Malam ini, Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta Pusat terbilang padat. Kepadatan terjadi baik di ruas jalan menuju PRJ Kemayoran hingga di dalam arena event penyelenggaraan.
Salah satu pengunjung, Alisa mengatakan butuh waktu 3 jam baginya untuk mendapatkan parkir.
"Aku cari parkir 3 jam lho," ungkap Alisa kepada merdeka.com, Senin (26/6).
Pengunjung lainnya, Sisca mengaku membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam menggunakan TransJakarta dari Gedung Balai Kota DKI Jakarta.
"Aku 3 jam naik TransJakarta tadi dari Balai Kota. Ini baru sampai," keluh Sisca.
Untuk diketahui, salah satu cara menghindari terjebak kemacetan adalah menggunakan transportasi umum. Yakni dengan TransJakarta.
Transjakarta sendiri menyediakan rute khusus untuk melayani penumpang ke JiExpo. Rute tersebut adalah 2C yang melayani dari Balaikota-JIExpo dan PRJ1 dari PGC 1-JiExpo.
Lalu, rute ketiga adalah PRJ2 dari Matraman Baru-JIExpo Kemayoran dan rute PRJ3 Pulo Gadung 1-JIExpo.
Advertisement
merdeka.com akhirnya mencoba salah satu rute tersebut pada Senin (26/6). Sesuai jadwal, bus Transjakarta akan siap melayani pada pukul 15.00 Wib dari Balaikota.
Sayangnya, perjalanan yang dirasakan sungguh semrawut. Tak diharapkan, Halte Balaikota ditutup karena ada aksi penyampaian pendapat di sekitar Patung Kuda. Pihak Transjakarta juga tak melakukan perubahan layanan bagi penumpang yang ingin pergi ke PRJ.
Salah satu pramusapa yang bertugas menyarankan untuk menggunakan bus 1P dari Halte IRTI dan turun di Budi Utomo. Saat jarum jam menunjukkan pukul 15.20, bus 1P baru tiba di halte.
"Turun di Halte Budi Utomo?" tanya merdeka.com.
Advertisement
Pertanyaan tersebut dilontarkan dengan penuh keheranan. Sebab, mengacu pada peta rute, 1P tidak melayani sampai Budi Utomo. Namun, sang petugas meminta untuk naik ke dalam bus terlebih dahulu.
Akhirnya bus melaju dengan rasa kebingungan di hati. Sang petugas pun berbicara ke sopir untuk berhenti agak lama di halte selanjutnya, Gambir II, untuk bertanya di sana.
Bus pun tiba di Gambir II. Benar saja, pintu terbuka lebih lama dan petugas lari ke dalam halte untuk bertanya. Sampai akhirnya dia masuk lagi ke dalam bus.
"Yang mau ke PRJ, turun ya di Gambir I. Naik bus nomor 2 sampai Pecenongan," teriaknya memberi pengumuman.
Akhirnya, merdeka.com turun di halte yang dimaksud. Namun ternyata, perlu berjalan sekitar 100 meter untuk bisa naik bus nomor 2 itu.
Advertisement
Sesampainya di halte yang dituju, petugas memberi arahan yang berbeda. Penumpang yang ingin ke PRJ diminta turun di Halte Juanda dan di sana akan tersedia bus yang langsung menuju ke JiExpo.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.37 Wib dan bus nomor 2 akhirnya tiba. Tanpa ragu, merdeka.com masuk ke dalam dan turun di Juanda.
Selama delapan menit perjalanan, akhirnya bus tiba di Juanda. Lagi dan lagi, menunggu menjadi kunci utama saat menggunakan transportasi umum.
Dalam dua menit, terdapat bus 5C Juanda-PGC 2 yang tiba. Petugas di dalam bus keluar dan teriak.
"Yang mau ke PRJ naik ya. Turun di Budi Utomo. Lama kalau di sini karena bus yang ke sini lagi dicari. Bus adanya di Budi Utomo," teriaknya.
Kembali heran, merdeka.com pun akhirnya mengikuti arahan tersebut. Pukul 13.56 Wib, bus baru tiba di Halte Budi Utomo.
Kondisi halte penuh dan sesak. Hampir semua ingin ke PRJ. Namun, penantian perjalanan merdeka.com tak kunjung berakhir. Masih ada satu bus ke PRJ yang harus ditunggu.
