Mengerikannya' makam di Jakarta, ada nisan tak berpenghuni

Masalah lainnya yang sering terjadi terkait pengelolaan makam adalah maraknya pungli untuk mendapatkan liang lahat.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Mengerikannya' makam di Jakarta, ada nisan tak berpenghuni
Perawat makam di TPU Utan Kayu. ©2013merdeka.com/m. luthfi rahman

Buruknya pengelolaan tempat pemakaman umum (TPU) di Jakarta bukan cerita baru lagi. Masih saja ada tangan-tangan nakal mempermainkan tempat peristirahatan terakhir tersebut.Saking kacaunya pengelolaan makam-makam di Jakarta, sampai melahirkan istilah 'mahalnya mati di Jakarta'. Mahal karena keluarga si jenazah harus merogoh kocek dalam-dalam agar mendapat liang lahat berukuran 1x2 dengan posisi terbaik untuk anggota keluarga yang telah tiada. Padahal, duka masih menyelimuti mereka yang ditinggalkan.Kasus jual beli liang hanyalah satu dari sederet permasalahan makam di Jakarta. Banyak petugas makam memanfaatkan kedukaan keluarga untuk meraup untung.Mengikuti pada aturannya, biaya pemakaman berkisar Rp 100.000. Sedangkan untuk yang termurah Rp 40.000. Biaya makam itu meliputi penggalian sampai proses pemakaman dan penguburan serta perawatan. Namun faktanya, biaya yang harus dibayarkan pihak keluarga lebih banyak. Bahkan untuk mendapatkan posisi liang lahat yang sesuai keinginan ada lagi tarif yang dibebankan.

Pada April lalu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menemukan sendiri praktik pungli makam nyatanya memang masih marak. Dalam laporan yang dia terima, Kepala Taman Pemakaman Umum (TPU) di Petamburan melakukan pungutan liar. Hal itu diketahui setelah sejumlah PNS menyamar menjadi warga.Dalam penyamaran itu, PNS sempat merekam suara kepala TPU yang secara terang-terangan meminta uang. Kepala TPU meminta uang untuk kebutuhan cicilan mobil tiga bulan dan angsuran rumahnya selama dua bulan.Rekaman suara kepala TPU saat melakukan pungli kemudian diperdengarkan di ruang rapat oleh Ahok."Saya sudah bilang berkali-kali ke Dinas Taman, tempat pemakaman umum itu masih banyak pungli. Dinas Taman bilang tidak ada, sampai saya sodorkan rekaman suara," kata Ahok dengan suara kencang hingga membuat suasana rapat tegang.Kemarin, Ahok kembali mendapatkan laporan soal buruknya pengelolaan makam di sejumlah TPU. Laporan yang dia terima, ada PNS membuat makam fiktif. Maksud dari makam fiktif, yakni dipasangi batu nisan padahal di dalam tanah belum tentu ada jenazah."Banyak sekali makam yang fiktif-fiktif. 'Dicup' dulu tahu enggak," kata Ahok, geram.Jika warga ingin memakamkan dengan tarif sesuai aturan, oknum PNS itu akan memberitahu tidak ada lahan kosong. Kecuali, bagi mereka yang bersedia membayar lebih, akan langsung diarahkan ke lahan kosong itu."Jadi ada batu nisan yang belum pasti itu ada isinya. Makanya kalau ada yang nyogok, ditaruh di depan," jelas Ahok.

Ahok mengaku sudah menanyakan berbagai masalah pengelolaan ke Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI, Ratna Diah Kurniati. Sebenarnya dia ingin agar Ratna membuat sistem informasi untuk memastikan petak tanah diisi oleh jenazah yang namanya sesuai dengan yang tertulis dibatu nisan."Kita sekarang mau petakan. Nanti kelihatan, siapa yang minta (memesan lahan makam). Kita juga lagi pikirkan, bagaimana cara membaca (mengidentifikasi jenazah di tiap makam)," tegas mantan politisi Gerindra ini.Ratna sebenarnya sudah beberapa kali memperingati Ratna. Dia pun mengancam akan memecat Ratna jika tak bisa menindak anak buahnya yang melakukan pungutan liar (Pungli)."Kita terus nuduh ibu, tapi ibu terus bilang enggak ada. Itu yang selalu saya bilang di taman ini malingnya gila-gilaan, tapi selalu disangkal enggak ada," tandas Ahok.

Rekomendasi