Sisi Lain Citayam Fashion Week

Berharap rezeki jika diundang menjadi talent bagi para content creator. Kemudian viral dan pundi-pundi rupiah mengalir. Seperti dialami remaja ikonik viral Jeje 'Slebew', Bonge, Roy, Kurma, Nadia, Tegar.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Sisi Lain Citayam Fashion Week
Remaja di Citayam Fashion Week. Yunita Amalia

Ruang terbuka publik di Jakarta, menjadi oase para kaum pinggiran untuk menikmati estetika kota yang tidak mereka temukan di sekitar tempat tinggal. Salah satunya kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Fenomena itu dikenal dengan nama Citayam Fashion Week.

Siang itu, di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, sejumlah warga asyik duduk-duduk di pinggir trotoar. Warga yang didominasi para remaja itu berbondong-bondong mendatangi kawasan Dukuh Atas.

Berharap rezeki jika diundang menjadi talent bagi para content creator. Kemudian viral dan pundi-pundi rupiah mengalir. Seperti dialami remaja ikonik viral Jeje 'Slebew', Bonge, Roy, Kurma, Nadia, Tegar.

Kokohnya gedung-gedung di kawasan Dukuh Atas rupanya menjadi ladang cuan bagi para kaum remaja tersebut. Namun di sisi lain, terselip sisi gelap dari tren aktivitas di Dukuh Atas, yang belakangan dikenal dengan Citayam Fashion Week.

Sanu (16), beberapa kali menginap di fasilitas publik di sekitar kawasan Dukuh Atas karena tak ada ongkos pulang ke rumahnya di Cikampek, Jawa Barat.

"Tidur di sini (tempat duduk di sepanjang trotoar) kehabisan ongkos, hari itu enggak dapat uang," kata Sanu saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (27/7).

Dalam satu hari, ongkos yang dikeluarkan Sanu hampir Rp100.000. Nilai tersebut mencakup biaya kereta lokal Cikampek-Cikarang-Cikampek Rp50.000, KRL Cikarang-Sudirman-Cikarang Rp15.000, sisanya untuk ongkos makan atau jajan.

Sanu mendapatkan uang bukan dari orang tua. Sebagaimana menjadi 'profesi' remaja pinggiran yang berada di kawasan Dukuh Atas saat ini, menjadi talent para content creator adalah pekerjaan mereka saat ini.

"Diminta buat konten untuk endorse, ya kita dapat uang kadang dapat produknya," cerita Sanu.

Ibu dari Sanu mengetahui jika sang anak kerap menghabiskan waktu di Dukuh Atas usai sepulang sekolah. Sanu dan teman-temannya berkumpul di Dukuh Atas sekitar pukul 3 atau 4 sore. Pesan sang ibu kepada Sanu, jaga diri, tidak mencopet. Pesan itu jadi pedoman Sanu berjibaku di kawasan Dukuh Atas.

Hal senada dikatakan Bintang. Dia merasa senang dengan fenomena Citayam Fashion Week di Dukuh Atas. Semakin banyak para content creator atau bahkan artis-artis ibu kota mengundang mereka untuk join pada pembuatan konten, banyak pula pundi atau barang yang mereka peroleh.

Bergelimang rupiah meski tak mencapai jutaan, sudah dirasa cukup bagi mereka untuk menyambung hidup. Tak ada kekhawatiran terhadap masa depan, meski pendidikan tak menjadi prioritas. Meski tidur di sepanjang sisi-sisi jalan Dukuh Atas menjadi konsekuensi mereka jika tak ada uang untuk kembali pulang.

Febri melontarkan celetuknya "Hidup kan pilihan yah, takdir juga, ya nikmati saja enggak usah dibuat pusing."

Popularitas dan kebebasan di kawasan Dukuh Atas menjadi prioritas kaum remaja saat ini. Tak ada yang khawatir dengan masa depan jika mereka tak memiliki latar belakang bidang akademi.

Seperti Adit (15) dan Febri (15) remaja asal Jakarta Barat dan Citayam itu merupakan 'ade-adean' dari Sanu. Adit memutuskan untuk berhenti sekolah. Alasannya cukup membuat kalian mengerutkan dahi. Keduanya capek dengan rutinitas sekolah.

Orangtua Adit ataupun Febri yang tidak memiliki latar belakang pendidikan mumpuni pun tak bisa berbuat banyak.

"Keasyikan main warnet, terus kayaknya enggak mau lanjut (sekolah) juga sih, capek gitu belajar mulu," ujar Adit dengan gaya berambut sedikit bergelombang berwarna cokelat pirang itu

Kendati begitu, Adit mempunyai cita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sama seperti Sanu, uang didapatkan Adit dan Febri untuk berkegiatan di Dukuh Atas, menjadi talent para content creator.

Bermodalkan Rp100.000 untuk setiap ajakan membuat konten, bagi Adit itu cukup mengganti masa-masa putus sekolah. Sedangkan Bintang, teman main Sanu, Adit Febri, mendapatkan uang dari hasil mengamen.

Rekomendasi