida mampu menjebak panas dekat permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan suhu bumi semakin meningkat. Sehingga perubahan kecil berupa pengurangan gas-gas rumah kaca sangat berpengaruh pada seberapa besar panas terperangkap di bumi yang menyebabkan global warming.

Dari Mana Efek Rumah Kaca Berasal

ilustrasi sapi

©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Gerard Koudenburg

Dalam memahami gambaran global warming, Anda perlu mengetahui dari mana asal efek rumah kaca. Sejak awal Revolusi Industri, manusia telah dengan cepat mengubah keseimbangan gas di atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak melepaskan uap air, karbon dioksida (CO2), metana (CH4), ozon dan nitrous oxide (N2O), yang tidak lain merupakan gas komponen gas rumah kaca utama.

Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang paling umum. Antara sekitar 800.000 tahun yang lalu dan awal Revolusi Industri, kehadiran CO2 di atmosfer berjumlah sekitar 280 bagian ppm. Pada data terakhir pada tahun 2018, rata-rata CO2 di atmosfer kini sudah mencapai 407,4 ppm. Bahkan dikatakan, pada tahun 2016, CO2 menyumbang 81,6% dari semua emisi gas rumah kaca AS.

Deforestasi juga merupakan penyumbang besar kelebihan CO2 di atmosfer. Faktanya, deforestasi adalah sumber karbon dioksida antropogenik (buatan manusia) terbesar kedua, menurut penelitian yang diterbitkan oleh Duke University . Setelah pohon mati, mereka melepaskan karbon yang mereka simpan selama fotosintesis. Menurut Penilaian Sumber Daya Hutan Global 2010 , deforestasi melepaskan hampir satu miliar ton karbon ke atmosfer per tahun.

Selain itu, ada pula gas metana yang merupakan gas rumah kaca paling umum kedua, tetapi paling efisien dalam memerangkap panas. Dikatakan bahwa metana 25 kali lebih efisien dalam memerangkap panas daripada karbon dioksida. Pada tahun 2016, gas tersebut menyumbang sekitar 10% dari semua emisi gas rumah kaca Amerika Serikat.

Metana dapat berasal dari banyak sumber alam, tetapi manusia menyebabkan sebagian besar emisi metana melalui penambangan, penggunaan gas alam, peternakan massal, dan penggunaan tempat pembuangan sampah. Selain itu, sapi merupakan sumber tunggal metana terbesar di AS yang menghasilkan hampir 26% dari total emisi metana.

Efek Global Warming

Setelah mengetahui gambaran global warming melalui peran efek rumah kaca dan macam gas yang dihasilkan, berikutnya terdapat beberapa dampak yang terjadi akibat pemanasan global. Suhu bumi yang semakin panas ini tentu menimbulkan berbagai masalah lingkungan seperti perubahan iklim yang tidak menentu, cuaca ekstrem, badai salju, mencairnya es di kutub bumi, hingga keseimbangan laut yang semakin rapuh.

Berikut beberapa dampak global warming yang perlu diketahui:

  • Mencairnya gletser dan es laut. Hilangnya gleser menyebabkan bendungan es tidak stabil dan pecah sehingga semakin mudah terjadi longsor salju yang dapat menimpa permukiman penduduk di sekitarnya.
  • Di Kutub Utara, pemanasan berlangsung dua kali lebih cepat. Sementara itu, Semenanjung Antartika Barat memanas lebih cepat daripada di tempat lain selain beberapa bagian Kutub Utara.
  • Banyak daerah yang sudah kering diperkirakan akan semakin kering saat suhu bumi semakin meningkat. Hal ini mendapat pengaruh besar dari meningkatnya penguapan air dari tanah yang lebih panas dan semakin panas. Sebagian besar curah hujan yang jatuh di daerah kering ini akan hilang.
  • Sering terjadi cuaca ekstrem. Badai dan topan diperkirakan menjadi lebih intens saat planet bumi semakin menghangat. Lautan yang lebih panas menguapkan lebih banyak uap air, sehingga memicu cuaca buruk yang tidak menentu. Selain itu, perubahan iklim juga dapat menyebabkan lebih seringnya badai salju ekstrem.
  • Beberapa dampak paling dirasakan dari pemanasan global adalah di bawah gelombang laut. Lautan bertindak sebagai penyerap karbon, yang berarti mereka menyerap karbon dioksida terlarut. Itu bukan hal yang buruk untuk atmosfer, tetapi tidak bagus untuk ekosistem laut. Ketika karbon dioksida bereaksi dengan air laut, pH air menurun (yaitu, menjadi lebih asam), sebuah proses yang dikenal sebagai pengasaman laut . Keasaman yang meningkat ini menggerogoti cangkang dan kerangka kalsium karbonat yang diandalkan oleh banyak organisme laut untuk bertahan hidup.
  • (mdk/ayi)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP