Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Akibat Tak Pernah "Srawung", Pakar UGM Ungkap Penyebab Penculikan Anak

Akibat Tak Pernah Ilustrasi Penculikan. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock

Merdeka.com - Belakangan ini marak penculikan terhadap anak. Kondisi ini begitu meresahkan masyarakat. Bahkan berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah korban penculikan anak selama Januari hingga Februari 2023 telah mencapai 14 orang.

Fenomena ini mendapat perhatian serius dari banyak pihak, salah satunya Sosiolog UGM, Wahyu Kustiningsih. Menurutnya, penting bagi orang tua untuk mengajak anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

“Orang tua sebaiknya membangun relasi sosial ke sekitarnya. Srawung (berinteraksi) ke sekitarnya supaya masyarakat sekitar juga tahu ini siapa, anaknya siapa. Dengan begitu lingkungan bisa ikut mengontrol jika ada penyimpangan perilaku sosial termasuk penculikan,” kata Wahyu dikutip dari Liputan6.com pada Kamis (23/2).Berikut selengkapnya:

Masyarakat Tidak Aware

ilustrasi penculikan

©2013 Merdeka.com/Shutterstock

Wahyu mengatakan, hadirnya teknologi membuat relasi dan ikatan sosial di tengah masyarakat mengalami perubahan. Apalagi penculikan ini marak terjadi di daerah urban dengan karakteristik masyarakat yang lebih beragam dan memiliki mobilitas yang tinggi.

“Melihat kasus penculikan di Jakarta yang merupakan wilayah urban, banyak pendatang, ini bisa terjadi karena masyarakatnya tidak aware. Mereka tidak saling mengenal. Kalau tinggal di desa atau wilayah yang masyarakatnya sangat komunal tentunya akan berbeda,” ujar Wahyu.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa media sosial yang sering menayangkan informasi penculikan terhadap anak menyebabkan ketakutan di tengah masyarakat, walaupun sebenarnya hal tersebut bisa menjadi bahan refleksi bagi masyarakat agar lebih waspada.

Peran Sekolah

002 ovan zaihnudin

©2016 Merdeka.com

Wahyu menambahkan, sekolah juga memiliki peran dalam pengawasan dan berani menjamin keamanan anak di lingkungan sekolah. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan aturan penjemputan saat pulang. Dalam hal ini pihak sekolah hanya mengizinkan anak dijemput oleh orang tua.

“Soal sekolah ini punya keamanan bagus atau tidak itu masih ada kesenjangan. Karena itu pemerintah perlu memperhatikan sekolah mana yang butuh bantuan ekstra untuk mengembangkan sistem pendidikan dan keamanan bagi siswa-siswanya,” kata Wahyu.

Di luar itu Wahyu menegaskan bahwa pencegahan terhadap penculikan anak tak hanya dilakukan orang tua maupun sekolah, namun juga semua pihak seperti masyarakat, para akademisi, dan juga pemerintah.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP