Polisi usul alarm di minimarket pakai suara perempuan

Suara teriakan perempuan minta tolong, diyakini bisa menarik perhatian warga sekitar untuk mendatangi lokasi.

Henny Rachma Sari
Oleh Henny Rachma Sari - Reporter
Polisi usul alarm di minimarket pakai suara perempuan
geng motor sunter. ©2012 Merdeka.com

Fenomena rampok yang mengincar minimarket kembali terjadi. Hal tersebut cukup membuat para pengusaha ritel khawatir dengan kelangsungan usahanya. Sebagai langkah antisipasi, konsep panic button pun disiapkan sejak setengah tahun lalu.Namun, karena mengalami berbagai kendala pelaksanaan uji coba pun kerap molor dari waktu yang ditentukan. Hingga akhirnya diputuskan untuk melaksanakan uji coba pada minggu kedua di bulan Oktober 2012 mendatang.Berbagai ide pun muncul terkait konsep yang akan diterapkan. Salah satunya dari pihak kepolisian. Polisi menilai, jika suara alarm berbunyi sirine maka, hal tersebut akan terdengar sebagai bunyi alarm jam waker biasa."Kalau alarm biasa disangkanya bunyi biasa. Tapi kalau ada suara teriakan perempuan minta tolong, tentu warga sekitar akan langsung mendatangi lokasi," imbuh Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Toni Harmanto saat dihubungi, Jumat (28/9).Dikatakan Toni, pihaknya meminta para pengusaha menyediakan alarm jenis itu di setiap minimarket miliknya. Ia pun menilai akan lebih baik jika alarm itu bisa tersambung dengan kantor kepolisian terdekat."Lebih baik lagi kalau tersambung ke polisi, jadi begitu ada kejadian polisi bisa langsung mendatangi lokasi dan melakukan upaya represif terhadap pelaku perampokan," tuturnya lagi.Sementara itu, ketika dihubungi terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, menyatakan pihaknya siap mewujudkan konsep itu. Ia melihat aksi perampokan minimarket kini sudah mulai meresahkan karena modusnya yang beragam dan hampir tersebar di semua kawasan.Namun, Tutum mengakui para pengusaha tidak bisa serta merta menyediakan alat tersebut secara menyeluruh di setiap minimarket. "Kami akan pilih secara selektif yang kiranya memang rawan sekali untuk uji coba dipasang itu," ucapnya.Pengadaan panic button ini juga nantinya akan menggunakan biaya para pengusaha itu sendiri. Sehingga, para pengusaha masih perlu waktu untuk melakukan berbagai pertimbangan.Lebih lanjut, Toni mengatakan bahwa dalam rentang waktu tahun 2011 hingga September 2012, minimarket Alfamart menjadi sasaran empuk para pelaku. Jumlahnya mencapai 80 persen dari aksi perampokan minimarket yang ada di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.Kepolisian pun telah menangkap lima orang tersangka komplotan perampok minimarket. Mereka telah beraksi di lebih dari 20 minimarket. "Kami minta agar semua pihak berpartisipasi, terutama dari para pengusaha agar memiliki kesadaran akan keamanan minimarketnya sendiri," pungkas Toni.

Rekomendasi