Cerita Perjalanan Karier Rhoma Irama dan Soneta, Arus Utama Musik Dangdut Tanah Air

Jumat, 24 April 2020 04:30 Reporter : Denny Marhendri
Cerita Perjalanan Karier Rhoma Irama dan Soneta, Arus Utama Musik Dangdut Tanah Air Sumber Foto : YouTube

Merdeka.com - Rhoma Irama adalah satu dari sedikit musisi Tanah Air yang bisa berkarya hingga lebih dari 50 tahun. Penyanyi yang dijuluki Raja Dangdut ini sudah memulai kariernya di umur belasan.

Pria yang membentuk Soneta Grup pada tahun 1973 ini sudah mengalami berbagai lika-liku di perjalanan kariernya. Bisa dibilang Rhoma Irama dan Soneta Grup adalah arus utama dari hulu sampai hilir arus musik dangdut di Indonesia.

Lantas bagaimana perjalanan karir Rhoma bersama Soneta Grupnya tersebut? Simak ulasannya berikut ini.

1 dari 4 halaman

Awal Mula Soneta

pesona rhoma irama

Sumber Foto : DangdutBerisik.com

Awalnya Rhoma tidak membayangkan untuk bisa berkarier di dunia musik khususnya dangdut. Ibunda Rhoma awalnya juga tidak setuju jika Rhoma menjadi musisi, karena pada saat Rhoma remaja karier sebagai musisi adalah karier yang dianggap tidak menjanjikan.

Karena ketertarikan Rhoma di dunia seni yang sangat kuat, Rhoma akhirnya membentuk grup band yang beraliran pop pada 1963. Namun, karier Rhoma bersama band yang bernama Gayhand tersebut kurang berhasil.

Kemudian awal tahun 1970, Rhoma bertemu dengan Elvy Sukaesih yang juga dijuluki sebagai Ratu dangdut. Tak lama setelahnya, Rhoma dan Elvy membentuk Soneta Grup yang bertujuan untuk memadukan musik yang mempunyai unsur barat, timur tengah, dan melayu.

Resmi mengusung tajuk Voice of Moslem, Rhoma menggebrak musik dangdut Indonesia dengan merilis album pertama yang berjudul ‘Soneta Volume 1 - Begadang’ yang dikomando oleh Remaco Records.

Sedangkan untuk formasi awal Soneta Grup adalah Nasir (mandolin), Hadi (suling), Herman (bas gitar), Kadir (gendang), Ayub (tamborin), Shihab dan Riswan (keyboard), serta Wempy (gitar).

2 dari 4 halaman

Melahirkan Berbagai Karya

rhoma irama virus corona

Akun Youtube GP Records ©2020 Merdeka.com

Bersama Elvy, Soneta Grup bisa membuat tiga album yaitu Soneta Volume 1 - Begadang (1973), Soneta Volume 2 - Penasaran (1974), dan Soneta Volume 3 - Rupiah (1975).

Pada album ke empat Soneta Grup sudah tidak lagi bersama Elvy. Mereka berkolaborasi dengan Rita Sugiarto dan akhirnya bisa membuat tujuh album bersamanya yaitu ‘Volume 4 - Darah Muda’ (1975), ‘Soneta Volume 7 - Santai’ (1977), dan ‘Soneta Volume 9 - Begadang 2’ (1978).

Formasi Soneta Grup juga mengalami bongkar pasang personel. Pada tahun 1976 Shahab, Herman, dan Kadir keluar dari Soneta Grup dengan dugaan bahwa Rhoma pada saat itu telah tegas untuk menjauhi miras, obat-obatan terlarang, dan seks bebas.

Shahab, Herman, dan Kadir pun juga sudah tidak ikut dalam pembuatan album Soneta 'Volume 7 - Santai’ karena posisi mereka sudah digantikan oleh Pongky dan Chovif. Kehadiran personel baru tersebut juga membuat nuansa album volume 7 menjadi lebih gahar dengan nuansa rock.

Ingin mencoba formula baru, Rhoma mengajak penyanyi India yang benama Nandani untuk membuat album ‘Soneta Volume 11 - Indonesia’ (1980). Soneta Grup pun kembali berkolaborasi dengan Elvy untuk membantu Rhoma bernyanyi di beberapa lagu di album ‘Soneta Volume 12 - Renungan Dalam Nada’ (1981).

Demi berkarya di jalannya sendiri secara independen dan tidak mengingkan ada pihak lain campur tangah dengan karyanya, Rhoma dan Soneta Grup membuat label rekaman yang diberi nama Soneta Records pada 1984 dan album perdana yang dihasilkan adalah ‘Soneta Volume 13 - Emansipasi Wanita’ (1984).

Karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan oleh Rhoma secara pribadi, maka Rhoma memutuskan untuk rehat sejenak di dunia hiburan. Apa lagi pada saat itu Rhoma sering menerima ancaman oleh pemerintah Orde Baru karena lagu-lagunya dinilai mengkritisi pemerintah di masa itu.

Setelah enam tahun rehat, akhirnya Rhoma dan Soneta Grupnya merilis dua album yang hampir bersamaan yaitu ‘Soneta Volume 14 - Judi' dan ‘Soneta Volume 15 - Gali Lobang Tutup Lobang’ pada tahun 1989.

Akhirnya pada tahun 1994 Rhoma dan Soneta Grup merilis album terakhirnya yang berjudul ‘Soneta Volume 16 - Bujangan’ .

3 dari 4 halaman

Ajakan Tur dengan Rolling Stones

rolling stones

©©2019 REUTERS/Mario Anzuoni

Cerita ini dibagikan oleh Rhoma pada tayangan Tonight Show yang diunggah di kanal resmi youtube Tonight Show Official pada Minggu (19/4) lalu.

Rhoma bercerita bahwa ajakan ini terjadi pada awal tahun 80an atau di saat nama Rhoma Irama bersama Soneta Groupnya berkibar tinggi di dunia musik Tanah Air. Seorang manajer dari grup band rock paling terkenal di dunia Rolling Stones datang menemui Rhoma.

Apa lagi pada saat itu cukup banyak yang menggempur nama dangdut dengan stigma buruk dari penggemar musik-musik rock.

Kedatangannya tersebut bermaksud mengajak Rhoma dan Soneta Group untuk ikut Rolling Stones dalam turnya yang bertajuk 'Giant Road Tur'. Sang manajer Rolling Stones datang kepada Rhoma dengan membawa proposal tur tersebut.

"Pernah manajernya datang ke rumah saya, dia bawa satu proposal dia bilang "kita mau mengadakan Giant Road Tur Soneta bersama Rolling Stones. Antara tahun 82 atau 83," jelas Rhoma.

Namun, setelah melalui proses proposal yang cukup memakan waktu pada akhirnya tur tersebut tidak terlaksana. Dikarenakan proses tersebut hanya bisa dilakukan oleh pemerintah ke pemerintah, tidak ada pihak independen yang bisa memproses proposal tersebut.

Apa lagi pada saat itu Rhoma sedang sering menerima ancaman oleh pemerintah Orde Baru karena lagu-lagunya dinilai mengkritisi pemerintah di masa itu.

"Diproseslah proposal itu. Akhirnya harus 'G to G' Goverment to Goverment. Saat itu saya lagi 'dilockdown'. Akhirnya tidak terjadi, batal," tuturnya.

4 dari 4 halaman

Berbagai Penghargaan

Bisa dibilang selain menjadi arus utama musik dangdut Indonesia, Rhoma dan Soneta Grup adalah grup musik di genre apapun yang paling produktif di saat itu. Usaha Rhoma dan Soneta Grup juga dibayar lunas dengan diberikannya penghargaan Golden Record sebanyak 11 kali kepada Rhoma dan Soneta Grup.

Bahkan untuk lintas disiplin ilmu, Rhoma dan Soneta Grup pernah menjadi objek untuk diteliti oleh salah satu doktor sosiologi yang berasal dari Universital di Ohio, Amerika Serikat.

Rhoma sendiri juga berhasil menyelesaikan pendidikan musiknya dan mendapatkan gelar profesor musik dari American University of Hawaii pada tahun 2005.

[dem]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini