Pendiri LBH Apik Nur Sabbani memaparkan kronologis kejadian kaburnya Toipah dari rumah anggota DPR Komisi IV Fanny Safriansyah atau Ivan Haz. Pada, 30 September Toipah berhasil menyelamatkan diri dengan melompat pagar. Setelah itu Toipah lari ke Stasiun Karet.
Toipah bertemu aktivis LBH Apik dalam kondisi ketakutan. Korban ditemukan di dalam kereta gerbong perempuan sedang menangis.
"Dia (Toipah) hanya membawa satu potong pakaian, sambil teriak minta minta ketemu mamahnya dan tidak mau kembali lagi ketempat itu," kata Nur di kantor LBH Apik, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (5/10).
Selama bekerja, kata dia, barang-barang Toipah seperti telepon genggam, KTP, dan dompet disita Ivan Haz. Sehingga Toipah tidak memiliki akses ke luar.
Dia menuturkan, Toipah mengalami robek di bagian kepala hingga harus dijahit. Toipah juga harus menerima kekerasan psikis berupa ancaman. Menurutnya, Ivan Haz mengancam menghabisi korban beserta seluruh keluarga jika berani meninggalkan apartemen.
"Akibat ancaman itu Toipah mengalami trauma dan ketakutan," paparnya.
Toipah tidak hanya mengalami kekerasan fisik dan psikis, dia juga ditelantarkan dan hanya diberi makan satu kali dalam sehari. Gaji Toipah sebesar Rp 2,2 juta/bulan belum dibayarkan dua bulan terakhir. Kasus ini sudah dilaporkan secara resmi ke Polda Metro Jaya pada tanggal 30 September 2015.
Sebelumnya, Ivan membantah melakukan penganiayaan. Menurut dia, luka yang diderita oleh baby sitter itu karena mencoba kabur dan melompat dari pagar rumah yang tinggi.
Ivan menjelaskan, memang sang baby sitter sempat dimarahi karena dianggap kerja tidak sesuai dengan keinginan. Setelah dimarahi, kemudian baby sitter tersebut mencoba kabur dengan melompat pagar dan terjatuh.
"Nah, pas ada kejadian, istri saya marah, malah dia kabur lewat pagar atas yang tinggi. Dia jatuh, luka, dia bilang dianiaya. Kalau luka di kuping bisa bisul pecah. Saya tahu saya siapa, apalagi orangtua saya juga baik-baik," kata Ivan saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (2/10).