Setiap bus yang lewat, orang-orang selalu mengintip apakah angkutan tersebut melayani ke PRJ. Sayangnya, bus baru tiba pukul 16.20 Wib. Itu pun tak berbuah manis karena bus penuh.
Bus PRJ pun melaju dengan membawa dua penumpang yang nekat memaksa masuk. Sisanya, dengan semangat yang ada masih mencoba menunggu.
Hingga beberapa menit kemudian, satu per satu mulai menyerah. Salah satu rombongan keluarga dari Bekasi akhirnya memutuskan keluar dan melanjutkan perjalanan dengan ojek mobil. Salah satu pasangan di sana juga akhirnya mundur dan memesan ojek.
Tak ingin menyerah, merdeka.com masih bertahan menunggu. Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 16.30 Wib. Nahas, bus kembali penuh.
"Please full enggak bisa masuk. Olease enggak bisa," teriak salah satu penumpang dari dalam bus.
"Jangan dipaksa, jangan dipaksa nanti kejepit ya," kata petugas di halte.
Bus itu pun akhirnya melaju dan tak bisa mengangkut satu pun penumpang di Budi Utomo.
Secara total, merdeka.com sudah berdiri lebih dari satu jam di Halte Budi Utomo sampai akhirnya bus ketiga tiba di pukul 17.08 Wib.
Meskipun mendapatkan bus, kondisi di dalam pun penuh layaknya di Stasiun Manggarai. Perjalanan pun tak indah seperti yang diharapkan. Kondisi lalu lintas macet.
Singkat cerita, merdeka.com berhasil masuk ke PRJ pada pukul 18.00 Wib. Maka dari itu, perjalanan yang ditempuh memakan waktu tiga jam dengan tarif Rp7.000 dari Balaikota.
Pengguna kendaraan pribadi pun tak bisa tersenyum lega. DNT, inisial namanya, merupakan perantau yang baru tinggal tujuh tahun di Jakarta.
Tahun ini, merupakan pengalaman pertamanya ke PRJ. Penasaran menjadi alasan utama ia memutuskan pergi ke acara pameran ini.
Sayangnya, pengalaman pertama ini tak begitu menyenangkan baginya. "Hasilnya gue kapok ke PRJ," katanya.
Salah satu alasan yang membuatnya kapok adalah persoalan parkir. Menurutnya, penyelenggara tak memberikan petunjuk yang jelas untuk menuju tempat parkir.
"Dengan demand setinggi itu buat ke PRJ, ekspektasi gue panitia kasih lah petunjuk yang proper. Well is okay kalo parkir resmi kasih info misal all parking area full gitu ya," ceritanya.
Akibatnya, ia menilai para pengunjung harus parkir liar di badan jalan yang dijaga para preman sekitar.
"Ini tuh banyak orang kena parkir liar karena enggak punya pilihan. Bahkan papan-papan sign banyak dibuat sama preman yang ngarahin pengunjung ke parkir liar," tambahnya.
DNT akhirnya memutuskan parkir di lokasi seadanya. Ia menemukan tempat yang teduh dan tak dijaga preman.
"Lokasinya gokil banget. Teduh ada pohon-pohon jadi mobil enggak kepanasan. Baru pulangnya ada preman. Ujug-ujug saja dia nongkrongin sama narik duit, tapi yaudah lah. Di-charge Rp25.000 coy," ucapnya.
Pihak kepolisian pun mengaku bahwa acara ini terkendala fasilitas parkir. Mereka pun tak mungkin melarang pengunjung untuk datang.
"Karena kalau kita lihat ibu kota ini kalau ada event ya, kita selalu terkendala sama kantong parkir, termasuk sekelas GBK sekali pun kesulitan kita masalah kantong parkir. Sementara antusias masyarakat setelah pandemi yang begitu membeludak, begitu ramai, nah itu juga menjadi perhatian kita bersama," kata Komarudin saat dihubungi, Senin (26/6).
"Parkir itu ada di badan jalan, karena memang ya kita enggak mungkin melarang orang ataupun membatasi orang. Misalnya di PRJ kantong parkir cuma 1.000, jadi cuma 1.000 yang boleh datang kan enggak bisa juga," bebernya.
Komarudin juga mengimbau para pengunjung PRJ untuk memanfaatkan kendaraan umum guna menghindari kelebihan kendaraan.