Efek Menyapih Anak pada Ibu, Perubahan Fisik hingga Emosi
Merdeka.com - Memberikan ASI eksklusif pada bayi merupakan salah satu kebutuhan dan kewajiban yang harus dilakukan seorang ibu. Pemberian ASI eksklusif ini umumnya diberikan hingga bayi berusia 6 bulan, di mana ibu memberikan asupan ASI secara penuh pada bayi untuk pemenuhan nutrisi. Meskipun begitu, ASI masih dapat diberikan hingga anak berusia 2 tahun.
Setelah umur 2 tahun, para ibu menyusui dianjurkan untuk segera menyapih bayi dari rutinitas konsumsi ASI. Pada usia ini, bayi sudah mulai mengonsumsi makanan padat sehingga nutrisinya bisa didapatkan dari makanan selain ASI. Sistem pencernaan balita di usia ini juga berkembang lebih kuat sehingga dapat mencerna makanan dengan lebih baik dan efektif.
Saat menyapih anak dari kebiasaan minum ASI, tentu merupakan masa transisi yang menimbulkan ketidaknyamanan. Bukan hanya pada anak, tetapi juga pada ibu yang menyusui. Dalam hal ini, terdapat beberapa efek menyapih anak pada ibu yang mungkin akan Anda alami. Seperti payudara yang membesar karena ASI yang menumpuk, gejala fisik seperti mual atau kepala pusing, hingga perubahan suasana hati atau emosional.
Dengan begitu, bagi Anda yang sedang merencanakan proses penyapihan pada anak, perlu memahami berbagai efek yang akan terjadi. Dilansir dari laman Parenting Firstcry, berikut beberapa efek menyapih anak pada ibu yang bisa Anda simak.
Efek Menyapih: Payudara Penuh, Mastitis, Gejala Fisik
Efek menyapih anak pada ibu yang pertama, mungkin Anda akan mengalami kondisi payudara yang terasa penuh. Ini terjadi karena ASI terus berproduksi, namun tidak dapat dikeluarkan secara rutin karena proses penyapihan pada bayi.
Akibatnya, ASI akan terus menumpuk sehingga membuat payudara semakin membesar dan terasa penuh. Sering kali, Anda perlu memompa ASI agar payudara tidak terlalu penuh selama masa transisi ini. Cara ini juga dapat mengurangi gejala nyeri yang sering terjadi pada payudara selama proses penyapihan.
Efek menyapih anak pada ibu berikutnya bisa berupa gangguan mastitis. Mastitis adalah gangguan penyumbatan pada saluran payudara yang menyebabkan nyeri ekstrem pada area tertentu. Bukan hanya gejala nyeri parah, infeksi mastitis ini sering menimbulkan gejala demam hingga kemerahan pada payudara.
Ibu yang mengalami kondisi ini, biasanya bagian payudara terasa lembut dan hangat saat disentuh. Namun gejala nyeri yang terjadi sangat mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan. Kondisi ini biasanya dapat diatasi dengan menggunakan bantalan penghangat, memerah susu agar produksi ASI dapat keluar dan tidak menumpuk, hingga konsumsi obat antibiotik sesuai dengan dosis yang diberikan dokter.
Efek menyapih anak pada ibu juga sering menimbulkan beberapa gejala fisik. Gejala fisik yang dimaksud berupa sering mengalami sakit kepala serta perut yang terasa mual. Gejala ini muncul tidak lain karena efek perubahan hormon dalam tubuh ibu yang berhenti menyusui. Kondisi ini juga merupakan gejala awal yang sering terjadi pada sebagian besar ibu selama proses penyapihan.
Gejala fisik terkait perubahan hormon selama berhenti menyusui juga dapat menyebabkan kulit menjadi kering, muncul jerawat, hingga stretch mark di beberapa bagian tubuh. Ini termasuk kondisi umum yang banyak dialami oleh ibu selama proses penyapihan. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan saran dan penanganan yang baik.
Terakhir, perubahan hormon pada tubuh ibu juga menyebabkan perubahan suasana hati. Di mana ibu bisa lebih emosional dan sensitif dari sebelumnya. Dengan begitu, untuk mengatasi kondisi ini Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan gejala fisik, serta minta dukungan pasangan dan orang terdekat selama melewati masa ini.
Efek Menyapih: Peningkatan Kesuburan, Kelelahan, Depresi
Efek menyapih anak pada ibu selanjutnya yaitu akan terjadi peningkatan kesuburan. Perlu dipahami bahwa hormon yang dikeluarkan dalam tubuh selama menyusui mengurangi kemungkinan ovulasi. Di mana masa ovulasi menjadi jarang dan semakin berkurang selama seorang ibu menyusui bayi. Tak heran, jika ibu menyusui jarang mengalami menstruasi.
Namun, setelah berhenti menyusui, hormon kesuburan akan kembali bekerja. Ibu mungkin akan mengalami menstruasi dalam waktu enam minggu setelah disapih, yang berarti bahwa proses ovulasi kembali dimulai setelah tidak aktif selama menyusui. Jika Anda dan pasangan ingin mengontrol kehamilan, Anda bisa menggunakan alat kontrasepsi selama masa ini untuk mencegah kehamilan.
Kelelahan juga termasuk salah satu efek menyapih anak pada ibu yang terjadi pada Anda. Kondisi ini terjadi karena kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh ibu kembali bekerja dan berusaha menyeimbangkan kembali setelah disapih.
Perubahan hormon inilah yang menyebabkan kondisi kelelahan atau bahkan kelelahan ekstrem. Saat Anda berhenti menyusui, berbagai gejala fisik dan emosional menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu keseharian. Akibatnya, Anda tidak dapat beristirahat atau tidur dengan normal dan nyenyak selama ini. Kondisi kurang tidur ini kemudian menyebabkan tubuh terasa lelah dan sangat lelah.
Efek menyapih anak pada ibu yang terakhir namun tak kalah penting untuk diperhatikan adalah depresi. Kecemasan dapat muncul dalam banyak cara, seperti ibu yang terlalu cepat tanggap, khawatir dan terlalu banyak berpikir, takut akan hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting, dan sebagainya.
Perasaan cemas yang tidak diatasi dengan baik dapat berkembang semakin parah dan bisa mengarah pada gangguan depresi, baik depresi ringan hingga berat. Gangguan depresi juga dipengaruhi oleh perubahan hormon pada tubuh ibu yang berhenti menyusui.
Prolaktin, hormon yang bertanggung jawab untuk laktasi, juga dapat menciptakan perasaan tenang dan gembira bagi ibu. Dengan penurunan kadar prolaktin, ibu mungkin mulai merasa sedih, dan dia mungkin mengaitkan kesedihan ini dengan berakhirnya ikatan antara dia dan bayinya. Segera mencari bantuan profesional ketika kondisi kecemasan susah dikendalikan.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya