Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apa Itu Syiah dan Bagaimana Hukumnya, Perlu Diketahui

Apa Itu Syiah dan Bagaimana Hukumnya, Perlu Diketahui Alquran. shutterstock/Egypix

Merdeka.com - Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian dari Anda tentu sering mendengar berbagai informasi tentang syiah. Dalam hal ini, kerap muncul perbedaan pandangan dari masyarakat. Sebagian ada yang menganggap syiah sama halnya dengan mahzab-mahzab lain dalam Islam, sebagian lainnya menganggap bahwa ajaran syiah menyimpang dari syariat Islam.

Bahkan, terdapat beberapa kasus di mana sekelompok masyarakat menyerang komunitas syiah karena dianggap sesat. Orang yang tidak begitu memahami apa itu syiah, pun terkadang ikut terbawa arus menghakimi kelompok ini. Tentu sangat disayangkan, jika kerukunan umat beragama bisa tercederai hanya karena penghakiman yang tidak beralasan.

Dengan begitu, penting bagi masyarakat Indonesia sebagai negara dengan mayoritas beragama Islam, untuk mengetahui lebih jelas apa itu syiah. Untuk memahami ini, bisa dilihat dari sejarah zaman Nabi dan Rasul, bagaimana mahzab-mahzab kemudian berkembang dan menyebar di masyarakat.

Dengan melihat sejarah, Anda bisa lebih memahami bagaimana asal usul dari perkembangan mahzab yang ada hingga saat ini. Sehingga, Anda tidak akan terpengaruh ajakan-ajakan yang melibatkan kekerasan untuk menyerang komunitas tertentu. Sebab, Islam adalah agama yang damai, agama yang mengajarkan toleransi pada setiap perbedaan yang ada.

Dilansir dari NU Online, berikut kami merangkum penjelasan apa itu syiah dan bagaimana hukum dan pandangan dalam Islam, bisa disimak.

Sejarah Aliran-Aliran Islam

Memahami apa itu syiah dalam Islam, bisa dimulai dari sejarah pada zaman Rasulullah. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, perbedaan pandangan memang sudah menjadi hal yang lumrah ditemui. Namun, perbedaan pandangan ini bisa langsung dikonsultasikan kepada Nabi Muhammad, sebagai utusan Allah.

ilustrasi berdoa

© pexels.com/Timur Weber

Masalah perbedaan pandangan menjadi lebih rumit, setelah Nabi Muhammad wafat. Sepeninggal Rasulullah, umat muslim tidak memiliki lagi sumber akurat yang dapat dirujuk ketika terjadi berbagai masalah di kehidupan. Hal inilah kemudian membentuk aliran-aliran tentang penafsiran syariat Islam yang semakin beragam. Banyak mahzab bahkan submahzab berkembang.

Perpecahan ini semakin menjadi masalah serius, ketika terjadi perang Shiffin antara halifah Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Syam Muawiyah, yang tidak mau tunduk kepada kepemimpinan khalifah Ali di Madinah. Dalam pertempuran tersebut, Muawiyah hampir kalah namun kemudian mru bin Ash mengangkat Alquran di atas tombak untuk menghentikan pertempuran dan maju ke perundingan.

Kemudian, dalam perundingan tersebut pihak Ali justru dirugikan. Imbasnya, orang-orang yang tidak mau mengikuti perundingan memisahkan diri yang selanjutnya disebut sebagai kelompok Khawarij. Kelompok Khawarij berpendapat bahwa orang-orang yang mengikuti perundingan wajib dibunuh karena tidak menggunakan hukum Allah.

Kelompok Khawarij merupakan orang-orang yang taat beribadah, namun mereka sangat tekstualis dalam memaknai dalil-dalil agama. Khalifah Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh pengikut Khawarij Abdurrahman bin Muljam.

Padahal kelompok ini adalah para penghafal Alquran, rajin melaksanakan shalat tahajud, dan berpuasa. Dari sejarah tersebut, kelompok yang serupa dengan Khawarij ini tetap ada, yaitu kelompok yang mudah mengkafirkan orang-orang di luar kelompoknya.

Perpecahan di awal periode Islam, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari perbedaan politik, termasuk munculnya syiah yang beranggapan bahwa yang berkah menjadi penerus Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib.

Ini kemudian memunculkan pertentangan di masyarakat, hingga terbentuk doktrin-doktrin agama karena perbedaan rujukan. Dalam hal ini, kelompok syiah mengakui hadist-hadist diriwayatkan oleh selain Ahlul Bait atau keluarga Nabi. Syiah sendiri kemudian terbagi-bagi dalam Syiah Ghulat, Zaidiyah, Ismailiyah, dan Itsna asyariyah.

Syiah adalah Saudara

Setelah dijelaskan sejarah zaman Nabi, Anda bisa lebih memahami apa itu syiah dan bagaimana asal usulnya. Bahwa perbedaan pandangan telah ada sejak zaman Rasulullah, yang kemudian semakin rumit ketika Rasulullah yang berperan sebagai sumber rujukan umat muslim, wafat.

Perbedaan pandangan itu, kemudian menghasilkan berbagai mahzab dengan metode penafsiran syariat agama yang berbeda-beda. Salah satunya syiah. Perkembangan mahzab atau aliran ini pun masuk ke Indonesia dengan berbagai macam cara. Sayangnya, masuknya mahzab ini menyebabkan berbagai pertentangan yang melibatkan kekerasan pada kelompok tersebut.

Dalam hal ini, ulama Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, mengimbau umat Islam untuk tetap bersaudara dengan umat Islam golongan syiah. Dikatakan, bahwa sunni dan syiah adalah saudara bagi umat muslim.

Islam pun memiliki definisi yang jelas, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, berpuasa, berzakat, dan beribadah haji bagi yang mampu. Orang yang melakukan lima rukun pokok ini maka dia adalah orang muslim. Kecuali mereka yang mendustakannya.

Dijelaskan pula, bahwa tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kelompok syiah keluar dari Islam. Bahkan banyak ajaran syiah yang satu pemahaman dengan sunni. Hal yang membedakan hanya terletak pada masalah imamiah. Pada kitab-kitab syiah yang lama juga secara umum kelompok ini menghormati para sahabat nabi.

Dengan begitu, dianjurkan bagi umat Islam untuk tetap menjaga kerukunan sesama umat muslim. Meskipun banyak perbedaan pandangan, toleransi menjadi kunci utama untuk tetap menjaga perdamaian. Dengan toleransi, maka tidak ada tindak kekerasan yang merugikan salah satu pihak, yang akhirnya hanya menambah tensi sesama umat Islam.

(mdk/ayi)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP