Gunungkidul merupakan sebuah wilayah kabupaten yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah selatan Gunungkidul berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Secara umum kondisi geografis Gunungkidul terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu wilayah utara, tengah, dan selatan.
Wilayah selatan Gunungkidul merupakan bagian dari Gunungsewu Geopark yang telah diakui oleh UNESCO. Wilayah ini identik dengan bukit-bukit kecil yang jumlahnya sangat banyak.
Walaupun kini menjadi deretan pegunungan, pada awalnya wilayah selatan Gunungkidul adalah lautan. Hal itu ditandai dengan bentang alamnya yang merupakan pegunungan karst.
Karst merupakan bentang alam yang terdiri dari batu gamping atau batu kapur yang menjadi penyusun utama. Mengutip YouTube Cerita Bumi, batu gamping memiliki rumus kimia CacO3, atau kalsium karbonat.
Kalsium pada batu gamping bersumber pada kehidupan laut seperti terumbu karang, koral, serta hewan bercangkang.
Advertisement
Selain itu tak jarang pula ditemukan bukit di Gunungkidul yang susunan batuannya terbuat dari karang yang ada di lautan.
(Foto: YouTube Cerita Bumi)
Mengutip YouTube Cerita Bumi, terbentuknya kawasan pegunungan di bagian selatan Gunungkidul dipengaruhi oleh proses pengangkatan.
Prosesnya diawali dari pergerakan lempeng Indo-Australia di selatan Pulau Jawa. Lempeng ini bergerak ke arah utara dan menabrak selatan Pulau Jawa.
Karena Lempeng Indo Australia memiliki massa yang sangat berat dibandingkan Lempeng Eurasia, maka Lempeng Indo-Australia merangsek ke bawah Lempeng Eurasia. Dampaknya adalah terangkatnya sebagian lautan di selatan Pulau Jawa dan menjadi sebuah daratan baru.
Advertisement
Menurut geolog Rein van Bemmelen, wilayah selatan Gunungkidul yang dulunya lautan mulai terangkat pada masa Pliosen Akhir atau 2,5 juta tahun yang lalu hingga masa Pleistosen Awal atau 700 ribu tahun yang lalu.
Sementara itu umur batuan di selatan Gunungkidul lebih tua lagi. Batuan paling tua diperkirakan berumur sekitar 15 juta tahun dan yang paling muda sekitar 2,5 juta tahun. Diperkirakan ketebalan batuan gamping di wilayah selatan Gunungkidul mencapai 650 meter.
Advertisement
Dampak Bagi Masyarakat
Batu Gamping memiliki karakteristik sangat poros dan mudah larut. Sehingga air tidak bisa tersimpan di dalam tanah. Namun pada lapisan tanah yang paling dalam, sumber air bisa sangat melimpah di kawasan karst. Pada umumnya di wilayah karst akan banyak ditemukan sungai-sungai bawah tanah.
Hal ini terbentuk karena air yang terus mengalir ke bawah bertemu dengan lapisan kedap air dan pada akhirnya akan melarutkan batuan kapur di sekitar, sehingga terbentuklah sungai bawah tanah.
Mengutip YouTube Cerita Bumi, wilayah karst identik dengan kondisi tanah yang gersang dan kurang subur. Hal ini juga terjadi di wilayah selatan Gunungkidul di mana kondisi tanah yang tandus serta minim hara karena tanahnya berasal dari pelapukan batuan kapur.
Advertisement